
Sebagai wilayah pesisir, Kota Semarang menjadi pintu masuk sekaligus titik temu bagi para pedagang untuk masuk ke Pulau Jawa. Bukti sejarahnya dapat disaksikan dengan keberadaan Kampung Melayu dan Pecinan yang ada di Kota Lama Semarang. Pertemuan kedua budaya tersebut melahirkan akulturasi yang terasa hingga ke kulinernya, salah satunya adalah lumpia.
Makanan berbentuk memanjang seperti gulungan dengan isian berupa rebung, telur, ayam atau udang yang sering dijenal dengan nama lumpia. Namun lebih sekedar makanan, lumpia menyimpan jejak akulturasi yang menjembatani dua budaya berbeda.
Peran penting kuliner Semarang tersebut mampu mengantarkan lumpia sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2014. Penetapan tersebut semakin memperkuat posisi lumpia sebagai warisan yang kaya akan nilai, filosofis dan makna sosial yang mendalam.
Lahir dari Cinta
Sejarah lumpia dimulai dari kisah asmara antara dua insan dengan latar belakang budaya yang berbeda. Kisahnya bermula dari pertemuan seorang diaspora asal Fujian, China yang bernama Tjoa Thay Joe dengan wanita bernama Wasih, seorang pedagang lokal.
Keduanya merupakan penjual makan ringan di Olympia Park, sebuah pasar malam Belanda yang kala itu menjadi pusat perdagangan di Kota Semarang. Ketika itu, Tjoa Thay Yoe menjajakan jajanan khas China sejenis martabak berisi rebung dicampur daging babi yang digulung dengan rasa asin.
Sementara itu, Wasih juga menyajikan makanan serupa, namun ia lebih diminati masyarakat. Perbedaannya terletak pada komposisi olahan, Wasih mengisinya dengan campuran ayam cincang, udang dan telur dengan rasa yang dominan manis.
Hal tersebut menimbulkan rasa penasaran pada Tjoa Thay Yoe. Kemudian ia bertanya dan mengamati cara Wasih dalam mengolah makanan baik segi rasa, bahan, maupun cara penyajian. Rasa ingin tahu tersebut menjadi awal interaksi antara keduanya. Sehingga yang tumbuh bukan persaingan, namun kisah asmara hingga mengantarkan pada jenjang pernikahan.
Dari pernikahan ini, mereka menggabungkan usaha dan mencoba membuat hidangan baru yang dapat diterima oleh banyak orang. Mereka berkreasi dengan menghilangkan isian babi dan menggantinya dengan ayam atau udang, dengan tetap mempertahankan rebung sebagai isian utamanya.
Modifikasi makanan yang mereka lakukan berhasil. Masakan mereka diterima oleh masyarakat luas terutama warga beragama muslim yang menjadi mayoritas. Menjadikan lumpia sebagai kudapan yang merakyat karena dapat dinikmati oleh semua kalangan.
Harmoni Akulturasi dalam Rasa
Mengutip penelitian Indah Ela Susanti yang berjudul “Lumpia Semarang pada Masa Orde Baru”, lumpia menjadi simbol adaptasi dan perlawanan bagi etnis Tionghoa yang mengalami pembatasan ekspresi. Berbeda dengan perayaan atau pertunjukan lain seperti barongsai yang dibatasi, lumpia justru terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Keberadaan lumpia menjadi jembatan antara dua budaya yang berbeda. Melalui perpaduan antara teknik memasak Tionghoa dengan bahan cita rasa khas Jawa, lumpia melahirkan kudapan yang menembus perbedaan dan menyatukan harmoni indera perasa.
Pada akhirnya, lumpia bukan hanya sebatas kudapan. Lumpia menjadi saksi perjuangan yang menggambarkan keberanian inovasi dan harmoni. Berawal dari pertemuan dua kebudayaan yang berbeda, lalu berevolusi menjadi hidangan yang dapat diterima oleh semua masyarakat.
Penulis: Evelyn Atha Nasywa
Editor: Hikam


