
“Carilah kerja,” Tegur mereka setiap kali di sapa.
Seolah budak mengenakan kain katun bagai ikat kepala, tuk berkeringat di ladang.
Karna bebas terlalu ternoda, dari yang hidup seperti lintah murba.
Biarlah si Montok itu menjadi mimpi yang diimpikan para pemimpi, dan apa pun yang kau pilih, sebut saja mereka dengan antek-antek nasionalis.
Ya, biarlah Jawa menjadi Jawa lagi, dan lagi.
Dari wajah yang belum pernah ada, namun harus ada, untuk wajah setiap yang terbuka.
Sekali? Jawa tidak pernah menjadi wajah.
Tanah milikku, milik orang miskin, orang Sabang, orang Merauke, *orang kita?*
Yang membangun raut dengan keringat, darah, iman, dan penderitaannya.
Untuk siapa mengatakan mereka?
Untuk aku? Tentu bukan aku?
Lalu untuk apa jutaan orang makan bantuan.
Benarkah orang tidak mendapat apa pun untuk menulis berita, dan tersenyum mati saat kita melantunkan puisi.
Untuk semua mimpi yang telah kita impikan,
semua syair yang telah kita teriakan,
semua harapan yang telah kita pegang,
dan semua bendera yang telah kita kibarkan.
Jutaan orang tidak mendapat apa pun,
kecuali mimpi di siang bolong.
Dari banjir, pemerkosaan, kebusukan korupsi, dan tipu daya dari kebohongan.
Haruskah menebus tanah, tambang, pabrik, serta sungai,
Hanya untuk tersenyum kembali!
Semarang, 1 Mei 2026
Ahmad Kholilurrahman (Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki)


