
Amanat.id- Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo mengadakan Dialog Publik dengan tema “Antara Kosmetik Kehumasan dan Politisasi Isu: Menguji Objektivitas Duta Kampus dan Arah Kritik DEMA Universitas” melalui platform Google Meet, Jumat (24/04/2026).
Dialog publik tersebut diselenggarakan untuk menanggapi unggahan di akun instagram @demauinsmg dengan menguji validitas data, dasar argumentasi, dan motif kritik DEMA UIN Walisongo.
Wakil ketua DEMA UIN Walisongo, Yusuf Aditya Pratama menegaskan kritik Walisongo Campus Ambassador (WCA) ditujukan pada program, bukan individu.
“Kami mengkritik WCA sebagai sebuah program dari Humas UIN Walisongo Semarang, bukan sebagai identitas personal,” ujarnya.
Ia menyatakan ingin memastikan promosi kampus selaras dengan realitas yang dirasakan mahasiswa.
“Kami ingin memastikan bahwa promosi kampus yang elok selaras dengan realitas yang dirasakan mahasiswa di lapangan,” katanya.
Ia menjelaskan target kritiknya adalah rektorat yang meninggalkan kualitas infrastrukturnya.
“Kritik DEMA menyoroti rektorat atas kebijakan yang menutupi kekurangan, di tengah upaya kampus menjual citra baik lewat WCA sementara masih ada infrastruktur tak layak seperti robohnya ma’had,” paparnya.
pihaknya sepakat WCA berperan sebagai branding kampus dan hal itu tidak diperdebatkan.
“Kami sepakat bahwa WCA itu memang punya tugas sebagai branding kampus untuk mempromosikan kampus, dan kita tidak pernah berdebat di situ,” tuturnya.
Menteri Kajian, Aksi, dan Propaganda (Kaspro) DEMA UIN Walisongo, Salman Alfarizi menyampaikan permohonan maaf atas kajian yang memicu serangan personal, serta menekankan bahwa kritik ditujukan pada program WCA, bukan individu.
“Satu hal yang paling utama adalah permintaan maaf atas dasar kajian kami yang kemudian menimbulkan komentar yang menyerang secara personal. WCA yang kami kritisi adalah program, bukan personal,” ucapnya.
Perwakilan WCA, Rachel Aqila Hafsha Firmansyah menegaskan pihaknya tidak berorientasi pada materi serta tidak mendapatkan bayaran dalam bentuk apapun.
“WCA benar-benar no money oriented. Tidak dibayar, tidak dapat honor, dan tidak dapat uang dalam bentuk apa pun itu,” tegasnya.
Ia menilai penggunaan foto 20 anggota WCA angkatan 2024 pada slide pertama thumbnail merupakan kesalahan fatal.
“Pemilihan thumbnail feeds untuk yang slide pertama saya kira sangat fatal ya, karena kenapa harus menggunakan foto dari 20 WCA angkatan 2024?” sanggahnya.
Menurutnya, penggunaan foto dengan wajah yang di-blur memberikan kesan mereka adalah pelaku kejahatan.
“Kesannya kami adalah penjahat, dan memblur foto kami adalah hal yang kurang etis,” tambahnya.
Pembina WCA, Widi Cahya Adi mengakui penggunaan duta kampus sebagai strategi promosi visual guna menarik calon mahasiswa dengan menonjolkan sisi positif universitas.
“Kami memang mempromosikan kecantikan kampus untuk menarik minat mahasiswa baru. Namun, bukan berarti menutupi hal buruk, melainkan menonjolkan sisi positifnya,” akunya.
Ia menilai isu viral perlu dipastikan dampaknya ke pimpinan, meskipun birokrasi sudah merumuskan kebijakan baru terkait ma’had.
“Informasi yang viral ini perlu diukur dulu, apakah sudah sampai ke telinga pimpinan atau belum, karena sasarannya memang birokrasi. Tanpa postingan viral ini pun, birokrasi sudah menilai dan akan ada kebijakan baru tentang Ma’had karena pimpinan kita baru ganti,” jelasnya.
Widi menjelaskan birokrasi kampus telah melakukan evaluasi mandiri dan berencana mengeluarkan kebijakan baru mengenai ma’had.
“Birokrasi sebenarnya sudah melakukan penilaian tanpa harus menunggu postingan viral, dan saat ini kami tengah menyiapkan kebijakan baru terkait ma’had seiring adanya pergantian pimpinan,” pungkasnya.
Reporter: Firman Ade Rizqi
Editor: Romaito


