By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Retak Rekat Bangsa Karena Warga Negara
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Retak Rekat Bangsa Karena Warga Negara

Last updated: 25 April 2017 10:49 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 25 April 2017
Share
SHARE
Ilustrasi Dok. Google
“Warga negara adalah suatu hak untuk berpartisipasi secara utuh dalam berbagai pola struktur sosial, politik serta kehidupan kultural serta untuk dapat membantu menciptakan bentuk-bentuk yang selanjutnya dengan begitu maka memperbesar ide-ide,” demikian kata Graham Murdock.
Sebagai warga negara yang sah, tentu kita mempunyai hak-hak yang sama. Bahkan termasuk untuk (mengaku-ngaku) cinta dan bangga mejadi orang Indonesia. Sebagian orang akan menggunakan haknya untuk menyindir dan mengkritik, sebagian lagi menghardik, serta mengkafirkan, dan seterusnya. Semuanya diungkapkan sebagai ekspresi kecintaan serta kegemasan terhadap penyelenggara negeri ini sesuai kehendaknya sendiri-sendiri. Begitu banyak manusia munafik di negeri tercinta kita ini, berlindung dibalik jabatan dan kedok agama, lalu menghakimi sesamanya yang berbeda keyakinan dengannya. Sungguh mengerikan.
Dari peristiwa-peristiwa semacam itu saya sering berandai-andai, mencoba menciptakan kemungkinan lain dari kenyataan yang sebenarnya. seandainya saja kita bersama-sama menggunakan hak yang kita miliki untuk saling merawat keberagaman, mengelola kekayaan  sumber daya alam, dan atau melakukan tindakan-tindakan kecil sebagai wujud dari gagasan yang kita miliki, itu sangatlah akan lebih berguna. Sebab hal semacam itulah yang seharusnya kita lakukan, ketimbang melakukan sesutu yang berpotensi memecah belah keutuhan Negara Kesatuan Republik  Indonesia. Retak rekat Indonesia kita lah sebagai warga negara yang menentukan.
Janganlah sekali-kali kita mengatakan sudah melakukan perubahan, dengan hanya memiliki gagasan dan tumpukan ide. Selama itu tidak ada tindakan nyata, maka itu tidak lain hanyalah tumpukan sampah. Jangan pula mengatakan negeri ini sangatlah kaya, bertumpah ruah bahan mentah tambang emas, perak, tembaga, dan hasil pertanian, selama negeri ini tidak mampu mengolahnya menjadi barang yang bermanfaat, maka semua itu tak lebih hanyalah sebatas anggapan saja. Sebab yang “katanya” negeri ini begitu kaya, masih banyak masyarakatnya hidup miskin di atas tumpukan mineral tambang yang berlimpah itu.
Tapi itulah mental bangsa yang mengaku demokratis ini. Masih banyak orang-orang yang dibungkam karena suara-suara yang diteriakkannya. Masih banyak orang yang dibatasi perannya karena nama Tuhan yang dia sembah berbeda dengan Tuhan yang disembah oleh mayoritas orang. Negeri ini terlalu bangga dan nyaman dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Hingga kita lupa satu hal, kita musti merawat kekayaan (alam, budaya, ras, suku, agama)  yang kita miliki. 
Memang. Indonesia bukan Negara utopia, seperti yang diistilahkan Socrates,  tapi setidaknya penghuni negeri ini harus berhenti sombong, angkuh dan picik, serta percaya dengan ramalan, atau anggapan para ekonom. Seringkali mereka bersabda, katanya, negeri ini memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga di dunia setelah China dan India dan akan menjadi raksasa ekonomi dunia. Bagi saya, itu hanya karangan para elit politik saja, mencoba menenangkan masyarakat agar tidak cemas akan krisis global yang sedang menghantam dunia. 
Kemudian, dengan hak suara mereka dan kepercayaan diri yang berlebih, mereka berkata, Indonesia tidak akan terkena pengaruh dari krisis global yang sedang melanda dunia. Bukankah perekonomian kita sudah porak-poranda sejak awal, jauh sebelum krisis itu datang? Di negeri ini orang-orang miskin semakin bertambah dan orang-orang kaya menjadi “pelupa” kepada kehidupan sekitar.
Dan masih banyak kenyataan dan kesedihan yang lain. Semuanya menceritakan betapa mencemaskannya Negeri ini, banyak orang yang mengaku cinta dan bangga tapi setelahnya menjadi perampok di Negeri sendiri. Sekarang, begitu banyak penguasa mencoba menina bobokkan msyarakat dengan bermacam propaganda manis, dengan harapan masyarakat akan menerima ketidak adilan yang mereka dapatkan. Sepertinya ia tidak sadar, masyarakat acuh terhadap semua janji-janji palsu murahan dan sejenisnya, karena yang mereka inginkan hanyalah beras untuk dimakan dan rumah untuk ditinggali. Jadi berhentilah meniupkan janji-janji palsu, sebab masyarakat hanya memngharapkan penguasa yang mampu membawa kehidupannya lebih sejahtera.
Negeri ini sesungguhnya indah. Hanya saja manusi-manusianya sedang mengalami “sakit” yang tak kunjung sembuh. Dan satu hal yang mungkin tak banyak orang tau, saya sangat mencintai Negeri ini.
Hasan Tarowan
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum
UIN Walisongo Semarang
Membaca Buku sebagai Tradisi Intelektual
Pengaruh Kedekatan Psikologis Ayah-Anak Terhadap Kesehatan Mental Anak
Tidak Selamanya Ghibah itu Salah
Menjadi Mahasiswa Entrepreneur ala Rasulullah
Sabotase Diri: Toxic yang Tidak Kita Sadari
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Dua atlet PSHT raih medali perak dalam pomprov jateng
Profil UKM UIN WalisongoUIN WalisongoVaria Kampus

UKM PSHT Raih 2 Medali Perak dalam Ajang Pomprov Jateng

Redaksi SKM Amanat
11 September 2022
Yang Tumpah dalam Pendar
Dalam Rangka Edufest 2022, HMJ MPI Adakan Lomba Debat Nasional
Ini Alasan PPB UIN Walisongo Keluarkan Jadwal Khusus Ujian TOEFL-IMKA
Rektor UIN Walisongo Semarang Resmi Lepas 447 Wisudawan Hari Ini
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Retak Rekat Bangsa Karena Warga Negara
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Retak Rekat Bangsa Karena Warga Negara
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?