
Gawai sepertinya sudah tidak asing terdengar di telinga setiap orang. Rasanya tidak mungkin bila saat ini ada seseorang yang tidak tau apa itu gawai. Justru perangkat elektronik kecil itu sudah lumrah dimiliki semua orang. Seiring waktu gawai tidak hanya di miliki oleh orang dewasa. Sering kali kita mendapati anak-anak hingga remaja ikut menggunakan.
Namun, apakah kita pernah berpikir jika penggunaan gawai secara berlebihan memiliki dampak negatif pada diri kita? terkadang ketika kita menonton konten video pendek waktu tak terasa telah berlalu begitu saja. Tanpa disadari kebiasaan seperti ini dapat menyebabkan seseorang terkena pembusukan otak atau brainrot.
Menurut Oxford Word of The Year, brainrot menggambarakan penurunan kemampuan otak akibat terlalu sering mengkonsumsi konten daring yang tidak atau kurang berkualitas. Hal itulah yang membuat seseorang bisa merasa tidak bersemangat setelah bermain cukup lama di internet.
Konsep pembusukan otak pertama kali muncul tahun 1854 di dalam buku karya Henry David Thoreau. Dalam bukunya di jelaskan tentang pembusukan fungsi berpikir otak akibat terlalu banyak mengkonsumsi hal-hal dangkal dan tidak bermakna. Namun seiringnya zaman, istilah brainrot lebih banyak di pahami dari pada istilah pembusukan otak. Brainrot diartikan sebagai penurunan kinerja fungsi otak akibat mengkonsumsi konten-konten media sosial yang kurang berkualitas.
Kebiasaan menggulir konten video pendek secara terus-menerus atau doomscrolling meningkatkan seseorang terpapar brainrot. Konten semacam ini awalnya dibuat agar otak dapat mengeluarkan dopamin atau hormon yang memberi rasa senang. Namun, ketika seseorang menonton konten video pendek atau postingan hiburan yang bersifat sesaat secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan otak untuk berkonsentrasi pada hal-hal yang bermakna.
Mengutip laman Halodoc dijelaskan jika penggunaan media yang berlebihan dan kurangnya aktivitas sosial menjadi penyebab seseorang mengalami brainrot. Kebiasaan seperti ini dapat membebani otak kita dengan informasi yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti terkena gangguan mental dan fisik, interaksi sosial, kecemasan dan rasa putus asa.
Penelitian jurnal Brain Sciences menjelaskan jumlah waktu yang di habiskan oleh seseorang di depan layar setiap hari menjadi salah satu penyebab meningkatnya seseorang terpapar penyakit brainrot. Keadaan seperti ini yang cenderung membandingkan diri sendiri dengan orang, membuat sesesorang menjadi kesepian, bahkan cenderung mencari pelarian dengan mengahabiskan waktu untuk bermain game, ataupun menonton konten-konten receh di media sosial. Ketika seseorang telah terbiasa pada aktivitas seperti ini, dia akan merasakan gejala-gejala kerusakan otak seperti kurang fokus, gangguan kecemasan, depresi dan berkurangnya fungsi kognitif. Mengapa demikian?
Penelitian yang dilakukan Universitas Zheijang, China menyatakan jika seseorang yang cenderung menonton video pendek mengalami penurunan fungsi pada Prefontal Cortex. Bagian ini memiliki fungsi sebagai pengendali proses kognitif, pengambilan keputusan, dan menjaga agar otak tetap fokus. Karena jaringan saraf theta dalam Prefontal Cortex telah mengalami penurunan aktivitas. Menjadikan seseorang menjadi susah fokus, gangguan kecemasan, depresi.
Kemerosotan Fungsi Otak
Ketika otak terus-menerus menerima rangsangan dari tontonan video pendek, otak akan bekerja tanpa henti dan akhirnya menjadi lelah. Lelah yang dirasakan berbeda dengan kelelahan fisik di tubuh, melainkan kelelahan mental yang terjadi di otak di tandai dengan sulit fokus, mudah lupa, cepat marah, dan merasa tidak bersemangat meski tidak melakukan aktivitas berat. Kondisi ini akan semakin parah jika tidak diatasi dengan segera. Karena otak tanpa jeda tidak memiliki waktu untuk beristirahat mengakibatkan berpikir dan pengambilan keputusan dapat menurun.
Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan sering kali menjadikan seseorang depresi. Karena terlalu sering melihat postingan atau konten video yang berfokus pada standar kualitas kecantikan yang tidak realistis menyebabkan perasaan kurang percaya diri dan meragukan kemampuan diri sendiri. Sehingga, seseorang akan mudah terkena depresi dan mencoba menarik diri dari lingkungan sosial.
Walaupun dampak brainrot sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari, brainrot dapat diatasi dengan menumbuhkan rasa kesadaran diri dan upaya aktif untuk mengubah kebiasaan. Pembatasan dalam penggunaan media sosial juga berperan penting dalam mencegah seseorang terkena dampak brainrot. Menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga juga salah satu cara mencegah seseorang untuk terdampak brainrot.
Penulis: Muhammad Wildan Sururi
Editor: Hikam Abdillah


