
Amanat.id- Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. resmi menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Periode 2026-2030 yang resmi dilantik di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Sebagai rektor terpilih, Musahadi menegaskan pentingnya membangun harmoni untuk menghadapi tantangan persaingan dan kompetisi antar kampus yang semakin terbuka.
“Saya memiliki pandangan bahwa universitas harus membangun harmoni untuk mencapai kondusivitas kampus. Keragaman latar belakang dan kepentingan harus bisa duduk bersama membangun sinergi,” katanya saat diwawancarai Tim Amanat.id secara langsung, (14/3).
Musahadi menilai, tantangan perguruan tinggi saat ini menghadapi tingkat kompetitif dan persaingan yang besar.
“Tantangan universitas saat ini harus menghadapi persaingan yang cukup besar. Tingkat kompetitif perguruan tinggi di lingkup Semarang saja sudah luar biasa. Terdapat PTN-BH, universitas swasta, bahkan fakultas cabang UIN Walisongo yang dulu ada kini telah menjadi PTKIN yang setara,” ujarnya.
Jika kondusivitas kampus sudah tercapai, sambungnya, maka fokus berikutnya adalah menumbuhkan kreativitas dan inovasi di lingkungan akademik.
“Ketika kondusivitas tercapai maka fokus selanjutnya membuat program-program yang dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi. Karena dua hal tersebut yang menjadi pembeda sebuah universitas di era demokrasi pengetahuan saat ini,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa era demokrasi pengetahuan membuat akses informasi semakin terbuka luas. Jika sebelumnya informasi sulit diperoleh, kini siapa pun dapat mengakses berbagai pengetahuan secara mandiri melalui internet.
“Saat ini jika ingin mengetahui informasi apa pun bisa diakses kapan saja oleh siapa saja. Bahkan tidak hanya terkait urusan regional atau nasional, tetapi juga global bisa kita akses secara langsung,” terangnya.
Musahadi menambahkan, perkembangan teknologi digital juga ditopang oleh tiga pilar utama, yakni Internet of Things, Big Data, dan Artificial Intelligence yang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.
“Era serba cepat ini ditopang oleh 3 hal besar yaitu IoT, Big Data, dan Artificial Intelligence. Hal tersebut berdampak sangat disruptif yang membuat perubahan luar biasa sehingga menuntut individu untuk menyesuaikan diri agar tidak kehilangan eksistensi maupun relevansi,” katanya.
Menurutnya, di era revolusi digital saat ini perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya berperan hanya sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai tempat menumbuhkan karakter.
“Kalau kita hanya mentransfer informasi tanpa menumbuhkan kreativitas dan inovasi itu tidak masuk akal. Saat ini informasi bisa didapat tanpa masuk kelas karena banjirnya informasi. Maka kurikulum harus mampu menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan karakter mahasiswa,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada mahasiswa seperti kemampuan menganalisis, menghubungkan, hingga menemukan pengetahuan baru.
“Kalau keterampilan berpikir hanya mendengar dan memahami saja itu masih level rendah. Mahasiswa harus mampu menganalisis, menghubungkan, bahkan menemukan sesuatu yang baru atau disebut kemampuan Higher Order Thinking Skills,” jelasnya.
Menanggapi dinamika kepemimpinan Nizar Ali, Musahadi menilai kepemimpinan sebelumnya memberikan kontribusi penting bagi perkembangan universitas, meskipun masa jabatannya relatif singkat.
“Beliau punya pengalaman lintas sektor dan jaringan yang luas, sehingga banyak persoalan bisa dipetakan dengan baik dan dicarikan solusinya,” kata Musahadi.
Meski demikian ia mengakui masih ada sejumlah agenda yang perlu menjadi perhatian ke depan, di antaranya pengelolaan ma’had, infrastruktur akademik, dan rencana fakultas baru UIN Walisongo.
“Beberapa isu yang menjadi perhatian ke depan antara lain terkait pengelolaan ma’had yang hingga kini masih mencari formula ideal. Selain itu, penguatan infrastruktur akademik, khususnya fasilitas laboratorium di sejumlah fakultas, juga agenda fakultas baru untuk merespons perkembangan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja,” titahnya.
Musahadi juga menyoroti pengembangan Fakultas Kedokteran yang dinilai masih belum stabil karena harus diselesaikan secara bertahap.
“Kekurangan infrastruktur FK saat ini masih belum benar-benar settle karena banyaknya program sehingga masih dalam proses penataan. Hal tersebut harus diselesaikan secara bertahap,” sambungnya.
Selain aspek kelembagaan, perhatian juga ia berikan pada standar perguruan tinggi yang ditetapkan melalui sistem akreditasi dengan syarat komposisi tertentu dalam jabatan akademik.
“Distribusi kepangkatan dosen di UIN Walisongo masih perlu ditingkatkan, terutama dalam mendorong lebih banyak dosen mencapai jenjang tertentu. Karena sesuai aturan, perguruan tinggi yang terstandarisasi harus memiliki komposisi dosen yang ideal mulai dari guru besar, lektor kepala, hingga lektor,” jelasnya.
Musahadi menegaskan pentingnya akselerasi pengembangan institusi agar UIN Walisongo mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain.
“Kalau UIN Walisongo dikelola dengan cara biasa saja, kita akan kalah dalam kompetisi. Maka harus ada akselerasi, di antaranya dengan pemenuhan standar perguruan tinggi seperti peningkatan jumlah guru besar, dosen bergelar doktor, hingga penguatan infrastruktur akademik,” paparnya.
Di sisi lain, Musahadi menegaskan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari indikator akademik formal, tetapi juga dari dampak nyata bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak hanya mengejar indikator formal, tetapi juga diukur dari sejauh mana UIN Walisongo memberi kemaslahatan dan kebermanfaatan. Karena itu saya mendorong dosen dan mahasiswa untuk aktif terlibat menyelesaikan persoalan sosial masyarakat sesuai bidang keilmuan melalui kegiatan pengabdian,” ujarnya.
Musahadi menyampaikan pesan kepada mahasiswa untuk memaksimalkan pemanfaatan digital yang berorientasi global.
“Bangun network, jangan hanya di level lokal. Jadilah mahasiswa internasional dan bangun produktivitas akademik yang bisa dipasarkan secara global, karena kita bisa menjangkau apapun dari fasilitas digital yang ada saat ini,” pungkasnya.
Reporter: Azkiya Salsa Afiana



