By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Kereta Terakhir
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Kereta Terakhir, Cerpen Kereta Terakhir, Cerpen SKM Amanat, Cerpen Soeket Teki, Sastra Soeket Teki
Ilustrasi kepulangan (istockphoto.com).
CerpenSastra

Kereta Terakhir

Last updated: 13 November 2025 3:30 pm
Anindya Nazmi Khumaira
Published: 29 Agustus 2025
Share
SHARE
Kereta Terakhir, Cerpen Kereta Terakhir, Cerpen SKM Amanat, Cerpen Soeket Teki, Sastra Soeket Teki
Ilustrasi kepulangan (istockphoto.com).

Di antara keramaian dan kesibukan orang-orang di stasiun, Nala sedikit memelankan langkahnya, mencoba untuk menyesuaikan dirinya yang sedikit linglung. Semenjak tadi siang, rasa pusing tiba-tiba menyerangnya sewaktu ia hendak membuat kopi di kantor. Beberapa bulan belakangan ia memang sedikit merasa ada yang aneh dari tubuh munglinya. Namun ia  acuh saja dan kembali menfokuskan dirinya untuk tetap seimbang di tangga eskalator menuju peron kereta yang hendak ia tumpangi menuju indekosnya.

Tiga tahun semenjak Nala meninggalkan kampung halamannya di Bukittinggi, kini mulai terbiasa melewati panas dan sesaknya kota Jakarta sekalipun telah melalui hari yang panjang dan melelahkan di kantornya.

Untuk siapa lagi anak sulung bekerja selain untuk keluarga. Nala memiliki keinginan besar untuk memberangkatkan haji Ibunya. Sementara Ayahnya sudah lama wafat. Keluarganya sebagai dalih, Nala hampir tak tertarik dengan dunia selain bekerja. Temannya saja mungkin hanya tetangga kamarnya, Dini.

Soal menikah apalagi. Memikirkan jodoh atau membangun keluarga dan punya anak mungkin belum terlintas di pikirannya. Membayangkannya membuat Nala tersenyum sendiri di dalam kereta. Meskipun rasa pening masih berkeliaran di kepalanya, ia tetap mencoba bertahan hingga  sampai di stasiun tujuan.

Jam menunjukkan pukul 19.25 saat ia sampai di indekosnya. Sesampainya di kamar, Nala  segera merebahkan tubuhnya. Lelah membawanya ke alam mimpi.

*

Nala membuka matanya, terbangun oleh kumandang adzan dari kejauhan. Ia terkejut karena melihat dirinya masih mengenakan pakaian kerja dan belum shalat isya. Nala lantas bergegas mandi dan melakukan segala ritual paginya sebelum ia pergi ke Kantor, lagi.

Nala juga lebih terkejut lagi ketika di ponselnya ada 7 panggilan tak terjawab dari Ibu dan juga 3 panggilan dari adiknya serta beberapa pesan dari keduanya. Nala merasa bersalah karena telah membuat keluarganya khawatir. Nala pun menelepon Ibunya saat itu juga. Memberi tahu bahwa dirinya baik-baik saja dan hanya ketiduran semalam. Ibu mafhum, lalu meminta Nala untuk menjaga kesehatannya. Naluri seorang Ibu memang kuat sekali.

Pukul 6.49 Nala sudah berada di kereta tujuan stasiun Cisauk BSD dekat kantornya. Sampai di kantor pun ia melakukan ritual lainnya, menyeduh kopi untuk amunisi. Saat dirinya tengah  meracik kopi, tiba-tiba seseorang mucul dari balik pintu dapur. Rico, HRD di kantornya.

“Eh, Mas Rico. Kopi, Mas?” tawar Nala basa-basi.

“Boleh, kalau kamu berkenan, Nala,” ujarnya sambil tersenyum mengejek.

Namanya basa-basi, mungkin Nala sebenarnya tak benar-benarengharapkan jawaban “boleh” itu. Merasa tak enak karena telah menawarkan, Nala pun membuatkan satu gelas kopi yang sama untuk Rico.

Nala membelakangi Rico dan melakukan pekerjaannya dengan serius. Di balik sana, Rico menatap Nala tak kalah serius sambil menyunggingkan senyumnya.

Setelah selesai. Nala segera memberikan kopi itu kepada Rico dan bertanya bagaimana rasanya dengan nada takut-takut.

“Enak dan cukup manis, terimakasih,” Pujinya.

Nala tersenyum lega dan memilih untuk segera meninggalkan dapur sebelum ia semakin bingung dengan obrolan keduanya. Baru saja dua langkah melewati pintu dapur, Nala mendengar Rico kembali berbicara walaupun dengan nada yang cukup lirih.

“Seperti yang buat.”

Nala tak menggubris dan berlalu. Jika rekannya yang lain mendengar mungkin bisa jadi gosip besar. Nala malas dengan gosip kantor.

*

Di perjalanan pulang, saat itu waktu sudah Maghrib ketika Nala di dalam kereta yang padat. Di dalam kereta yang sesak itu, Nala kembali merasakan pusing yang begitu hebat. Kali ini mungkin dua kali lipat dari pada yang sebelum-sebelumnya.

Nala memegangi kepalanya dengan erat sambil terus mencari pasokan udara. Samar terlihat nomor gerbong yang kali ini sedang ia tumpangi adalah sembilan. Ia tiba-tiba teringat bahwa selama ini dirinya selalu menaiki gerbong yang sama. Selama tiga tahun ini selalu angka sembilan di sana.  Banyak sekali hal-hal yang ia lewatkan semenjak tiga tahun terakhir. Hal ini mungkin salah satunya. Mungkin juga selama ini, ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia lupa membahagiakan dirinya barang hanya untuk sekadar sebuah makanan atau barang-barang yang lucu yang kebanyakan perempuan membelinya.

Nala mengedarkan pandangannya kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Apa yang salah dengan dirinya selama ini. Ia pikir memberikan kebahagiaan kepada orang lain sudah memberikan kebahagiaan untuk diri sendiri. Lalu apa yang salah dengannya. Ia tersenyum, sementara di pelupuk matanya air jatuh setetes.

Kerinduan kepada keluarga tiba-tiba menyerangnya, membuat tangisnya deras tanpa aba. Nala sesenggukan cukup keras, menyita perhatian orang-orang. Tangisnya mungkin juga karena sakit kepala yang semakin menjadi. Nala tak sadar bahwa air matanya telah bercampur dengan cairan berwarna merah yang turut mengalir dari dalam hidungnya. Pandangannya menjadi gelap, suara kerumunan menggema dan lama kelamaan memudar dari telinganya.

*

Membuka mata, Nala menyadiri dirinya tidak lagi di dalam gerbong, ia terbaring di sebuah ruangan yang bau obat dan antiseptiknya cukup menyengat. Menggerakan kepalanya, ia melirik tangannya yang saat ini sudah ditusuk infus entah sejak kapan. Padahal biasanya, ia akan sangat takut apabila berhadapan dengan yang namanya jarum suntik.

Setelah beberapa menit berdiam diri, Nala melihat perawakan yang tak asing di ambang pintu. Mereka berjalan menuju bangsalnya, Dini dan Rico menghampiri Nala.

“Nala, sudah siuman. Bagaimana keadaanmu?” tanya Dini buru-buru.

“Alhamdulillah, Din. Ngomong-ngomong kenapa Mas Rico ada di sini juga?” tanya Nala benar-benar heran. Apakah ini HRD memang bertugas mengunjungi karyawannya saat sakit? Pikir Nala.

“Mas Rico ini yang bawa kamu sewaktu kamu pingsan di kereta, La,” jawab Dini.

Kenapa bisa?

Kepala Nala tiba-tiba kembali pusing. Ia memeganginya sambil memejamkan mata. Tak habis pikir mungkin. Mengerti keadaan Nala, Rico pun pamit pulang dan mendoakan Nala agar lekas sembuh. Nala hanya mengangguk dan berterima kasih. Sungguh, sangat banyak.

Setelah Rico pergi, Dini menceritakan setiap detail yang terjadi. Ternyata saat Nala terjatuh pingsan, Rico berada di gerbong yang sama dengannya. Saat melihat orang-orang berkerumun, Rico yang menyadari akhirnya membawa Nala ke rumah sakit. Kebetulan sekali pikir Nala. Pasalnya Nala tidak pernah tahu jika salah satu HRD di kantornya juga menaiki kereta seperti dirinya dari pada mengenakan mobil pribadi.

Dini juga memberi tahu bahwa ini adalah hari ketiga Nala di rumah sakit. Nala terkejut sekaligus heran. Sebelumnya hal seperti ini tidak pernah terjadi. Nala bahkan sangat jarang pergi ke rumah sakit untuk sekadar memeriksakan kesehatannya.  Dini belum diberi tahu terkait kondisi Nala. Mungkin karena dia bukan wali sahnya.

“Sudah aku panggilkan Dokter, nanti biar kita mendengar langsung saja soal keadaanmu,” ucap Dini terlihat khawatir.

Tak berselang lama seorang dokter bersama perawatnya datang menghampiri Nala melakukan pemeriksaan. Dokter mengajukan beberapa pertanyaan, Nala menjawab dengan menggeleng dan mengangguk saja. Hatinya mungkin berdebar, sampai sulit rasanya untuk bicara. Ia bertanya apakah ada keluhan lain selain sakit kepala dan mimisannya waktu itu di kereta. Nala menggeleng dan tetap diam.

Dokter menyampaikan hasil tes dari pemeriksaan tiga hari yang lalu. Mendengar finis Dokter, Nala merasa seluruh dunia runtuh di atas kepalanya. Air mata tak terbendung, deras menjelma bah di pipinya. Nala didiagnosa mengidap kanker otak stadium akhir, hal inilah yang memicu sakit kepalanya beberapa bulan belakangan ini. Dokter bilang Nala harus segera melakukan operasi agar dapat sedikit memperpanjang usianya.

Setelah Dokter pergi dari ruangannya, Nala masih tergemap, Dini ikut menangis dipelukan Nala. Mimpi buruk benar-benar singgah kali ini. Singgah dan merenggut segalanya. Harapan, mimpi, kehidupan berharga Nala.

“Aku ingin pulang saja, Din. Tidak betah berlama-lama di rumah sakit,” kata Nala membuat Dini melepaskan pelukannya.

“Loh! Kenapa begitu, La? Bukannya kamu harus rawat inap dan dioperasi?”

“Semua itu tergantung keputusanku, kan? Aku memilih tidak,” ucap Nala tegas.

Entah setan apa yang merasuki Nala. Ia hanya berpikir mungkin ini adalah saatnya ia untuk beristirahat dari hiruk pikuknya dunia. Tuhan memberikan sakit sebagai pengingat bahwa ia sudah terlalu lama berjuang di dunia yang fana. Dengan demikian, Nala mengambil keputusan ini.

*

Semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Nala merasakan hal yang sangat berbeda dari tubuhnya. Ia menjadi sangat lemah, rasa pusing juga selalu hinggap di kepalanya setiap ia melakukan pekerjaan berat. Tapi hari ini Nala harus ke kantor untuk berkemas dan berpamitan. Sebelum meninggalkan kos, Nala menuliskan pesan dan sebuah kartu ATM untuk Ibunya yang akan datang esok pagi dari Bukittinggi.

Di dalam kereta, Nala mendapati gerbong sembilan lagi. Entah kenapa, tapi ia tersenyum melihatnya. Sesampainya di kantor, Nala berpamitan dan menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Rico.

“Terima kasih ya, Mas. Sudah banyak membanu saya,” ujarnya.

Tanpa menjawab, Rico lantas memberikan sebuah syal berwarna gradasi antara merah muda dan biru. Warna kesukaan Nala.

“Mungkin kamu akan kegerahan jika memakainya sekarang di Jakarta. Tapi suatu hari nanti, barangkali Jakarta akan turun salju, atau mungkin kamu bisa pakai di Bukittinggi, yang lebih dingin daripada di sini, atau mungkin di mana saja di saat kamu merasa butuh kehangatan,” kata Rico sambil menyerahkan syal itu ke genggaman tangan Nala. Ia juga terkekeh di sela-sela ucapannya. Tetapi, air mata juga ternyata menggenang di pelupuk mata. Tidak bisa dibohongi. Rico dibaluti kesedihan.

Entah apa yang Nala pikirkan, ia memeluk Rico begitu saja. Mereka berdua sama-sama membeku dengan tetap sama-sama menyembunyikan sesuatu yang bersarang di dadanya. Setelahnya tak ada sepatah kata pun yang keluar di anataranya.

Nala pulang sembari meromantisasi setiap hal-hal kecil, men-scan kartu anggota, dan berjalan dari kantor menuju stasiun. Semua Nala nikmati karena baginya ini terakhir kali ia akan melakukan kegiata monotonnya itu.

Di dalam kereta, Nala sedikit merasakan kelegaan, pasalnya saat ini kondisi gerbong tidak begitu penuh dan ia berhasil mendapatkan tempat duduk. Merasakan kejadian langka, Nala tersenyum dan segera membuka handphone-nya untuk membuka kamera dan mengambil beberapa foto. Kegiatan yang tak pernah Nala lakukan.

Nala memotret setiap sudut yang ia anggap menarik termasuk nomor gerbong yang saat ini ia tumpangi, nomor 9. Nala juga baru ingat kalau saat ini juga tanggal 9 September. Sesuatu yang unik baru ia sadari lagi.

Selagi memotret, tiba-tiba kepalanya terasa sakit lagi.  Ponselnha terjatuh entah ke mana. Sakit kepala hebat kali ini tidak seperti biasanya, sambil terus memegangi kepala, Nala sampai mengaduh dan menyebabkan beberapa orang memperhatikannya. Termasuk seseorang yang ada di ujung gerbong. Rico, yang kembali ada di gerbong yang sama dengan Nala. Tak hanya menjadi orang yang pertama kali menemukan Nala dalam kondisi terburuknya, Rico juga akan menjadi orang pertama yang menyaksikan kepergiannya.

*

Jam menunjukan pukul 07.50 di saat Ibu bersama Jana dan Dini sampai di indekosnya Nala.  Mata yang masih sembab dan pipi yang sedikit bengkak, Ibunya memerhatikan kamar putri kesayangannya itu. Semuanya rapi dan sudah dibereskan dengan baik. Semua barang Nala telah dirinya masukan ke dalam koper dan kardus seolah ia tahu bahwa ia tidak akan punya waktu lagi untuk menatanya di kemudian hari. Di atas meja, Ibu menemukan sebuah amplop, bertuliskan “untuk Ibu” di atasnya. Saat membuka dan membacanya, tangis Ibu tumpah ruah. Di dalamnya sebuah surat, kartu atm, serta buku tabungan haji yang diatasnamakan Ibu.

Penulis: Anindya Nazmi Khumaira (Warga Kampoeng Sastra Soket Teki)

Suara Sang Putri Mahkota
Angin dan Angan
SKM Amanat Adakan Seminar Pers dan Bincang Sastra pada Harlah ke-39
Tabloid SKM Amanat Edisi 98 Tahun 2003
Sore Itu
TAGGED:cerpen kereta terakhircerpen skm amanatcerpen soeket tekikereta terakhirsastra soeket tekiskm amanat
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Gus Dur, Nilai-Nilai Kehidupan Gus Dur, Presiden Gus Dur, Haul Gus Dur
UIN WalisongoVaria Kampus

Nilai-Nilai Kehidupan Gus Dur

Redaksi SKM Amanat
19 Februari 2024
[Resensi Film] Kisah Pencarian dan Balas Dendam Saudari Perempuan
4 Manfaaf Musik untuk Kurangi Risiko Depresi
Mendalami Pramuka di Racana Walisongo
Mulai Hari ini, Mahasiswa Angkatan 2012-2015 Bisa Daftar TOEFL IMKA Jalur Khusus
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Kereta Terakhir
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Kereta Terakhir
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?