“Tapi Tuhan samar-samar, kabur-kabur, melambung-melambung ke daerah yang tak tercapai oleh akal, ke daerah yang gaib, yang tidak ada bagi kami.” (h. 123).
Ada keraguan yang terbesit dipikiran saya begitu menemukan buku ini di antara tumpukan buku, di toko buku Palasari Bandung kala itu. Sekuat apa iman saya kira-kira?
Namun, ternyata “Atheis” tidak sedangkal suudzon saya.
Novel “Atheis” mengetengahkan perkembangan zaman di era awal abad dua puluh. Pergeseran gaya hidup, pemikiran, budaya, teknologi, membawa serta perselisihan dan bentrok antara paham lama dan baru. Tokoh Hasan diperkenalkan sebagai seorang yang mengkhawatirkan secara fisik, tubuh mudanya digerogoti TBC, jiwanya pun remuk redam. Di ujung hidupnya yang hampir tak berdaya itu, Hasan mendatangi seorang Jurnalis dan menyerahkan sebuah autobiographical novel miliknya.
Hasan menjadi pemeran utama di novelnya sendiri. Diceritakan kalau Ia lahir dari Ibu dan Ayah yang sangat saleh dan alim. Mungkin, bagi kedua orang tua Hasan tak ada yang lebih nikmat dilihatnya dari pada orang yang sedang sembahyang. Begitupula Hasan tumbuh, ia yang sudah diajarkan tentang sareat, tarekat, dan makrifat sejak umur 5, yang setiap hendak tidur selalu didongengi soal surga dan neraka, jembatan pisau, godogan timah mendidih, dan yang berdosa akan dijadikan bahan bakarnya. Dari dogma itulah Hasan mulai belajar dan mengikuti perintah-perintah gurunya.
Homo Sapiens atau Homo Followers?
Awalnya saya menilai bahwa transformasi spiritual yang dialami Hasan disebabkan oleh pertemuan nostalgianya dengan Rusli. Perbincangannya dengan Rusli terkait sains dan marxisme, soal siapa Tuhan sebenarnya, pola pikir Rusli telah membawa penihilan terhadap unsur spiritual yang mengarah pada peniadaan Tuhan lantas memengaruhi keimanan Hasan. Namun bukan karena itu, pergolakan iman yang dialami Hasan sebenarnya terjadi atas kehendaknya sendiri.
Kebebasan memilih pada dasarnya merupakan inti eksistensi manusia. Arus pemikiran global tidak secara langsung mengubah seseorang apabila orang tersebut tidak membuka “jalan masuk” bagi pegaruh itu. Sains, filsafat, atau sebuah ideologi berkembang sangat cepat bukanlah faktor deterministik yang menggiring individu ke jalan tertentu, melainkan sebagai sinyal agar manusia dewasa dan reflektif menghadapi globalisasi ini.
Fenomena Hasan yang mengimani perkataan Rusli tanpa menyelami ilmunya sendiri bukan hal yang baru, melainkan fenomena yang sering kita jumpai di era globalisasi dan genjatan media sosial kini. Kebenaran sering dianggap datang dari otoritas tertentu mengakibatkan sumber tersebut diyakini kebenarannya tanpa diverifikasi. Akibat dari ikut-ikutan ini juga karena perasaan aman yang dicari setiap orang. Kebebasan yang sebenarnya menuntut tanggung jawab individu ini membuat banyak orang lebih memilih jalan aman dengan menyerahkan tanggung jawabnya pada otoritas luar.
“Apa yang harus saya perbuat untuk melipurkan kebimbangan dan ketakutannya itu? Ternyata dia sudah menjadi ‘korban’ lagi dari orang yang dianggapnya ‘lebih tahu’” (h. 202).
Dalam hal ini, istilah terpengaruh oleh pemikiran orang lain, atau orang alim seperti Hasan yang menjadi korban dari modernitas hanyalah bentuk mekanisme pertahanan diri. Ketidaksiapan menanggung pilihanlah yang membuat individu berusaha mengalihkan tanggung jawabnya agar tidak menjadi pusat dari masalah dan target sanksi sosial.
Madat Agama
Pada “Atheis” juga digambarkan bagaimana fenomena feodalisme beragama yang hingga kini masih dapat kita jumpai. Seperti yang sudah kita bahas di atas tentang keluarga Hasan yang seorang taat agama, mereka rela melakukan kegiatan-kegiatan ekstrem yang dianggapnya sebagai “perintah agama” seperti mandi 40 kali di sungai dalam semalam, puasa tujuh hari tujuh malam, mengunci diri tanpa makan selama tiga malam, dan amalan-amalan mistis lainnya yang bahkan tidak pernah diajarkan oleh Rasul.
Hasan yang merasa memiliki banyak pengalaman religius itu menganggap bahwa orang awam dalam agama harus tunduk membungkuk di hadapan orang yang beriman. Begitu kemudian kelas sosial keimanan tercipta. Bagi orang beragama barangkali mudah saja berbicara soal Tuhan, surga, dan neraka. Namun dalam implementasinya, persoalan sosial sperti kemiskinan, pendidikan merata, kesenjangan, kemiskinan dan persoalan lainnya juga belum kunjung terusaikan.
“Padahal alangkah banyak soal-soal hidup itu, dan agama hanyalah salah satu dari bentuk kehidupan yang banyak itu.” (h. 71).
Rusli dengan Anwar sebagai dua tokoh atheis dalam novel ini mengutarakan argumen-argumennya terkait Tuhan. Seolah Achdiat menjadikan kedua tokoh ini sebagai rival untuk pembaca, anti tesis dari Hasan. Mereka berkata bahwa Tuhan adalah ciptaan manusia dan agama hanyalah sebagai pelipur lara bagi orang-orang yang putus asa.
Namun perdebatan yang terjadi ini memaksa kita untuk berefleksi, Achdiat dalam novelnya seolah menyampaikan bahwa orang-orang atheis tidak sesimpel kelompok penolak Tuhan atau seorang komunis seperti yang banyak orang definisikan. Dalam novel “Atheis” paradigma komunis dapat dipahami dengan runtut, bahwa seorang atheis memiliki dasar-dasar kesadaran dalam merespons realitas. Walaupun beberapa bahasa yang digunakan dalam novel ini terasa asing dan kurang jelas, wajar juga jika nuansa zaman dahulu terasa pada kalimat-kalimatnya yang khas.
Selain itu, Atheis juga menjadi reminder bagi saya pribadi bahwa setiap tindakan kita adalah gambaran terhadap apa yang kita yakini. Memang beberapa kalimat dan argumen terasa provokatif, tapi Achdiat seolah berupaya menantang nalar kita, apakah keimanan yang kita jalankan benar-benar bersumber dari kesadaran atau sekadar warisan feodal?
Identitas Buku:
Judul: Atheis Penulis: Achdiat K. Mihardja Penerbit: PT. Balai Pustaka (Persero) Tahun Terbit: 1949 (cetakan ke-1) Hal: 250 hlm. Resentator: Eka Rifnawati