
Tangan-tangan besi penguasa membedah dada rimba,
Menanam barisan sawit sebagai nisan bagi semesta.
Mereka melukis angka di atas kanvas hutan yang binasa,
Menjadikan paru-paru dunia sebagai upeti bagi dahaga kuasa.
Demi kilau emas cair yang harganya melangit di bursa.
Nuraninya membatu, membungkam tangis rakyat yang tersiksa.
Bumi diperkosa, diubah menjadi mesin cetak harga pribadi.
Di mana napas bumi dikhianati oleh monokultur yang tak berhati.
Memanen kemewahan di atas tanah yang kering kerontang,
meninggalkan jelaga hitam bagi masa depan yang pincang.
Asap keserakahan mengepul, mencekik paru-paru generasi yang terbuang.
Belantara digorok rakus, menjadi barisan bangkai kayu yang malang.
Pemerintah berpesta di menara gading yang berlumur minyak.
Tak acuh pada Ibu Pertiwi yang sekarat di bawah kaki yang menginjak.
Keadilan mati suri, terkunci rapat di dalam laci para perampok yang tamak.
Kudus, 8 Januari 2026
Dina Uzma Azizah (Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki)


