
Kenapa kita perlu kuliah? Untuk menambah wawasan atau hanya demi gelar semata? Pertanyaan ini sering menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa, bahkan seringkali mereka terjebak dalam orientasi formalitas, untuk mengejar nilai dan ijazah semata tanpa memahami esensi dari pendidikan itu sendiri.
Di era yang semakin kompetitif, kuliah sering kali dipandang sebagai jalan utama dalam meraih masa depan yang cerah. Gelar akademik menjadi kebanggaan tersendiri bagi sebagian orang, bahkan sebongkah nilai sempurna dapat membuat mahasiswa itu lupa daratan. Padahal, sejatinya kemampuan yang didapat tidak sebanding dengan apa yang tertulis dalam selembar ijazahnya.
Ketika melihat dunia kerja sekarang, tidak dapat dipungkiri jika gelar dan ijazah sering dijadikan syarat administratif untuk melamar pekerjaan. Bahkan, menjadikannya sebagai pembanding dalam mengadu nasibnya di dunia kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025, menunjukan rata rata upah untuk lulusan SMA berkisaran 3,22 juta perbulan. Hal ini berbanding jauh dengan lulusan S1 yang dapat mencapai 4,63 juta per- bulan atau bahkan dapat melampaui 5 juta per-bulannya.
Jebakan Gelar Sarjana
Di era kini, gelar sarjana terpampang sebagai “tiket masuk” yang diperebutkan untuk mengakses berbagai peluang. Namun, hal ini tidak berbanding lurus dengan makna kuliah itu sendiri, yang menjadikan gelar sebagai tujuan utama.
Sejatinya kuliah tidak hanya dirancang untuk membangun pengetahuan secara sistematis, tetapi juga untuk mengembangkan cara berpikir kritis, analitis, dan logis. Tidak hanya itu, kuliah juga dilandasi kemampuan untuk memahami realitas secara mendalam, utuh, dan kontekstual. Sehingga, mahasiswa tidak sekadar menghafal teori, melainkan mampu menangkap, mempertanyakan, dan menyaring makna di balik setiap fenomena.
Fenomena yang sering terjadi saat ini justru mahasiswa lebih fokus pada hasil akhir tanpa memperhatikan proses. Berbagai cara yang sering dilakukan antara lain; praktik belajar sistem kebut semalam, mengejar nilai tanpa memahami materi, bahkan menanamkan mindset “yang penting cepat lulus”.
Hal itulah yang akhirnya mematok mindset para mahasiswa, tanpa membuatnya menjadi lebih berkembang dan berkualitas.
Ketika menelisik pendapat Nurmi (2004) dalam studi psikologinya, bahwa fenomena ini disebut dengan Grade Orientation atau orientasi nilai yang berarti mahasiswa cenderung berfokus pada nilai sehingga dapat menimbulkan kebiasaan belajar yang kurang mendalam dibandingkan mereka yang benar benar mengejar pengetahuan. Hal ini membuat tidak sedikit mahasiswa ketika lulus merasa tidak siap menghadapi tantangan selanjutnya, karena minimnya pemahaman dan keterampilan yang sebenarnya dibutuhkan.
Meski demikian, masyarakat tetap memberikan label “bernilai” kepada para sarjana dibandingkan yang tidak, terlepas dari kompetensi yang dimilikinya. Oleh karenanya, para sarjana sekalipun tidak mempunyai kompetensi yang mumpuni, statusnya akan tetap dianggap lebih tinggi di mata masyarakat.
Hal inilah yang menciptakan persepsi bahwa kuliah menjadi ‘kewajiban’ untuk meningkatkan strata sosial, bukan menjadi kebutuhan intelektual. Hal inilah yang membuat kuliah hanya menjadi ajang rutinitas yang dijalani tanpa arah.
Beban Moral yang Terabaikan
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencetak lulusannya. Moral, wawasan, bahkan intelektual yang diharuskan tertanam sebelum para sarjana meninggalkan bangku perkuliahan. Beban dan tanggung jawab besar itu tentu tidak mudah dalam menjaganya. Seiring berkembangnya zaman, tuntutan selalu bertambah, begitu pula beban yang dipikul perguruan tinggi.
Ketika berkaca pada realita pendidikan sekarang, begitu memilukan. Sistem pendidikan ditekankan pada nilai dan ujian sering kali mendorong mahasiswa untuk berpikir pragmatis. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada pemahaman, diskusi, dan pengembangan keterampilan. Lingkungan akademik yang mendorong rasa ingin tahu dan kebebasan berpikir akan membantu mahasiswa menemukan makna sebenarnya dari kuliah.
Menelisik lebih dalam, tidak dapat dipungkiri bahwa gelar dan pengetahuan tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan jika mahasiswa mampu menempatkan prioritas dengan tepat.
Gelar dapat menjadi hasil dari proses belajar yang bermakna, bukan sekadar tujuan akhir. Dengan kata lain, jika proses pencarian ilmu dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka gelar akan datang sebagai konsekuensi logis.
Dengan demikian, penting bagi setiap mahasiswa untuk merefleksikan kembali tujuan utama kuliah. Apakah hanya untuk mendapatkan selembar ijazah, atau untuk memahami dunia dan peran mereka di dalamnya? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bagaimana mereka menjalani proses pendidikan dan pada akhirnya bagaimana mereka membangun masa depan.
Penulis: Meyra Karunia Putri
Editor: Nur Rozikin


