By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Childfree; Isu Pengurangan Populasi atau Penyalahan Kodrati?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Ilustrasi pasangan childfree. (Sumber: pixabay)
Ilustrasi pasangan childfree. (Sumber: pixabay)
ArtikelKajianMilenialOpini

Childfree; Isu Pengurangan Populasi atau Penyalahan Kodrati?

Last updated: 22 Juni 2022 5:37 pm
Kiki Yuli Rosita
Published: 22 Juni 2022
Share
SHARE
Ilustrasi pasangan childfree. (Sumber: pixabay)
Ilustrasi pasangan childfree. (Sumber: pixabay)

Pada medio Agustus 2021, sepasang suami istri bernama Gita Savitri dan Paul Andre memilih menjalani hidup tanpa kejahadiran buah hati (childfree). Mereka beranggapan bahwa memiliki seorang anak bukanlah suatu kewajiban, melainkan sebuah pilihan hidup.

Yang dilakukan pasutri tersebut lantas menimbulkan beragam kontroversi. Ada yang memandang sinis sebagai bentuk penyalahan teradap akidah. Ada juga yang menilai sebagai salah satu cara mengurangi populasi manusia.

Terlepas dari kontroversi tersebut, Childfree telah menjadi budaya baru yang populer di dunia. Childfree adalah kondisi di mana pasangan suami istri berkomitmen untuk tidak berencana atau tidak mau punya anak, baik anak kandung maupun adopsi. Tentu, pilihan ini memiliki kelebihan dan kekurangan.

Hidup tanpa memiliki anak berarti tidak memiliki beban finansial maupun aspek sosial lainnya karena anak. Dengan begitu, pasangan childfree dapat lebih fokus kepada dirinya sendiri. (Agrillo & Nelini 2008). Mereka yang memilih childfree jua memiliki konsekuensi biologis dan sosial. Mereka tidak bisa memiliki keturunan resmi, memungkinkan menghabiskan masa tua sendirian, melanggar norma sosial pada umumnya.

Isu yang kemudian berkembang adalah, cildfree dijadikan sebagai sarana untuk mengurangi populasi umat manusia. Jika dilihat sejak tahun 1800, jumlah penduduk dunia mengalami pertumbuhan berlipat ganda. Pada tahun tersebut, populasi dunia baru mencapai 1 miliar manusia. Pada 2021, sudah mencapai 7,8 miliar. Hanya dalam dua ratus tahun, penduduk dunia meningkat tujuh kali lipat.

Meskipun jumlah penghuni bumi semakin banyak, tetapi jika dilihat dari tingkat pertumbuhan, telah terjadi tren penurunan dari puncaknya pada tahun 1960-an yang mencapai tingkat 2,2% per tahun. Saat ini pertumbuhan penduduk berkisar 1,1% per tahun. Bank Dunia memproyeksikan pada tahun 2100 tingkat pertumbuhan dunia tinggal 0,1% dengan total populasi dunia 11,2 miliar.

Terdapat korelasi negatif antara indeks pembangunan manusia (IPM) dengan tingkat kelahiran. Semakin maju sebuah negara, maka semakin kecil tingkat kelahirannya. Dengan demikian, tingkat pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang semakin baik mendorong orang memiliki semakin sedikit anak.

Masih berdasarkan data dari Bank Dunia, tingkat kelahiran per perempuan di Singapura adalah 1,14, di Jepang 1,42, sedangkan yang paling rendah di Korea Selatan 0,98. Artinya negara-negara tersebut mengalami masalah populasi di masa depan.

Masalah dunia yang kelebihan populasi pernah menjadi kekhawatiran Thomas Malthus pada era 1800-an. Menurutnya, peningkatan jumlah populasi yang terus menerus pada titik tertentu akan menyebabkan terjadinya kelangkaan makanan.

Ramalan tentang pertumbuhan jumlah penduduk benar terjadi, tetapi kekurangan makanan tidak terjadi karena terdapat perkembangan teknologi dalam banyak bidang. Namun, banyak persoalan kependudukan yang belum terselesaikan seperti masalah kerusakan lingkungan, ketersediaan pekerjaan, perumahan, energi, pendidikan, hak asasi manusia, ketimpangan pendapatan, dan lainnya.

Childfree dalam Kacamata Islam

Di Indonesia sendiri yang mayoritas masyarakatnya memeluk Islam, tentu menimbulkan berbagi polemik. Sebab, pilihan tidak memiliki anak adalah menyalahi kodrat sebagai seorang wanita. Dalam kajian fikih, childfree diilustrasikan sebagai bentuk kesepakatan menolak kelahiran atau wujud anak, baik sebelum anak potensial wujud ataupun setelahnya.

Imam Syihabuddin Al-Qasthalani melalui kaidah di dalam kitabnya Irsyadus Sari Lisyarhi Shahihil Bukhari menyebut jika hukum berlaku bersama illatnya. Ada dan tidaknya hukum bergantung atas ada dan tidaknya illat hukum tersebut. (Irsyadus Sari Lisyarhi Shahihil Bukhari, jilid 2 halaman 41).

Al-Qastalhani merinci ukum childfree dalam dua keadaan. Pertama, jika dia hanya menunda untuk mempunyai anak dalam waktu tertentu, hukumnya diperbolehkan. Artinya, ada batas waktu tertentu bagi mereka yang memilih tidak mempunyai anak. Kedua, jika dia memutuskan untuk tidak mempunyai anak secara Mutlaq (Tahdidun Nasl), hukumnya haram.

Kendati demikian, Islam memperbolehkan pasangan suami istri untuk memilih jalan childfree sesuai kaidah yang dianjurkan ole fikih Islam. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan motif yang bisa diperbolekan melakukan childfree.

Di antaranya motif finansial dalam konteks perbudakan seperti pada zaman dulu, motif seksual dan keselamatan hidup, motif ketakutan tidak mampu menghidupi anak secara ekonomi, memiliki keyakinan yang keliru soal menikahkan anak perempuan yang dianggap aib seperti zaman jahiliyah, dan motif menyucikan diri dengan tidak mengotori tubuh akibat melahirkan anak.

Terlepas dari mereka yan memilih childfree atau tidak, setiap pilihan tentu menimbulkan konsekuensi yang harus dijalani oleh mereka. Kita tidak selamanya bisa menghakimi apa yang mereka pilih.

Penulis: Kiki Yuli R.

 

Lebih Bijak Menggunakan Kata “Terserah”
Kampanye Sesat Iklan iPad Pro
Gunakan Prinsip Kaizen, Gapai Targetmu
5 Makanan Pemicu Jerawat
Mengapa Perayaan Wisuda Masih Begitu Penting?
TAGGED:ChildfreeKajian SKM AmanatPopulasi manusia
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
UIN Walisongo, Wisuda UIN Walisongo, Wisuda ke-97, Wisuda 2025, Nizar Ali
Varia KampusWisuda

Terbanyak! UIN Walisongo Kembali Gelar Wisuda 2 Sesi dengan Luluskan 2.023 Mahasiswa

Redaksi SKM Amanat
25 Agustus 2025
Kemasifan Kaum Buruh dalam Melawan Kapitalisme Pinggiran
Pentingnya Jiwa Kepemimpinan bagi Mahasiswa
Sambil Kerja di Angkringan, Mahasiswa Ini Jadi Wisudawan Terbaik Fisip
Tabloid SKM Amanat Edisi 93 Tahun 2002
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Childfree; Isu Pengurangan Populasi atau Penyalahan Kodrati?
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Childfree; Isu Pengurangan Populasi atau Penyalahan Kodrati?
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?