
Amanat.id- Suara gamelan disertai semerbak aroma kemenyan tercium dari salah satu bangunan yang cukup megah di Jl. Bhayangkara No. 2, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Museum Keris Nusantara, sebuah bangunan 5 lantai yang menyimpan banyak keris dengan berbagai ukiran emas yang memanjakan mata, Jumat (24/10/2025).
Selain terkenal akan sejarah kerisnya, dulunya Gedung Museum Keris Nusantara merupakan Rumah Sakit Jiwa (RSJ), yang dahulu dikenal dengan RSJ Mangunjaya. Alihfungsi RSJ Mangunjaya menjadi Museum Keris Nusantara belum banyak diketahui masyarakat. Hal tersebut menambah historisitas Museum Keris Nusantara yang tidak hanya bersejarah dari kerisnya, tetapi juga dari bangunannya.
Edukator Museum Keris Nusantara, Anjang Pratama menjelaskan sebelum digunakan menjadi museum, bangunan tersebut telah digunakan untuk beberapa kegiatan, bahkan awalnya bangunan Museum Keris Nusantara adalah RSJ.
“Dulunya gedung ini merupakan rumah sakit jiwa yang dibangun pada tahun 1800-an. Pasien RSJ semuanya sudah dipindahkan pada tahun 1960-an, lalu gedung ini kosong,” ujarnya.
Selain sempat menjadi RSJ, sejarah Museum Keris Nusantara tidak berhenti di situ. Sebelum menjadi rumah untuk berbagai jenis keris, Museum Keris Nusantara juga sempat digunakan sebagai mess sepak bola.
“Pada 2010, bangunan ini juga pernah menjadi mess sepak bola, menjadi kantor Gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI),” katanya.
Di tahun 2017, masyarakat umum, seniman, dan budayawan diundang. Sambutan baik diberikan, diskusi konsep dan ide dilakukan, hingga akhirnya secara resmi berdirilah Museum Keris Nusantara.
“Diresmikan menjadi bangunan Museum Keris Nusantara pada 9 Oktober 2017 dengan mengundang masyarakat umum dan seniman budayawan untuk ikut berpartisipasi mengkonsep ide museum keris,” ucapnya.
Staf Museum Keris Nusantara, Danial Neonanda Kristian juga menambahkan latar belakang alihfungsi RSJ Mangunjaya menjadi Museum Keris Nusantara. Menurutnya alasan ditutupnya RSJ saat itu dikarenakan sepinya pasien hingga hanya tersisa staf.
“Akibat RSJ yang semakin sepi sehingga pasien-pasien yang tersisa sebagian dipulangkan, lalu ada juga yang dipindahkan, benar-benar tinggal karyawannya saja,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan alihfungsi tersebut sebagai langkah awal untuk melestarikan seni dan budaya, khususnya pada karya seni keris. Dengan berbagai ukiran, keris harus dijaga dan dilestarikan kepada generasi muda. Menurutnya hal tersebut perlu dilakukan agar setiap generasi dapat terus menikmati keindahan seni keris.
“Diubahlah menjadi museum keris agar bangunan ini juga tidak kosong, selain itu juga sebagai media untuk mengenalkan keris kepada generasi-generasi muda,” jelasnya.

Kesadaran akan seni dan budaya yang perlu dilestarikan membuat Pemerintah Kota Surakarta pun ikut berpartisipasi. Dengan jargon Spirit of Java, Pemerintah Kota Surakarta mengadakan wisata dengan konsep culturan educatif yang nantinya dapat menjadi media belajar semua kalangan tentang keris yang ada di Museum Keris Nusantara.
Ratusan keris dengan berbagai ukiran dan sejarah tersimpan rapih di Museum Keris Nusantara. Semuanya disimpan untuk menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan keris kepada masyarakat dari seluruh kalangan.
Sesuai dengan harapan Danial bahwa ketika didirikannya Museum Keris Nusantara adalah membawa dampak positif bagi budaya dan menumbuhkan pengetahuan serta wawasan masyarakat terhadap keris.
“Harapan untuk kedepannya agar para generasi-generasi sekarang bisa belajar tentang keris dan dapat melestarikan budaya keris dan sejarah yang ada,” tutup Danial.
Reporter: Noor Saidah
Editor: Azkiya Salsa Afiana


