
Amanat.id- Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mulai menggunakan sejumlah ruangan aula dan teater sebagai ruang perkuliahan mahasiswa, Sabtu (12/9/2026).
Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FDK, Muhammad Fatkhi Hamdani menilai peningkatan jumlah mahasiswa baru tidak diimbangi dengan ketersediaan ruang kelas.
“Saya cukup kecewa dan prihatin dengan kondisi FDK saat ini. Jumlah mahasiswa baru mencapai 812 orang, tetapi tidak dibarengi dengan kapasitas ruang kelas yang memadai,” katanya.
Menurutnya, pengalihan fungsi ruangan tersebut turut berdampak pada kegiatan akademik dan non-akademik Walisongo yang telah direncanakan.
“Seluruh kegiatan akademik maupun non-akademik yang menggunakan teater dan aula dibatalkan selama September karena ruangan tersebut dialihkan untuk perkuliahan mahasiswa FDK,” ujarnya.
Ia mengatakan DEMA bersama Organisasi mahasiswa (Ormawa) FDK akan melakukan audiensi dengan pihak birokrasi terkait hal tersebut.
“Saya bersama kawan-kawan Ormawa FDK akan melakukan audiensi dengan birokrasi untuk menindaklanjuti persoalan ini agar dapat menemukan solusi yang tepat,” jelasnya.
Ia turut meminta birokrasi memastikan peningkatan jumlah mahasiswa diikuti dengan penyediaan fasilitas yang layak.
“Birokrasi harus bertanggung jawab dengan menyediakan fasilitas yang layak bagi mahasiswa baru tanpa merugikan mahasiswa lainnya,” tegasnya.
Ia juga berharap kebijakan penerimaan mahasiswa baru ke depan mempertimbangkan kapasitas ruang kelas dan ketersediaan tenaga pendidik.
“Kuota penerimaan mahasiswa harus disesuaikan dengan daya tampung kelas serta ketersediaan tenaga pendidik yang terlibat,” harapnya.
Sementara itu, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Aisyah mengatakan dirinya memperoleh informasi mengenai perubahan ruang perkuliahan secara mendadak melalui grup WhatsApp kelas.
“Saya mengetahui informasi tersebut dari grup WhatsApp kelas, dan pemberitahuannya cukup mendadak,” ucapnya.
Ia menilai perubahan ruang secara mendadak menimbulkan kegiatan perkuliahan menjadi kurang produktif
“Perubahan ruangan secara mendadak cukup mengganggu sehingga perkuliahan kurang kondusif. Ruangan aula dan teater merupakan ruang publik bukan ruang kelas, sehingga kenyamanannya berbeda,” tuturnya.
Selain kondisi ruangan, Ia juga menyoroti perpindahan perkuliahan di lokasi yang berbeda menjadi kendala bagi mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
“Beberapa kelas dipindahkan hingga kampus 1 dan kampus 2. Mahasiswa yang tidak membawa kendaraan pribadi tentu akan kesulitan untuk menjangkaunya,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengatakan fasilitas dasar di sejumlah ruangan alternatif masih cukup menunjang perkuliahan.
“Fasilitas seperti meja, kursi, dan proyektor sebenarnya sudah cukup memadai, tetapi tidak tersedia papan tulis,” ucapnya.
Menurutnya, ketersediaan ruang perlu disesuaikan dengan jumlah mahasiswa agar proses perkuliahan dapat berlangsung secara kondusif.
“Semoga ketersediaan ruang segera dibenahi dan ditingkatkan karena jumlah mahasiswa FDK terus bertambah, sedangkan ruang kelas masih sangat terbatas,” tutupnya.
Fayza Puja Az-Zahwa, Mahasiswa Prodi Bimbingan Penyuluhan Islam, menyebutkan beberapa ruangan pengganti untuk kegiatan perkuliahan.
“Ruangan perkuliahan yang awalnya di ISDB digeser ke ruang teater, laboratorium dakwah, laboratorium bimbingan konseling islam (LBKI), ruang sidang, dan lain-lain,” sebutnya.
Dirinya mengaku lokasi pengganti tersebut memiliki fasilitas yang kurang memadai untuk berlangsungnya perkuliahan.
“Tempat-tempat ini kurang nyaman jika digunakan untuk pembelajaran, karena ada yang tidak ada kursinya dan harus lesehan, tidak ada TV/LCD/monitor untuk menunjang pembelajaran,” jelasnya.
Lanjutnya, Fayza menuturkan beberapa dosen meminta perkuliahan dilaksanakan di ruang kelas pada umumnya.
“Seperti ketika pembelajaran di teater lantai 3, dosen meminta agar pindah ke ruang kelas di Fakultas. Padahal sekarang mencari ruang kelas pengganti sesusah itu,” sambungnya.
Ia merasa perubahan ruang kelas secara mendadak mempengaruhi Ormawa yang akan menyelenggarakan kegiatan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.
“Organisasi Mahasiswa (Ormawa) seperti HMJ ikut terdampak dari kebijakan terbaru ini. Susah untuk mencari tempat pengganti untuk melakukan acara seperti seminar, padahal opsi tempat sudah dipikirkan dan sudah mengurus perizinan. Namun, ternyata ruangan teater malah digunakan untuk perkuliahan,” paparnya.
Sisi (bukan nama sebenarnya) mahasiswa Prodi Manajemen Haji dan Umroh mengaku penggunaan ruangan teater UIN Walisongo kurang memadai untuk berlangsungnya perkuliahan.
“Saya mendapat kelas pengganti yang kurang layak untuk dijadikan ruangan pembelajaran, di mana kami membutuhkan papan tulis, kursi dan meja untuk menulis. Memang untuk sementara, tapi menunggu gedung baru selesai juga lama,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa bisa segera mendapatkan ruang perkuliahan yang lebih layak.
“Semoga segera mendapatkan ruang kelas yang lebih nyaman dan layak untuk kedepannya,” ucapnya.
Reporter: Nur Rofiqoh Nabila
Editor: Azkiya Salsa Afiana


