
Amanat.id- International Volunteers for Peace (IVP) menggelar workshop pemberdayaan pemuda dengan tema “Story Telling for Social Change: Your Voice, Your Story, Your Action” yang bertempat di Auditorium 1 Kampus 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Jumat (26/6/2026).
Ketua Pelaksana, Heri Condro Santoso mengatakan International Volunteers for Peace dibangun dengan isu yang berfokus pada perdamaian yang mencakup literasi, lingkungan, dan sosial.
“Latar belakang IVP berfokus pada isu perdamaian yang turunannya adalah isu literasi, lingkungan, dan sosial. Dalam hal ini kami memiliki keyakinan bahwa anak muda memiliki potensi yang luar biasa,” katanya.
Heri menilai generasi muda memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
“Di tengah berbagai persoalan saat ini, anak muda mesti hadir dengan kepedulian dan empati bagi lingkungan masing-masing. Karena kita merasa anak muda tidak bisa tinggal diam jika melihat lingkungan tempat mereka bertumbuh penuh dengan masalah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bentuk paling sederhana upaya perubahan untuk generasi muda adalah dengan soft skill story telling.
“Metode yang paling sederhana adalah dengan story telling. Semua orang bisa story telling kalau mau dan mau belajar. untuk itu kami melakukan workshop yang bekerjasama dengan berbagai elemen,” titahnya.
Kegiatan workshop tersebut, lanjut Heri, menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang untuk berbagi pengalaman.
“Kami menghadirkan rekan jurnalis sebagai sisi idealisme, Aris Mulyawan yang juga ketua AJI Semarang. Juga anak muda yang sudah membangun perubahan melalui gerakan literasi dan sosialnya, Syafiq Yunensa, serta wanita yang terlibat dalam upaya perubahan lingkungan yaitu Rizqi Izzati,” sambungnya.
Heri mengatakan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut melebihi kuota awal yang disediakan.
“Jadi kami membuka 30 kuota yang kemudian kita tambahkan sehingga total database-nya ada 52 yang daftar. Yang hadir dari berbagai kalangan seperti SMA, Aliyah, ada dari berbagai kampus di Jawa Tengah dan dari komunitas-komunitas literasi,” terangnya.
Heri menjelaskan kegiatan tersebut dirancang bersifat workshop agar peserta dapat memahami sekaligus mempraktikkan teknik story telling.
“Kegiatan ini bersifat workshop. Artinya belajar, memahami, menyelami teknik dasar apa itu storytelling, bagaimana rumusannya, bagaimana membuatnya secara langsung, dan ada praktiknya,” jelasnya.
Bagi Heri, kelak kegiatan tersebut dapat mendorong lebih banyak generasi muda menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
“Harapannya bisa lebih menggemakan bahwa anak muda ini memiliki potensi yang luar biasa kalau mereka mau, mereka bisa membangun, bisa melakukan perubahan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mereka di lingkungan masing-masing,” katanya.
Ia berharap peserta mampu menghasilkan karya sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan sosial.
“Harapannya nanti teman-teman memiliki karya sesuai dengan yang ingin diekspresikan sebagai bentuk kepedulian anak muda sebagai agen sosial untuk memulai aksi perubahan di lingkungan masing-masing,” harapnya.
Peserta Asal Mahad Aly Ashabul Kahfi, Nanda Agung berpartisipasi dalam kegiatan tersebut untuk menambah relasi dan belajar konsep story telling.
“Saya datang ingin menambah relasi dan belajar story telling. Karena tentu materi story telling sangat bermanfaat karena saya ingin menjadi content creator,” tuturnya.
Dari kegiatan workshop tersebut Agung mengaku mendapatkan ilmu baru dan bekal untuk dirinya menjadi content creator.
“Setelah mengikuti workshop ini saya jadi lebih mengerti alur dan konsep dalam story telling untuk bekal saya,” ucapnya.
Peserta dari komunitas Semarang Book Party, Sofina Az-Zahra Rafflis mengaku datang ke workshop dengan membawa keresahan yaitu novelnya yang tak kunjung selesai.
“Saya percaya menulis bagian dari story telling lewat tulisan. Saat datang kesini saya membawa keresahan yaitu novel yang saya tulis belum kunjung selesai karena terlalu mencampuradukkan perasaan karakter fiksi dalam novel ke diri sendiri,” tuturnya.
Setelah mengikuti kegiatan workshop, Sofina mengaku keresahannya sudah terjawab.
“Setelah mengikuti workshop saya sudah mendapatkan jawaban dari keresahan tersebut dan akan saya praktekkan,” sambungnya.
Sofina mengatakan bahwa kegiatan workshop tersebut menjadi langkah baik untuk generasi muda sebagai agen perubahan.
“Ternyata saya melihat banyak orang yang saling peduli sesama manusia. Hal ini mengingatkan saya bahwa kita diciptakan untuk saling membantu. Jadi, ini mungkin adalah langkah awal untuk menjadi dunia yang lebih baik,” tutupnya.
Reporter: Azkiya Salsa Afiana


