
Slogan “Indonesia gawat literasi” bukan hanya sebatas peringatan saja. Banyak spekulasi tentang slogan tersebut seolah-olah menyalahkan masyarakat yang malas dan tidak minat membaca. Padahal sebenarnya, faktor ekonomi yang menjadi penghalang bagi mereka mengakses literasi.
Mungkin untuk beberapa tahun lalu dengan uang Rp50.000 sudah bisa mendapatkan buku favorit. Jika dibandingkan dengan saat ini, harga rata-rata buku di pasaran berkisar Rp75.000 hingga Rp100.000 lebih. Tentu hal tersebut tidak sebanding dengan pendapatan per hari yang hanya Rp84.000 jika dihitung dari Upah Minimum Pendapatan (UMP) terkecil yang hanya berjumlah Rp2.100.000.
Dengan penghasilan yang terbilang mepet, masyarakat menjadi dilema untuk membeli buku atau melengkapi kebutuhan rumah. Sehingga mereka harus berpikir panjang sebelum memutuskan untuk membeli buku yang semakin tidak ramah di kantong.
Dari celah tersebut, para pembajak memanfaatkan peluang untuk menjual buku bajakan dengan harga di bawah buku asli dari penerbit. Para pembajak dapat memberikan harga murah dikarenakan mereka hanya menjiplak dan tidak terlibat dalam proses panjang mulai dari menulis, produksi resmi, perizinan hak cipta, hingga distribusi legal. Dari adanya pembajak buku tersebut, penulis yang sudah berusaha keras merampungkan tulisan tidak mendapat apapun, apalagi royalti.
Literat Artinya Menghargai
Beberapa orang mungkin akan menganggap jika kehadiran buku bajakan jadi alternatif terbaik untuk mengakses literasi di tengah naiknya harga buku. Namun cara pandang tersebut sangat merugikan orang-orang dibalik penerbitan buku, terutama penulis. Adanya buku bajakan merampas hak-hak serta royalti yang seharusnya mereka dapatkan.
Dengan royalti saja penulis masih hidup di antara garis sejahtera dan prasejahtera. Dari penjualan setiap bukunya penulis hanya menerima 15%. Itu berarti ketika sebuah buku seharga Rp 50.000, penulis akan menerima sekitar Rp 7.500 dari hasil penjualan satu bukunya.
Permasalahan tersebut membuat profesi penulis semakin jarang diminati karena tidak dapat menghidupi. Jika keberadaan buku bajakan terus dibenarkan, maka yang rugi bukan hanya penulis, namun juga pembaca. Karena maraknya buku bajakan dapat berpengaruh pada motivasi berkarya penulis yang pada akhirnya akan berdampak pada ekosistem literasi.
Membenarkan pembajakan buku berarti tidak literat. Sikap abai terhadap nilai etika, keadilan, dan penghargaan terhadap kerja kreatif adalah bagian dari literasi itu sendiri. Karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mendefinisikan literasi bukan hanya kemampuan membaca serta memahami tulisan. Namun juga kecakapan hidup yang mencakup membedakan benar dan salah secara moral dan hukum.
Jalan Tengah Mengakses Literasi
Masih ada jalan mendapatkan akses literasi tanpa harus membeli buku bajakan. Mulai dari hal sederhana di antaranya dengan mengikuti komunitas buku. Saat ini sudah marak berbagai komunitas buku di berbagai daerah. Dengan mengikutinya, kita akan mendapat pertemanan yang sama-sama peduli tentang literasi.
Dari komunitas tersebut, kita dapat memulai dengan saling bertukar bacaan atau upaya kolektif untuk membeli buku. Selain itu, bisa dengan mencoba membeli buku yang kemudian dibaca, setelah selesai lalu dijual kembali dengan harga yang lebih murah. Dengan cara ini, kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku baru serta dapat berhemat.
Agar lebih efisien kembali, membeli buku di momen pra pesan yang biasanya banyak potongan harga. Bisa juga mencari buku bekas, karena umumnya harga sudah berkurang banyak. Kemudian setelah buku selesai dibaca kita dapat menjualnya kembali.
Selain itu bisa juga mencari versi e-book di platform digital langsung dari penerbit. Pada umumnya versi e-book dijual dengan harga yang lebih murah daripada cetak. Bahkan, ada juga platform yang menyediakan e-book legal secara gratis seperti Ipusnas yang bisa di akses secara bebas.
Pada intinya, masih ada berbagai cara untuk mengakses literasi tanpa harus mencuri karya orang lain. Menormalisasi membeli buku bajakan sama dengan sedang merusak ekosistem literasi itu sendiri karena ada banyak orang yang akan dirugikan dengan hadirnya buku bajakan, terutama penulis.
Penulis: Anisa Atun Maryam
Editor: Hikam


