By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Gaya Hidup
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Opini

Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Gaya Hidup

Last updated: 29 Januari 2025 8:43 am
Azkiya Salsa Afiana
Published: 29 Januari 2025
Share
SHARE
algoritma media sosial, cara kerja algoritma, dampak media sosial, dampak algoritma media sosial, peran media sosial
Ilustrasi seseorang memegang ponsel (pixabay.com).

Saat ini budaya konsumerisme banyak dipengaruhi oleh algoritma media sosial yang seolah menjadi pegangan utama masyarakat dalam menentukan gaya hidup maupun kehidupan sehari-hari. Berbagai iklan produk, endorsement selebriti, serta konten viral di media sosial secara efektif membentuk persepsi masyarakat tentang apa yang dianggap penting dan bergengsi. Contoh nyata, iklan produk kecantikan yang menampilkan influencer dengan kulit sempurna dapat mendorong masyarakat untuk membeli produk tersebut dengan ekspektasi dapat mencapai standar kecantikan yang sama atau konten yang menampilkan selebriti memamerkan barang-barang berharga sebagai simbol kesuksesan.

Contents
Cara Kerja Media SosialBentuk Resistensi

Narasi yang dibangun media sosial adalah bahwa “kehidupan ideal” dapat dicapai melalui konsumsi barang-barang tertentu. Hal lain juga terlihat dari tren fashion yang mana para influencer memengaruhi followers mereka untuk membeli pakaian atau aksesoris tertentu yang tengah populer.

Dampak dari budaya konsumerisme tersebut berujung pada kebiasaan belanja berlebihan yang memengaruhi kemampuan finansial. Sehingga melupakan realita yang mana hal tersebut dapat menyebabkan permasalahan terhadap keuangan, baik itu sifat boros ataupun hutang. Selain itu, tekanan untuk memenuhi standar gaya hidup yang ditampilkan oleh media sosial dapat menimbulkan perasaan tidak puas, rendah diri, maupun membandingkan diri dengan orang lain sehingga memengaruhi kesehatan mental individu yang mengarah pada hal negatif.

Cara Kerja Media Sosial

Media sosial memainkan peran signifikan dalam membangun stigma dan membentuk persepsi masyarakat. Dengan kemampuannya menyebarkan informasi secara cepat dan luas, media sosial memiliki kekuatan untuk menciptakan dan memperkuat stigma terhadap individu, kelompok sosial, ataupun isu tertentu. Konten yang viral, seperti meme, video, atau artikel, dapat memperkuat stereotip atau pandangan dalam masyarakat.

Dengan penggunaan algoritma yang canggih, media sosial dapat menyebarkan pandangan-pandangan tersebut ke khalayak luas sehingga membentuk opini publik. Stigma ini seringkali menciptakan pengaruh negatif terhadap individu atau kelompok yang menjadi sasaran, memengaruhi cara orang lain memperlakukan mereka, serta memengaruhi citra diri dan identitas mereka.

Instagram dan TikTok, dua platform media sosial yang sangat populer, bekerja dengan cara yang unik untuk memengaruhi masyarakat. Algoritma Instagram dan TikTok dirancang untuk menampilkan konten yang paling sesuai dengan minat dan perilaku tiap pengguna. Cara kerjanya adalah dengan menganalisis aktivitas pengguna seperti jenis konten yang disukai, diikuti, atau dibagikan. Konten yang ditampilkan pada feed atau halaman “For You” sangat personal dan dapat memengaruhi cara pengguna berpikir dan berperilaku.

Misalnya, melihat gaya hidup glamor yang dipamerkan oleh influencer di Instagram dapat mendorong pengguna untuk membeli barang-barang mewah yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. TikTok, dengan video pendek yang mudah diakses, dapat menyebarkan tren dan tantangan yang viral, memengaruhi cara berpakaian, berbicara, atau bertindak. Konten yang sering dilihat dapat secara tidak sadar membentuk standar sosial dan budaya baru, sehingga pengguna cenderung meniru apa yang mereka lihat agar merasa diterima dalam komunitas tersebut.

Dalam artikel Journal of Mandalika Literature yang berjudul Media dan Konsumerisme: Studi Kritis Pahlawan Konsumtif dalam Budaya Populer, algoritma media sosial seperti Instagram, Facebook, atau TikTok berperan aktif dalam membentuk narasi dominan baik dalam konteks politik, budaya, maupun ekonomi. Pengguna akan sering disajikan konten yang sesuai dengan preferensi pribadi mereka sehingga meningkatkan efek konfirmasi bias dan memperkokoh pandangan yang sempit. Individu yang sering terpapar oleh narasi konsumtif dari media massa, mulai mengidealkan gaya hidup instan yang diperoleh melalui konsumsi. Media menciptakan figur konsumtif yang mempromosikan prinsip bahwa kesuksesan dan nilai diri seseorang diukur dari apa yang mereka miliki.

Sebagai contoh, iklan seringkali menggambarkan orang yang membeli barang mewah sebagai individu yang sukses, bahagia, dan dihormati. Narasi ini mengakar kuat di masyarakat, yang kemudian merasa bahwa untuk mencapai kebahagiaan, mereka harus terus-menerus mengonsumsi barang-barang baru yang sebenarnya tidak diperlukan.

Bentuk Resistensi

Di tengah maraknya influencer kapitalis yang menggaungkan budaya konsumerisme, muncul juga tren yang berlawanan di tengah-tengah masyarakat: gaya hidup minimalis. Tren di media sosial tersebut berisikan konten dengan bentuk penyadaran bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup berasal dari kesederhanaan. Terlihat dari berbagai konten yang mempromosikan pengurangan kepemilikan barang, memilih kualitas dibanding kuantitas, dan berfokus pada hal yang benar-benar membawa kebahagiaan.

Platform media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram menjadi alat penting dalam menyebarkan narasi alternatif. Aktivis, kreator independen, dan merek lokal memanfaatkan platform tersebut untuk menyampaikan pesan antikonsumerisme dan pentingnya kembali ke nilai-nilai manusiawi. Tagar #nobuychallenge atau #sustainableliving yang ramai di sosial media TikTok misalnya, membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk budaya konsumtif, konten decluttering (membersihkan rumah dari barang-barang yang tidak diperlukan), tips memilih pakaian dengan capsule wardrobe (lemari pakaian minimalis), serta pentingnya memprioritaskan hubungan sosial dibanding materi.

Meskipun narasi alternatif mulai ramai digaungkan, mereka masih menghadapi tantangan besar, yakni dominasi media massa dan iklan global. Industri periklanan menghabiskan miliaran dolar setiap tahun untuk mempromosikan produk dan memprioritaskan pendapatan iklan sehingga memperkuat budaya konsumtif. Namun, narasi alternatif memiliki potensi untuk mengubah paradigma konsumsi masyarakat. Dengan meningkatnya kesadaran tentang dampak buruk konsumsi berlebihan, semakin banyak individu yang mulai mempertanyakan narasi kebutuhan palsu yang didorong oleh media sosial.

Penulis: Azkiya Salsa Afiana

Dekonstruksi Identitas dan Usaha Pemaknaan Diri di Ruang Virtual
Sumatra Jadi Peringatan, Papua Adalah Kesempatan
Panti Jompo, Bukan Warna Kusam di Akhir Jalan
Monkey D. Luffy dan Visi Mahasiswa yang Entah Bagaimana
Tumpulnya Pemahaman Banyak Anak Banyak Rezeki
TAGGED:algoritma media sosialcara kerja algoritmadampak algoritma media sosialdampak media sosialperan media sosial
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Mengedepankan Toleransi, FITK Kembali Adakan Tarbiyah Expo
Varia Kampus

Mengedepankan Toleransi, FITK Kembali Adakan Tarbiyah Expo

Redaksi SKM Amanat
31 Maret 2022
Jatuh Sebagai Ciuman – Puisi Hasan Tarowan
Masuk Kuliah 12 Agustus, Mahasiswa Baru Keluhkan Tidak Ada Waktu Istirahat
Patah Semangat Berbulan-bulan, Ular Tangga Raksasa Antarkan Vinda Sebagai Wisudawan Terbaik FITK
Adakan Show Up, ULC Tampilkan Berbagai Pentas Seni
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Gaya Hidup
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Gaya Hidup
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?