By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ita Martadinata dan Pemerkosaan Massal 1998: Fakta yang Dirabunkan dari Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
ArtikelNasional

Ita Martadinata dan Pemerkosaan Massal 1998: Fakta yang Dirabunkan dari Penulisan Ulang Sejarah Indonesia

Last updated: 29 Juni 2025 10:27 am
Redaksi SKM Amanat
Published: 29 Juni 2025
Share
SHARE
ita martadinata, pemerkosaan massal 1998, penulisan ulang sejarah indonesia, tragedi 1998, fadli zon
Potret pemakaman atau peringatan kematian Ita Martadinata Haryono (BBC.com)

Dalam proyek ambisius Kementerian Kebudayaan untuk menulis ulang yang sejarah Indonesia, muncul pernyataan kontroversi dari Menteri Fadli Zon yang mengatakan bahwa pemerkosaan massal 1998 sebagai sebuah rumor semata dan tidak memiliki bukti kuat.

Pernyataan tersebut langsung menuai kritik dari berbagai kalangan. Terutama para aktivis perempuan yang pernah menyaksikan langsung bagaimana peristiwa pemerkosaan massal terjadi pada Mei 1998 silam. Beberapa bukti dipaparkan untuk membalas klaim Menteri Kebudayaan, Fadli Zon yang dinilai telah menyalahi fakta sejarah.

Ironisnya dengan banyaknya bukti dan saksi yang yang telah diberikan, dirasa tidak mencukupi untuk dijadikan fakta adanya sebuah peristiwa yang mengenaskan pada tahun 1998. Adanya penolakan sejarah oleh Fadli Zon mengingatkan pada sebuah fenomena yang disebut dengan denial culture. Di mana adanya penyangkalan terhadap bukti atau fakta yang tidak sesuai dengan kepentingan individu atau kelompok dalam konteks sosial, politik, maupun sains.

Satu di antara para aktivis perempuan yang menentang keras ucapan Fadli Zon adalah Ita Fatia Nadia selaku sosok yang pernah mendampingi langsung para korban. Seperti saat diwawancarai oleh BBC News Indonesia, Ita bercerita pengalamannya ketika menjabat sebagai direktur yayasan Kalyanamitra selaku lembaga pemerhati isu perempuan. Saat itu, Ita begitu sering menerima pengaduan adanya kasus pemerkosaan. Bahkan, korban termuda yang melapor diketahui masih berumur 11 tahun dan meninggal dipelukannya akibat sebuah botol yang dimasukkan ke alat reproduksinya hingga pecah.

Selain itu, kasus kekerasan seksual lain juga menimpa dua mahasiswi Trisakti yang dipaksa masuk ke dalam mobil oleh empat orang pria saat menunggu bus di sekitar Jembatan Slipi, Jakarta Barat. Di dalam mobil mereka dilecehkan, bahkan salah satu pria memotong payudara mahasiswi tersebut.

Berdasarkan laporan akhir Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), jumlah korban kekerasan seksual mencapai angka 168 dan 85 kasus di antaranya telah diverifikasi. Rincian korban yang telah diverifikasi terdapat 52 orang korban perkosaan, 14 orang korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 orang korban penyerangan/penganiayaan seksual, dan 9 orang korban pelecehan seksual. TGPF juga menemukan fakta bahwa rata-rata kasus pemerkosaan berupa gang rape, yaitu kondisi korban diperkosa secara bergantian oleh beberapa orang dalam satu waktu.

Korban peristiwa pemerkosaan massal Mei 1998, 90%-nya berasal dari perempuan etnis Tionghoa. Mereka diburu karena didasari rasa iri dan benci. Sentimen hadir akibat jarak ketimpangan sosial antara etnis Tionghoa dengan etnis pribumi. Memicu kekerasan, penjarahan dan tindakan tidak manusiawi yang dianggap mereka sebagai ekspresi kekecewaan.

Ita Martadinata, Saksi yang Dibungkam dengan Kematian

Ingatan mengenai kasus kekerasan seksual Mei 98 tidak bisa dipisahkan dari kisah Ita Martadinata Haryono. Seorang gadis keturunan Tionghoa yang menjadi aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sejak belia. Ita Martadinata merupakan sosok yang berani mengajukan diri bersama ibunya, Wiwin Haryono untuk memberi kesaksian tentang pemerkosaan masif terhadap orang-orang Tionghoa Indonesia selama kerusuhaan Mei 1998.

Ita Martadinata juga termasuk korban pemerkosaan saat itu, tetapi dia bangkit dan melawan traumanya. Keberaniannya itu menumbuhkan harapan baru bagi bangsa Indonesia terutama para korban kekerasan seksual. Ia dijadwalkan akan bersaksi kepada dunia dalam forum PBB atas apa yang menimpanya dan para korban kekerasan.

Namun, beberapa hari sebelum keberangkatanya ke Amerika, Ita Martadinata lebih dulu ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya sendiri pada tanggal 9 Oktober 1998. Terdapat luka tebasan di lehernya, beberapa tusukan ditemukan di bagian tubuh seperti pada perut, dada, dan ulu hati, sedangkan tangannya memegang kabel.

Di hari kematiannya, beberapa anggota kepolisian dan anjing pelacak dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Hasil otopsi menyatakan Ita Martadinata sebagai pengguna obat-obatan terlarang. Bahkan, ia dituduh sebagai pekerja seks dengan temuan bekas luka pada bagian vital. Tuduhan-tuduhan tersebut langsung ditepis sang ibu yang menduga pembunuhan anaknya disebabkan keikutsertaannya dalam Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK).

Pada akhirnya di hari yang sama dengan kematiannya, pihak kepolisian menggelar konferensi pers. Kasus pembunuhan Ita Martadinata dinyatakan murni sebuah tindakan kriminal dengan tersangka tetangga korban sendiri, yaitu Suryadi. Di hadapan wartawan Suryadi mengaku membunuh Ita karena ketahuan saat hendak mencuri.

Ariel Heryanto dalam “Rape, Race, and Reporting” yang termuat dalam Reformasi: Crisis and Change in Indonesia menyatakan bahwa pembunuhan tersebut sengaja direncanakan dan mengandung unsur politik. Serangan itu merupakan balasan atas kampanye anti-pemerkosaan yang diserukan Ita Martadinata dan upaya pencegahan kesaksian di forum internasional.

Kabar kematian Ita Martadinata menjadi mimpi buruk bagi para korban kekerasan seksual. Mereka semakin menutup diri dan sebagian memilih pergi ke luar negeri untuk melanjutkan hidup yang dianggapnya lebih tenang. Bahkan setiap diminta memberi kesaksian, baik para korban maupun keluarganya selalu mempertanyakan jaminan keselamatan dengan alasan takut dibunuh. Hal tersebut akhirnya menjadi akar terhambatnya penyelesaian kasus-kasus kekerasan seksual massal 1998.

Hingga saat ini tidak diketahui siapa sebenarnya para pelaku tersebut. Namun, berdasarkan temuan Komnas Perempuan, pelaku kekerasan seksual di antaranya merupakan oknum aparat hukum dan pejabat publik.

Penulis: Nijam Alfatul Khasna
Editor: Hikam Abdillah

Menkominfo Rudiantara: Industri Pers Cetak Tidak Akan Mati
Antara Mencari dan Menikmati Kebahagiaan
Mencari Kebahagiaan dengan Romantisasi Hidup
Pentingnya Kesadaran Menjaga Kesehatan Mental bagi Mahasiswa
Media Berdarah di Tangan Pemerintah
TAGGED:fadli zonita martadinatapemerkosaan massal 1998penulisan ulang sejarah indonesiatragedi 1998
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
ngeri-ngeri sedap komunikasi anak dan orang tua
Film

Ngeri-Ngeri Sedap: Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

Redaksi SKM Amanat
1 Desember 2022
Manusia yang Kehilangan Jati Dirinya
UKM Genesa Gelar Music Art dan Dramatari “Sang Pritha” pada Harlah ke-7
Tumpulnya Pemahaman Banyak Anak Banyak Rezeki
Hari Terakhir Korelasi 2022, Sampah Berserakan di Tribune GSG UIN Walisongo
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ita Martadinata dan Pemerkosaan Massal 1998: Fakta yang Dirabunkan dari Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ita Martadinata dan Pemerkosaan Massal 1998: Fakta yang Dirabunkan dari Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?