
Amanat.id- Universitas Katolik Soegijapranata berkolaborasi dengan Lola Amaria Production menggelar acara Nobar (Nonton bareng) dan diskusi film Eksil sebagai bentuk penggalangan dana untuk bencana banjir di Aceh, Jumat (6/2/2026).
Dosen Prodi Ilmu Hukum UNIKA Soegijapranata, Donny Danardono turut hadir sebagai salah satu narasumber acara tersebut membahas Eksil yang dimaksud dalam film.
“Eksil adalah para mahasiswa yang dikirim oleh Soekarno untuk kuliah di luar negeri, namun pada zaman Soeharto mereka dianggap terlibat dengan PKI, kemudian status kewarganegaraan mereka dicabut paksa,” ungkapnya.
Donny menjelaskan meski para eksil telah berganti kewarganegaraan, mereka masih memiliki nasionalisme yang tinggi terhadap Negara Indonesia.
“Berbeda dengan orang Kurdistan yang langsung berbaur setelah berpindah kewarganegaraan, Eksil cenderung merasa berat hati, bahkan ada yang langsung membeli komputer sebagai bentuk kepedulian mengenai perkembangan Indonesia,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa para Eksil sangat merindukan Indonesia, meski mereka berada di negara lain.
“Ada Eksil yang menanam pohon pisang dan bambu di dalam rumah sebagai bentuk mengobati rasa rindu terhadap Indonesia,” ujarnya.
Donny memaparkan saat ini anak muda perlahan kehilangan rasa nasionalismenya akibat percampuran bahasa.
“Saat ini ada yang namanya logat jaksel, yaitu percampuran antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Mereka malu menggunakan Bahasa Indonesia tapi juga tidak mampu jika sepenuhnya menggunakan Bahasa Inggris,” jelasnya.
Bagi Donny, akar dari terpupuknya rasa nasionalisme adalah dengan berbahasa.
“Bagi saya akar dari nasionalisme itu bahasa. Dulu sebelum sumpah pemuda terjadi, masyarakat hanya menggunakan bahasa daerah masing-masing sehingga sulit berkomunikasi. Setelah Bahasa Indonesia disahkan seluruh masyarakat bisa bersatu karena menggunakan bahasa yang sama,” terangnya.
Ia mengatakan bahwa tidak semua negara memiliki bahasa persatuan seperti Bahasa Indonesia.
“Negara tetangga kita Singapura memiliki tiga etnis yang ketika ada pengumuman itu harus menggunakan tiga bahasa, saya tidak tahu bagaimana nasionalisme terbentuk di sana,” tambahnya.
Ia berpesan agar nasionalisme bisa terus terpupuk dengan penggunaan bahasa yang baik sesuai kaidah.
“Untuk menjaga nasionalisme di zaman sekarang, kita perlu menggunakan Bahasa Indonesia yang benar tanpa dicampur-campur,” tutupnya.
Reporter: Putri Natasya Islamadina
Editor: Ragil Alfiyyah



