By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ironi Kehidupan Buruh Perempuan di Negeri Orang
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Ironi Kehidupan Buruh Perempuan di Negeri Orang

Last updated: 1 Mei 2019 8:56 pm
Agus Salim I
Published: 1 Mei 2019
Share
SHARE
(Sumber Foto: www.voaindonesia.com)

Kehidupan perempuan dalam dunia buruh hampir selalu berujung pada penindasan. Kondisi ruang kerja dan kecilnya gaji yang diterima tidak sebanding dengan semangat mereka dalam melakukan pekerjaan. Tak ayal, gerakan perlawanan pun ramai-ramai mereka lakukan demi terciptanya sebuah keadilan.

Nahas, aksi yang mereka lakukan tidak berjalan mulus sesuai apa yang diperkirakan. Aparat keamanan yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi bumerang bagi mereka. Serangan represif pun bertubi-tubi menyambut ratusan buruh perempuan yang sedang asyik menggelar demonstrasi. Hal inilah yang kemudian memicu serangkaian gerakan perempuan di tengah gelombang ekspansi ekonomi di berbagai belahan dunia.

Berbagai gerakan yang muncul tersebut ternyata menyisakan sebuah sejarah megah. Sebagian buruh imigran perempuan, tak terkecuali Indonesia terpaksa harus meregang nyawa akibat kerasnya jalan perekonomian suatu bangsa.

Awal tahun 2018 lalu, seorang buruh perempuan asal Nusa Tenggara Timur harus merelakan satu-satunya nyawa yang ia punya. Adelina Sau harus tewas setelah disiksa secara brutal oleh majikannya di Malaysia (Kompas.com, 10/2/18).

Adelia Sau bukanlah satu-satunya imigran perempuan Indonesia yang harus bernasib tragis di negeri orang. Data dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) menyuguhkan pemandangan yang amat mengerikan. Betapa tidak, 35 imigran asal Indonesia harus meninggal dalam periode Januari-Mei 2018. Mirisnya, 34 imigran tersebut tak bernyawa di tangan majikannya di Malaysia dan satunya di Afrika Selatan.

Jika sudah demikian, mengapa tidak kita hentikan saja pengiriman TKW ke luar negeri? Atau masih mau menunggu korban keganasan kapitalisme selanjutnya?

Kapitalisme membunuh feminisme?

Kapitalisme itu tidak hanya menimbulkan ketidakadilan (khususnya dalam ranah ekonomi), tetapi sistem tersebut juga dapat merenggut hakikat kemanusiaan yang seharusnya dijaga satu sama lain. Begitulah kata Karl Max tentang kritiknya terhadap kapitalisme.

Adanya ketiadakadilan dalam sistem kapitalisme tersebut terjadi karena kapitalisme lebih mendewakan produksi yang memungkinkan laki-laki untuk berpartisipasi ke dalamnya. Sementara, perempuan sendiri direduksi menjadi kekuatan prokreasi.

Jika berkaca pada kasus di atas, agaknya benar apa yang dikatakan oleh Karl Max. Kaum pemilk modal mempunyai kuasa di atas segala dan bersikap semena-mena terhadap kaum buruh perempuan.

Bentuk kesewenangan itu terlihat ketika kaum pemilik modal secara tegas membangun sebuah segregasi terhadap buruh perempuan. Tak ayal, kesetaraan upah pun menjadi dalih kaum Borjuis (baca: pemilik modal) kala itu.

Memang, menjadi pemilik modal seperti halnya menjadi seorang penguasa. Ya, dengan uang yang berlimpah, mereka bisa melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Penindasan dan perampasan kebebasan adalah bukti nyata dari bentuk manipulasi uang. Tak jarang, mereka (baca: buruh) seringkali tiarap dan tak berani melawan kuasa kaum pemilik modal.

Jika sudah demikian, apakah kaum buruh harus selalu ditindas tanpa melakukan perlawanan?

Penulis: Agus Salim Irsyadullah

Buku Bajakan Dinormalisasi, Penulis Kehilangan Royalti
Berikan 6 Pertimbangan Ini, Agar Adik SMA Kalian Tak Salah Ambil Jurusan
Melawan Budaya Prokrastinasi Akademik
Lebih Bijak Menggunakan Kata “Terserah”
Fenomena Adult Tantrum pada Orang Dewasa
TAGGED:buruh perempuanhari buruhhari buruh internasional
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Pengukuhan Guru Profesional, UIN Walisongo, Mahasiswa PPG
UIN WalisongoVaria Kampus

Mahasiswa PPG Beri Kesan Pesan Ikuti Pengukuhan Guru Profesional UIN Walisongo

Redaksi SKM Amanat
28 Oktober 2023
Kerusakan Jalan Akibat Proyek, Kasubbag RT: Akan Ada Perbaikan
Arnaz Agung; Keterkaitan antara Konsistensi dan Skill Leadership Mahasiswa
Skema Pembayaran Ma’had UIN Walisongo Berubah, Begini Tanggapan Mahasiswa
2.466 Mahasiswa Ikuti KKN Mandiri UIN Walisongo Semarang Tahun 2022
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ironi Kehidupan Buruh Perempuan di Negeri Orang
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ironi Kehidupan Buruh Perempuan di Negeri Orang
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?