By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
Reading: Lebih Bijak Menggunakan Kata “Terserah”
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
SeARCH
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Lebih Bijak Menggunakan Kata “Terserah”

Last updated: 9 Maret 2022 9:18 pm
Nurul Fitriyanti
Published: 8 Maret 2022
Share
SHARE
Ilustrasi "terserah" (source: energibangsa.id)
Ilustrasi “terserah” (source: energibangsa.id)

Sering kita alami, ketika sedang bersama teman-teman dalam momen menentukan pilihan, muncul kata “terserah” dari mulut seseorang. Saat ingin memilih tempat makan misalnya, sebagian orang memilih menggantungkan pilihan kepada orang lain dengan kata “terserah”.

Orang sering mengandalkan kata “terserah” sebagai bentuk penghindaran diri terhadap tanggung jawab untuk memilih sesuatu. Dengan kata “terserah”, seakan ia bisa terlepas dari konsekuensi atas keputusan yang diambil teman-temannya.

Yang jelas, seperti kata Psikolog Pingkan Rumondor, kata “terserah” akan membuat bingung lawan bicara sehingga terdengar menyebalkan.

Jika diibaratkan, saat kita terlibat pembicaraan dengan orang lain dan orang itu hanya mengatakan “terserah”, tentu seakan sedang berbicara dengan tembok. Tidak ada feedback dan terkesan menjadi pembicaraan satu arah saja.

Banyak sebab orang memilih untuk menghindari diri dari andil dalam pengambilan suatu keputusan. Entah karena malas, tidak memiliki pendirian, atau bahkan terlalu takut atas pilihannya sendiri.

Dalam konteks ini, kata “terserah” menjadi simbol pesimisme bahwa orang tidak lagi memiliki kemampuan mengambil keputusan sendiri.

Padahal, jika merunut ungkapan filsuf Prancis Jean Paul Sartre, manusia diciptakan dengan kemampuan mengatur dan menentukan kebebasan dirinya. Orang yang tidak bisa menentukan pilihannya sendiri bukanlah orang yang merdeka atas dirinya.

Terlalu sering bilang “terserah” tidak akan menuntun kita untuk bisa berpikir kritis, saat seseorang mengucapkan kata “terserah”, pasti mereka telah kehilangan minat untuk menanggapi pembicaraan, seolah tidak lagi peduli terhadap apapun. Itu bisa menjadi sebab seseorang bersikap apatis.

Simbol Kekecewaan

Kata “terserah” sendiri memiliki makna yang cukup bias. Selain sebuah ungkapan atas ketidakmauan atau ketidakmampuan diri untuk menentukan pilihan, kata “terserah” juga menjadi ungkapan kekecewaan atas sesuatu yang tidak bisa kita kontrol.

Apakah saat seseorang bilang ”terserah” itu menjadi tanda jika ia sudah benar-benar pasrah dan ikhlas dengan apa yang akan terjadi?

Tentu tidak demikian. Sebab kata-kata seperti ”terserah” atau ”ya sudah” seringkali justru mewakili sikap yang dinamakan pasif-agresif. Psikolog Sosial UGM, Prof. Koentjoro, menilai kata “terserah” itu suatu bentuk ungkapan emosi seseorang.

Seperti pada kasus ketika Covid-19 sedang naik pada pertengahan 2020, tagar Indonesia Terserah sempat tranding. Tagar tersebut menjadi bentuk kekecewaan masyarakat atas kebijakan pemerintah yang tidak serius menanggapi kasus Covid-19.

Dalam kasus tersebut, kata “terserah” digemborkan sebab masyarakat tidak mampu berbuat banyak dalam mengontrol kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Pemerintahlah yang memiliki kuasa dalam menentukan kebijakan. Maka, kata terserah sangat terlarang keluar dari mulut pemerintah.

Kata “terserah” mungkin bisa digunakan sesekali jika memang sedang dalam posisi tidak memiliki kapabilitas yang cukup dalam menentukan sikap dan pilihan. Akan tetapi, terserah bukanlah pilihan yang bisa selalu diandalkan.

Apakah kita akan selamanya berada pada posisi tidak bisa menentukan pilihan atas kemauan dan kemampuan diri sendiri dan hidup bergantung pada kemauan dan kemampuan orang lain?

 

Penulis: Nurul Fitriyanti

Bahaya Flexing di Media Sosial
Akar Kenaikan Biaya Akses Perguruan Tinggi di Indonesia
Ita Martadinata dan Pemerkosaan Massal 1998: Fakta yang Dirabunkan dari Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Menyoal Media Masa Kini
Jangan Tanya Kapan Nikah
TAGGED:artikelArtikel psikologiTerserah
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Ormawa

6 UKM Kebanggaan Mahasiswa FPK UIN Walisongo

Agus Salim I
27 Agustus 2018
Bentuk Respons Laka Lantas Silayur, AMW Gelar Teklap dan Pernyataan Sikap
Kajur PBI Traktir 10 Mangkok Bakso bagi Mahasiswa yang Lakukan Ini
Bagaimana Bisa Cokelat Memiliki Efek Menenangkan?
Ribuan Maba UIN Walisongo Siap Hebohkan PBAK dengan 13 Formasi Paper Mob
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Lebih Bijak Menggunakan Kata “Terserah”
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Lebih Bijak Menggunakan Kata “Terserah”
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?