
Beberapa tahun terakhir, topik di media sosial Indonesia dipenuhi cerita-cerita kecil dari generasi muda tentang kebiasaan mereka saat pulang ke kampung halaman, seperti hari raya atau liburan akhir semester. Sebagian mengaku hanya singgah sebentar, sebagian lain sudah merencanakan kapan akan kembali ke perantauan bahkan sebelum pulang, dan tidak sedikit yang membungkusnya dengan humor ringan seolah itu sekadar pilihan praktis. Namun di balik cerita-cerita tersebut, muncul pengalaman yang cukup serupa: kelelahan menghadapi sesi pertanyaan ketika berkumpul dengan keluarga besar.
Pertanyaan tentang pekerjaan, rencana menikah, pencapaian hidup, hingga perbandingan dengan kerabat lain kerap muncul berulang dalam setiap pertemuan. Bagi sebagian anggota keluarga, hal itu mungkin dimaksudkan sebagai bentuk perhatian. Namun bagi banyak anak muda yang sedang merintis hidup di perantauan, percakapan semacam ini terasa seperti ruang evaluasi yang melelahkan. Jawaban yang mereka berikan seolah menjadi ukuran apakah hidup mereka sudah “cukup berhasil” di mata keluarga.
Dalam situasi seperti ini, memilih untuk tidak berlama-lama di kampung halaman sering kali bukan sekadar soal kesibukan di kota, melainkan juga cara untuk menjaga diri dari tekanan sosial yang terus berulang, sambil tetap berusaha mempertahankan hubungan dengan keluarga tanpa harus kehilangan ruang untuk bernapas.
Psikologi sosial memberi penjelasan tentang pengalaman ini melalui teori social comparison. Menurut Leon Festinger, manusia secara alami memahami dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Ketika percakapan menyentuh soal pencapaian hidup, proses perbandingan itu muncul hampir secara otomatis. Situasi yang terasa evaluatif dapat memicu kecemasan sosial, terutama ketika seseorang merasa dinilai oleh orang lain.
Namun fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan psikologi individu. Ia juga mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara masyarakat memahami hubungan sosial. Dalam masyarakat yang semakin kompetitif, kehidupan sering dipahami melalui indikator yang sederhana: pekerjaan, pendapatan, atau status hidup. Percakapan yang singkat dapat membawa implikasi sosial yang lebih besar. Apakah seseorang dianggap telah ‘berhasil’, ‘terlambat’, atau ‘belum sampai’.
Krisis Adab Modern
Di era kapitalisme seperti saat ini, hal-hal yang sebenarnya bersifat sekunder perlahan naik menjadi urutan utama dalam menilai manusia. Dari sinilah lahir perubahan yang lebih halus dalam kehidupan sosial saat ini. Kehidupan manusia yang sangat luas direduksi menjadi indikator yang paling terlihat.
Indikator ini semakin menyempit pada hal-hal yang tampak di permukaan, seperti penampilan di media sosial: jumlah pengikut, estetika foto, bagaimana seseorang membangun citra dirinya secara online, asal kampus, tidak jarang pula status relasi (menikah atau belum), atau kepemilikan aset seperti rumah dan kendaraan dijadikan ukuran sederhana untuk menilai sejauh mana seseorang sudah berhasil.
Percakapan keluarga pun dapat berubah tanpa disadari. Ruang kebersamaan perlahan terasa seperti ruang perbandingan. Dalam situasi seperti ini, keengganan sebagian generasi muda menghadiri silaturahmi mungkin bukan sekadar tanda malas bersosialisasi, tetapi juga reaksi terhadap budaya perbandingan yang semakin kuat.
Kondisi ini memperkuat siklus social comparison yang tidak sehat. Individu tidak hanya membandingkan dirinya secara spontan, tetapi juga terdorong oleh norma sosial yang secara tidak langsung “mengharuskan” adanya perbandingan tersebut. Akibatnya, interaksi dalam lingkup keluarga tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang aman, melainkan dapat berubah menjadi arena evaluasi yang implisit. Hal ini berpotensi memunculkan kelelahan emosional, kecemasan sosial, hingga kecenderungan untuk menarik diri dari situasi yang dianggap menekan.
Mengelola Ekspektasi Sosial
Salah satu langkah penting menanggapi situasi tersebut adalah dengan menyadari bahwa social comparison merupakan proses yang alami, sebagaimana dijelaskan oleh Leon Festinger. Artinya, tidak semua perbandingan harus diinternalisasi sebagai penilaian diri. Individu dapat mulai dengan membangun kesadaran bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali mencerminkan perspektif generasi atau nilai sosial tertentu, bukan ukuran mutlak atas keberhasilan hidup.
Selain itu, penting untuk melatih batasan diri dengan cara merespons secara tenang dan secukupnya tanpa merasa harus menjelaskan seluruh perjalanan hidup secara rinci. Mengalihkan percakapan ke topik yang lebih netral atau ringan juga dapat menjadi strategi sederhana untuk menjaga suasana tetap nyaman. Di sisi lain, memperkuat validasi internal seperti mengingat proses yang telah dijalani dan tujuan pribadi dapat membantu mengurangi ketergantungan pada penilaian eksternal.
Penting bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih empatik dengan memberi ruang bagi anak untuk bercerita tanpa interupsi atau penilaian cepat. Menghindari perbandingan dengan kerabat lain juga menjadi langkah krusial, karena perbandingan tersebut sering kali memperkuat rasa tidak cukup dan menjauhkan individu secara emosional. Sebaliknya, memberikan pengakuan sederhana atas usaha anak dapat memperkuat kepercayaan diri dan hubungan yang lebih hangat.
Perlu disadari bahwa setiap orang memiliki timeline kehidupan yang berbeda, sehingga standar keberhasilan tidak dapat diseragamkan. Dengan membangun kesadaran ini, interaksi dalam keluarga dapat kembali menjadi ruang yang aman dan suportif, di mana seseorang merasa diterima apa adanya dan tidak harus “membuktikan diri” setiap kali berkumpul bersama keluarga.
Penulis: Azkiya Salsa Afiana


