
Langit sore seakan menumpahkan seluruh lukanya. Awan kelabu berarak, bergulung seperti gelombang yang kehilangan arah. Butir hujan jatuh perlahan, memukul atap-atap rumah reyot di ujung gang, di sanalah seekor anjing tua duduk meringkuk di bawah pohon mangga yang sudah jarang berbuah.
Sebuah liontin bergelantung di leher bertuliskan nama “Seno”. Dulu bulunya cokelat keemasan, hangat seperti mentari musim panas. Kini kusam, basah, dan berat menempel di tubuh kurusnya. Nafasnya terengah, seperti sedang memanggul waktu yang terlalu berat.
Di depannya, dari sela-sela tirai plastik warung kopi yang terbuka setengah, seekor kucing belang dengan kalung bertuliskan nama “Nana” mengintip. Matanya yang hijau jernih memantulkan cahaya hujan, dalam tatapan itu ada sesuatu yang terluka. Seperti kaca yang retaknya tidak pernah diperbaiki.
Jauh sebelum waktu yang kini mereka jalani, keduanya hanyalah hewan peliharaan yang hidup dalam kehangatan kasih manusia. Mereka disayangi, dirawat, dan dijaga dengan penuh perhatian oleh pemiliknya masing-masing. Namun entah bagaimana takdir berbelok arah memisahkan mereka dari rumah yang pernah menjadi tempat pulang. Hingga pada suatu hari, takdir yang sama mempertemukan mereka, bukan pada pelukan hangat, melainkan jalanan yang keras dan penuh kesengsaraan dimana tempat hidup terasa jauh lebih kejam bagi seekor kucing dan anjing.
Mereka tidak pernah benar-benar berteman dari awal. Dunia pernah mengajarkan bahwa anjing dan kucing diciptakan untuk saling mengusir, bukan saling mengerti. Tapi rasa lapar, dingin, dan kesepian kadang lebih berkuasa daripada hukum alam.
Mereka pertama kali saling mendekat di malam musim hujan tahun lalu. Seno tersungkur di dekat selokan, tubuhnya menggigil, sementara Nana mendekat hanya untuk mengendus sisa roti yang jatuh dari kantong plastik di dekatnya. Seno menggeram lemah, suara itu lebih mirip rintihan. Nana justru tidak pergi, ia duduk di samping anjing itu dan berbagi tempat kering di bawah atap toko yang sudah tutup.
Sejak saat itu, mereka mulai mengerti bahasa diam satu sama lain. Seno akan mendorong potongan tulang yang ditemukannya ke arah Nana dan Nana akan meninggalkan setengah ikan goreng basi yang berhasil ia curi dari dapur manusia. Mereka tidak pernah tertawa, tidak pernah bersuara, tapi saling menghangatkan punggung di malam-malam hujan seperti ini.
Hari ini hujan turun lebih berat dari yang biasanya. Air mengalir deras di tepi jalan, membawa daun-daun busuk dan cerita-cerita yang tidak ingin diingat. Seno tahu tubuhnya semakin lemah. Ia mencoba berdiri, kakinya bergetar lalu jatuh. Nana berjalan keluar dari warung kopi menghampiri Seno, bulunya basah tertusuk dingin. Ia mendekati Seno dan menjilat wajahnya pelan.
“Kamu harus berteduh,” tatapan Nana seakan berkata.
Seno memejamkan mata. Ada rasa hangat di dadanya, tapi bukan dari tubuhnya sendiri. Ia tahu entah dari mana. Bahwa langkahnya di dunia ini tidak akan lama lagi.
Mereka berjalan pelan menuju sudut pasar yang sudah sepi. Nana memimpin, ekornya tegak, sesekali menoleh memastikan Seno masih di belakang. Tapi jarak di antara mereka semakin renggang, bukan karena enggan, melainkan karena langkah Seno terlalu berat.
Ketika sampai di sebuah gudang tua yang pintunya terbuka sedikit, Nana masuk lebih dulu, menunggu. Seno mencoba mengikuti, tapi hujan semakin deras, dan matanya mulai buram. Ia tersenyum setidaknya mencoba melihat Nana yang menunggunya di ambang pintu.
Kilatan petir memecah langit.
Seno ambruk di tanah berlumpur. Napasnya semakin dangkal. Nana berlari menghampiri, tubuh mungilnya basah kuyup. Ia berusaha mendorong tubuh Seno dengan kepala kecilnya, mengais tanah dengan kaki, seolah bisa membuat anjing itu berdiri lagi.
“Bangun… kita belum selesai berjalan,” begitulah kata yang seakan terdengar dari gerakan bibirnya yang kecil.
Tapi Seno hanya menatapnya, dengan mata yang perlahan kehilangan cahaya. Dalam tatapan itu, ada ucapan selamat tinggal yang lembut, tanpa kata, tanpa air mata. Hanya hujan yang menitik sebagai gantinya.
Nana mendekat, meringkuk di samping tubuh Seno. Ia menjilat bulu anjing itu, sedikit berusaha untuk menariknya meski hujan terus membasuhnya. Ia menolak meninggalkan tempat itu, bahkan ketika udara malam semakin menusuk, bahkan ketika tubuhnya sendiri mulai menggigil.
Di benaknya, ia mengulang semua kenangan saat mereka berbagi tulang di bawah lampu jalan, saat Seno melindunginya dari anjing-anjing liar, saat mereka tidur di bawah terpal robek sembari saling menghangatkan satu sama lain. Semua itu kini menjadi potongan kenangan yang tak akan kembali.
Fajar datang dengan wajah pucat. Hujan mereda, tapi aroma tanah basah menyelimuti udara. Seno sudah tak bergerak. Mata itu tertutup, bibirnya tak lagi bergetar oleh napas. Nana duduk di sisinya, menatapnya lama, seolah mencoba menghafal setiap lekuk wajah sahabatnya itu untuk terakhir kalinya.
Orang-orang pasar mulai datang, membawa keranjang, membuka pintu kios. Beberapa memperhatikan pemandangan seekor kucing basah duduk di samping anjing mati, keduanya terbaring di tanah berlumpur. Sebagian hanya menghela napas, sebagian lain mencoba mengusir Nana, tapi ia kembali lagi, dan lagi.
Di hati kecilnya, Nana akan terus menunggu di tempat itu. Menunggu Seno bangun, atau menunggu hujan lain yang akan membawanya ikut pulang.
Hari-hari berikutnya, Nana jarang terlihat berkeliaran.
Kadang ia muncul di warung kopi, duduk di sudut, memandang keluar jendela saat hujan turun, seolah mencari bayangan yang tak lagi ada. Bulunya semakin kusam, tubuhnya makin kurus. Orang-orang bilang ia hanya kucing liar biasa, tapi bagi dirinya, ia telah kehilangan separuh dunia.
Suatu malam, hujan kembali turun deras. Nana berjalan pelan menuju pohon mangga di ujung gang tempat pertama kali ia melihat Seno. Ia meringkuk di sana, mata terpejam. Suara hujan menjadi nyanyian pengantar tidur, dan entah disadari atau tidak, napasnya mulai mereda, seperti seseorang yang akhirnya lelah menunggu.
Pagi itu, pohon mangga menjadi saksi dua sahabat yang kini diam bersama, tak lagi terpisah oleh batas apa pun.
Di langit, awan bergerak pelan membawa hujan kecil yang jatuh seperti ucapan selamat tinggal, di antara basahnya tanah, ada jejak kaki anjing dan kucing yang tak pernah hilang. Jejak yang bercerita tentang dua jiwa yang menemukan rumah, bukan di sebuah tempat melainkan di satu sama lain.
Karena kadang, cinta yang paling tulus tak butuh suara. Ia hanya butuh hujan untuk menyamarkan air mata. Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan luka. Tapi waktu bukanlah obat untuk kehilangan, ia hanya membuat kita terbiasa hidup dengan rasa sakit itu sendiri.
Nana kini menjadi bayangan di sudut-sudut gang. Ia jarang mengeong, jarang mencuri makanan, jarang tidur di tempat kering. Sebagian mengira ia sudah gila, sebagian lain tak peduli. Tapi yang mereka tidak tahu, setiap tetes hujan adalah undangan dan panggilan dari Seno untuk pulang.
Suatu senja, hujan turun perlahan, tidak deras tapi cukup untuk membuat udara berbau kenangan. Nana berjalan menyusuri jalanan becek yang pernah ia lewati bersama Seno. Di setiap genangan, ia melihat pantulan samar seekor anjing tua yang tersenyum, menunggu.
Langkahnya terhenti di sebuah selokan kecil, tempat pertama kali ia mendekati Seno setahun lalu. Hujan membasahi kepalanya, menuruni wajahnya seperti air mata yang tak pernah kering. Ia menutup mata dan tiba-tiba, semua kembali pada malam itu, hawa dingin, tubuh Seno yang menggigil, dan tatapan mata yang memohon agar ia tidak pergi.
Nana berjalan lagi, lebih pelan kali ini. Sampai akhirnya ia tiba di pohon mangga di ujung gang. Pohon itu sudah berlumut, daunnya basah, tanah di bawahnya menjadi lumpur. Ia meringkuk di tempat yang sama, mengusap pipinya ke akar yang kasar seolah mencoba mencium aroma Raka yang entah kenapa masih ia rasakan di sana.
Angin malam bertiup, membawa suara yang samar. Bukan suara manusia, bukan juga suara hujan. Tapi Nana mengenalnya. Suara itu rendah, dan memanggil pelan.
“Ayo pulang…”
Nana membuka mata, dan di hadapannya, dalam kabut hujan, ia melihat Seno. Bukan Seno yang sakit dan ringkih, melainkan Seno yang sehat, bulunya berkilau, matanya kembali hidup. Ia berdiri di sana, ekornya bergoyang dan tersenyum seperti dulu.
Nana bangkit, melangkah mendekat. Tak ada rasa sakit di tubuhnya, tak ada lapar, tak ada dingin. Hanya ada hangat yang menyelimuti dari ujung kaki hingga ke hati.
Keesokan paginya, orang-orang menemukan seekor kucing belang terbaring di bawah pohon mangga, matanya tertutup tenang seakan hanya tertidur. Tidak ada jejak air mata, hanya basah hujan yang memeluknya.
Di tanah becek di sampingnya, ada bekas telapak kaki anjing yang samar, padahal tak ada anjing yang terlihat berkeliaran di sekitar sana selama berbulan-bulan.
Mereka bilang, di malam hujan itu dua sahabat yang tak pernah diizinkan dunia untuk saling memiliki akhirnya berjalan bersama, tanpa takut terpisah lagi. Di jalan yang basah oleh rintik hujan menuju tempat di mana kehilangan tak lagi ada, dan setiap tatapan adalah kata pulang.
Sejak hari itu, setiap hujan turun, pohon mangga di ujung gang selalu menjadi tempat burung-burung tak pernah berteduh. Mereka bilang, itu karena ada dua jiwa yang sudah lebih dulu mengambil tempat di sana. Menjaganya tetap hangat, dengan cara yang hanya mereka mengerti.
Kalimat terakhir yang tertinggal di udara hanyalah,
“Kadang rumah bukanlah sekedar bangunan biasa, melainkan pelukan yang tak pernah lelah menenangkanmu..”
Penulis: Oryza Rahma Dalila (Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki)


