By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: William Shakespeare dan Hakikat Kehidupan Sebagai Panggung Sandiwara
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Sumber ilustrasi: benfren.com
Esai

William Shakespeare dan Hakikat Kehidupan Sebagai Panggung Sandiwara

Last updated: 20 November 2020 7:38 am
Zulfiyana Dwi
Published: 20 November 2020
Share
SHARE
Sumber ilustrasi: benfren.com

Tak bisa dipungkiri dalam kehidupan kita sering terjebak dalam simbol-simbol kehidupan. Seperti susah-senang, sehat-sakit, miskin-kaya, kuat-lemah dan simbol-simbol lainnya.

Bahkan terkadang kita hanya terlena dengan simbol kata, definisi yang kita percayai. Misal orang yang memiliki fisik yang utuh dan semuanya berfungsi dianggap lebih sempurna dengan kelebihannya. Begitu sebaliknya mereka yang dalam hal fisik kurang, dianggap kurang sempurna.

Seperti pernah suatu ketika saya menyaksikan di salah satu stasiun televisi, seorang penyandang disabilitas mahir dalam memainkan gitar. Meskipun pada kedua tangannya tidak memiliki jari.

Sungguh nalar saya terlumpuhkan oleh aksi tersebut. Sebab, orang yang dikaruniai fisik yang lengkap dan berfungsi, banyak yang tidak bisa memainkan gitar.

Sepenggal kisah saya tersebut kiranya dapat diambil sebagai sebuah gambaran dan pelajaran bahwa memang kita sedang hidup dalam panggung sandiwara. Dalam konteks kemampuan tersebut, saya terjebak pada simbol indikator yang salah. Bahwa meskipun dalam keadaan kekurangan pun seseorang bisa berbuat lebih dari yang dianggap sempurna.

Hal itu merupakan salah satu contoh kecil, simbol kehidupan yang ada telah mengelabuhi kita.

Seolah kebenaran terkait kehidupan dianggap sebagai sebuah panggung sandiwara itu memang terjadi. Di mana kita manusia berposisi sebagai aktor, bagi kehidupan kita sendiri. Maka tak lebih untuk menjadi aktor, meskipun dikaruniai fisik yang kurang pun kita tetap bisa mengalahkan aktor lain yang memiliki kondisi lengkap dan berfungsi. Hanya tergantung bagaimana dan sejauh mana kita berusaha untuk menjadi aktor terbaik.

Sebelumnya istilah kehidupan sebagai panggung sandiwara kiranya telah dikenalkan oleh William Shakespeare melalui naskah dramanya yang berjudul As You Like It. Dalam naskahnya ia mengumpamakan dunia sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara.

Di dalam naskah tersebut pun juga diterangkan bahwa terdapat tujuh tingkatan usia manusia, yaitu: bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon, dan masa kanak-kanak kedua, “tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya”. Dijelaskan bahwa sejak manusia lahir, manusia telah memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai usia mereka hingga usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Tentu benar seperti yang sering kita dengar bahwa hidup adalah panggung sandiwara. Meski garis besar alur cerita dan konsekuensi setiap peran telah ditentukan, namun tidak menutup kemungkinan sang aktor mampu bersikap diluar skenario.

Sering kali seseorang merasa tidak puas dengan alur ceritanya, sehingga memaksakan diri untuk bertindak di luar jalurnya. Seolah menolak fakta bahwa hidup memang begini adanya.

Dari sini kita dapat belajar bahwa hidup ini tidak sepenuhnya tentang kebenaran. Banyak manusia bersikap palsu untuk menghadapi persoalan dalam drama hidup. Karena setiap orang memiliki sisi lain di dalam dirinya. Dan menjadi aktor terbaik atas dirinya pula.

Penulis: Zulfiyana Dwi H

Caligula dan Kegilaannya
Kesadaran Menulis dari Perjumpaan dengan Soesilo Toer
Self-efficacy; Mencapai Keberhasilan dengan Keyakinan Diri
Pernah Gagal Bukan Berarti Kamu Tidak Bisa Sukses
Kualifikasi Kampus Hijau; Lebih dari Sekadar Ruang Hijau Terbuka
TAGGED:kehidupansandiwara kehidupansimbol kehidupanwilliam shakespeare
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Varia Kampus

Kesetaraan Gender Perempuan dalam Lingkaran Marginalisasi

Zulfiyana Dwi
21 Agustus 2019
Kalam Walisongo Adakan Reuni Akbar, Jalin Silahturahmi antar Alumni
Suara Parau Tukang Koran
6 UKM Kebanggaan Mahasiswa FPK UIN Walisongo
Aksi Kembali Terjadi; Jaga Demokrasi
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: William Shakespeare dan Hakikat Kehidupan Sebagai Panggung Sandiwara
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: William Shakespeare dan Hakikat Kehidupan Sebagai Panggung Sandiwara
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?