By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Was-was dengan Kesuksesan Sendiri? Hati-hati Impostor Syndrome
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Impostor syndrome, Faktor penyebab investor sindrom, Gangguan mental, Fenomena ketidaksenangan, Penderita impostor sindrome
Ilustrasi impostor syndrome (istockphoto.com)
Milenial

Was-was dengan Kesuksesan Sendiri? Hati-hati Impostor Syndrome

Last updated: 21 Mei 2024 9:16 pm
Rizki Gojali
Published: 21 Mei 2024
Share
SHARE
Impostor syndrome, Faktor penyebab investor sindrom, Gangguan mental, Fenomena ketidaksenangan, Penderita impostor sindrome
Ilustrasi impostor syndrome (istockphoto.com)

Berhasil sampai ke tujuan yang diinginkan tanpa hambatan adalah impian semua orang. Kesuksesan yang dicapai setelah melalui proses dengan susah payah, seakan menjadi hadiah terbesar yang diterima.

Namun, ada kondisi ketika diri telah sampai atau mendapatkan hasil dari proses yang dilalui, muncul ketidakpercayaan, merasa tidak pantas, was-was, dan merasa diri sudah melakukan kecurangan, sehingga hasil yang didapatkan dirasa tidak layak diterima.

Kondisi ini disebut dengan impostor syndrome, fenomena di mana muncul ketidaksenangan dan selalu mempertanyakan hasil yang didapatkan oleh dirinya sendiri.

Istilah ini muncul pertama kali dari Psikolog Rose Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Di awal kemunculannya, impostor syndrome banyak ditemukan pada wanita-wanita cerdas, hingga pada akhirnya ditemukan juga pada pria.

Impostor syndrome bukanlah penyakit mental, karena tidak termasuk ke dalam Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Namun pada kondisi ekstrem, impostor syndrome dapat memunculkan gangguan mental, bersamaan dengan anxiety dan depresi.

Psikolog Klinis Universitas Gajah Mada, Tri Hayuning Tyas mengatakan istilah impostor memiliki arti yang berbeda dengan Bahasa Inggris, yang artinya seseorang yang berpura-pura menjadi orang lain dengan tujuan menipu atau berbuat curang.

Dalam konteks ini, impostor syndrome adalah keadaan di mana seseorang merasa dirinya sendiri yang melakukan kecurangan.

Menurut Tri, pola asuh keluarga menjadi faktor utama seseorang menderita impostor syndrome. Ketika seseorang berada di lingkungan keluarga yang selalu mengedepankan hasil tanpa mengapresiasi usaha yang dilalui, maka ia akan rentan merasakan sindrom ini.

Faktor lain, seperti lingkungan masyarakat yang terlalu memposisikan hasil di atas segalanya. Yang kemudian memunculkan pemikiran bahwa seseorang hanya akan dihargai ketika berhasil sampai di tujuan.

Impostor syndrome bisa dihindari dengan beberapa cara. Menyadari dan menumbuhkan pemahaman bahwa hasil bukanlah segalanya, akan memberikan ketenangan pada pola pikir kita. Selain itu, tak ada salahnya untuk mengenali dan menghargai kemampuan diri sendiri. Terlebih yang terpenting, apresiasi diri dan jangan selalu merasa insecure.

Rizki Gojali

Bagaimana Bisa Cokelat Memiliki Efek Menenangkan?
Mahasiswa Coba Ini Agar Tidur Berkualitas
Ingin Tetap Produktif Selama Social Distancing, Berikut 5 Tipsnya
Bahaya Sikap Prejudice dalam Kehidupan Sehari-hari
3 Tips Kendalikan Quarter Life Crisis
TAGGED:faktor penyebab impostor sindromfenomena ketidaksenangangangguan mentalimpostor syndromependerita impostor sindrom
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Libur Kuliah Tiba, Jam Kantor Birokrasi FSH Telat

Fajar Bahruddin Achmad
5 Januari 2017
Rayakan Idul Adha, UIN Walisongo Kurban Tujuh Ekor Sapi dan Lima Ekor Kambing
Peringati Ultah ke-4, HMJ PMI Tebarkan Kecerian
Nasib Beberapa LPM UIN Walisongo Pasca Merger; Terkendala Dana hingga Kurangnya Produktivitas
Cyborg Cantik dan Sepotong Hati untuk Dijual
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Was-was dengan Kesuksesan Sendiri? Hati-hati Impostor Syndrome
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Was-was dengan Kesuksesan Sendiri? Hati-hati Impostor Syndrome
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?