By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Tujuh Alasan Mengapa Sebaiknya Kamu Tidak Jadi Workaholic
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Sumber foto: starjogja.com
Lifestyle

Tujuh Alasan Mengapa Sebaiknya Kamu Tidak Jadi Workaholic

Last updated: 14 November 2020 1:12 am
Ridho Alamsyah
Published: 14 November 2020
Share
SHARE
Sumber foto: starjogja.com

Workaholic adalah istilah yang sering disematkan kepada mereka yang menggilai sebuah pekerjaan. Pada umumnya, workaholic adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain.

Seorang workaholic memiliki ambisius dalam bekerja yang melebihi batas wajar. Di mana mereka akan merasa bersalah dan gelisah jika tidak bekerja. Ia juga telah kehilangan kontrol pada dirinya sendiri akan waktu kapan istirahat dan kapan waktu bekerja.

Bekerja keras untuk suatu hal adalah sesuatu yang baik, hal itu menunjukan keseriusan seseorang akan pekerjaannya. Namun workaholic juga mempunyai dampak negatif, karena perilakunya yang senang bekerja. Berikut adalah dampak negatifnya

Gangguan kesehatan fisik

Dampak ini adalah dampak yang paling utama dialami seorang workaholic. Karena tubuh dan pikiran terlalu diforsir untuk terus bekerja. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian yang dimuat dalam Harvard Business Review. Dalam artikel yang ditulis oleh Leike Ten da Nancy P. Rothbard mengungkapkan bahwa mereka yang mengalami workaholic lebih cenderung mengeluhkan masalah seperti sindrom metabolic, sulit tidur, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan gangguan kesehatan fisik lainnya.

Gangguan kesehatan mental

Selain masalah kesehatan fisik, kesehatan mental juga sering diderita para workaholic. Masalah yang sering dijumpai seperti depresi, kesehatan psiko-somatik, kelelahan emosional, perasaan sinisme, hingga menyebabkan masalah kesehatan OCD (Obsessive Compulsive Disorder). OCD merupakan gangguan psikologis yang mempengaruhi pikiran dan perilaku penderitanya. Biasanya penderita akan merasakan takut dan khawatir tanpa ada alasan yang jelas.

Hilangnya kepekaan sosial

Seorang workaholic biasanya melupakan masalah-masalah lain diluar pekerjaannya. Hal itu akan menjadikan mereka sebagai manusia yang anti-sosial karena terlalu fokus pada pekerjaannya di kantor. Bahkan, sangking candunya dengan pekerjaan, mereka sering mengambil lembur sehingga interaksi sosial dengan pergaulan sekitar rumah menjadi sangat jarang.

Terasingkan dari keluarga

Hilangnya kepekaan sosial seorang workaholic pada lingkungan sekitarnya juga dapat dirasakan oleh keluarga sendiri. Ketidakhadiran interaksi dengan keluarga membuat anggota keluarga merasa kehilangan.

Perilaku boros

Workaholic tidak melulu berbicara soal etos dan semangat kerja. Di mana semakin banyak bekerja, semakin banyak uang yang didapat. Biasanya mereka bekerja hanya untuk kepuasan pribadinya, bukan untuk target atau suatu tujuan tertentu.

Kecanduannya dalam bekerja membuatnya tidak mau menghabiskan waktu untuk memasak makanan sendiri atau membeli di kantin yang tersedia di kantor. Walhasil mereka akan memesan makanan menggunakan jasa delivery. Dari masalah kesehatan workaholic juga mengeluarkan banyak uang untuk ke dokter dan membeli suplemen penambah stamina.

Ancaman produktivitas

Dikarenakan kebugaran fisik workaholic menurun, hal itu akan berimbas pada daya kerja, inovasi, ketangkasan, dan kreasi. Jika seorang workaholic terlihat semangat bekerja, hal itu bukan berarti mereka dapat menjamin produktivitas kerjanya. Bisa jadi itu adalah kemampuan dirinya yang sedang menurun.

Perfeksionis yang membahayakan

Para workaholic memang cenderung bersifat perfeksionis. Tetapi sifat ini tidak selalu baik. Perfeksionisnya workaholic bisa jadi tidak rasional. Mereka juga akan merasa gelisah terus menerus saat hasil pekerjaannya tak sesuai dengan apa yang diinginkan. Menurut Dr. Randall S. Hansen, educator dan penulis buku seputar motivasi, di masa sekarang workaholic bukan hanya sebatas kecintaanya terhadap pekerjaan. Namun juga berkaitan dengan tuntutan finansial, sosial dan juga teknologi.

Tuntutan finansial mambuat orang harus menghasilkan banyak uang untuk kebutuhan hidup. Sementara tuntutan sosial lebih berkaitan pada budaya kerja masyarakat atau negara tertentu. Sedangkan tuntutan teknologi dipengaruhi oleh adanya e-mail, dan media sosial yang menjadikan kita tidak dapat beristirahat meskipun anda sudah di rumah.

 

Penulis: Ridho Alamsyah

5 Hal yang Patut Dicoba Mahasiswa Baru Agar Kuliah Tak Sia-Sia
7 Aktivitas yang Biasa Dilakukan Mahasiswa UIN Walisongo Saat Libur Panjang
3 Tips Kendalikan Quarter Life Crisis
Budaya Ngopi Mahasiswa dan Manfaatnya Bagi Tubuh
Ingin Tetap Produktif Selama Social Distancing, Berikut 5 Tipsnya
TAGGED:gila pekerjaankecanduanpekerjaworkaholic
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Sosok

Konsisten dengan Prinsip yang Dimiliki, Syifa Raih Gelar Wisudawan Terbaik FITK

Redaksi SKM Amanat
21 November 2019
Heranof Al Basyir Kupas Tanggung Jawab Jurnalis
Letup Kalbu
Penjelasan DEMA tentang Pemotongan Dana UKM
Alur yang semu
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Tujuh Alasan Mengapa Sebaiknya Kamu Tidak Jadi Workaholic
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Tujuh Alasan Mengapa Sebaiknya Kamu Tidak Jadi Workaholic
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?