By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Resensi Film] Dewasa Belum Tentu Paham Seks Education
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Sumber: idntimes.com
Film

[Resensi Film] Dewasa Belum Tentu Paham Seks Education

Last updated: 11 November 2021 9:22 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 11 November 2021
Share
SHARE
Sumber: idntimes.com

Musim ke-2 memasuki tahun 2020 Film Sex Education telah tayang di Netflix, lebih tepatnya sejak 17 Januari 2020. Film ini adalah lanjutan dari serial musim pertama yang tayang pada 11 Januari 2019. Cerita di musim ini melanjutkan perjalanan Otis Milburn (Asa Butterfield), Maeve Wiley (Emma Mackey), Eric Effiong (Ncuti Gatwa), atau kawan-kawan dalam pencarian jati diri dan mengelola birahi.

Serial Netflix Garapan Ben Taylor dkk ini terbagi menjadi delapan episode dengan mengusung topik yang berbeda-beda. Seperti episode pertama yang dibuka dengan melebarnya infeksi klamida di Mooordale High School, episode ke-4 tentang aseksual, sampai episode ke-7 yang menekankan kepada isu pelecehan seksual.

Hadirnya topik yang berbeda-beda membuat ‘Sex Education’ musim ke-2 jadi punya cerita yang lebih kaya. Isu seksualitas yang disinggung jadi lebih lebar, namun masih relevan dengan kehidupan remaja mayoritas.

Misalnya kasus pelecehan seksual yang menimpa Aimme Gibbs ketika ia berangkat sekolah dengan menaiki kendaraan umum, Aimme dilecehkan seorang laki-laki yang melakukan masturbasi di belakangnya saat berada di dalam bus.

Aimee tidak menyadari bahwa ini adalah bentuk pelecehan, sampai akhirnya ketika tiba di sekolah ia menceritan peristiwa tersebut kepada Meave yang kemudian dipaksa untuk melapor ke polisi. Di luar kekesalan Aimme yang terkena noda sperma, ternyata diam-diam ia memiliki trauma untuk menaiki bus. Bayang-bayang pelaku pelecehan dalam bus itu terus menghantui hari-hari Aimme, sehingga tubuhnya menolak tiap kali akan disentuh oleh orang lain.

Diepisode ke-7, Aimme tahu bahwa ia tidak sendirian, teman-teman ceweknya yang lain, yaitu Meave, Olivia Hanan, Ola Nyman, Lily Iglehart, dan Vivi ‘Viv’ Odesanya (Chinenye Ezendu), Juga pernah mengalami pelecehan seksual dalam beberapa hidupnya, seperti adegan dalam film ‘The Breakfast Club’ versi feminis.

Semua tokoh dijatah degan pelecehan seksual

Cerita yang lebih kaya di musim ini memungkinkan tiap karakter mendapatkan porsi korban pelecehan seksual. Tidak melulu fokus terhadap Otis, Meave, dan Eric, musim ke-2 semakin menonjolkan cerita karakter-karakter yang di musim pertama hanya sebagai pelengkap.

Seperti tokoh Dr. Jean F. Milburn (ibu Otis) sebagai terapis seks yang di musim ini lebih banyak menghabiskan waktu di tengah mahasiswa Moordale High okohSchool. Ia membuka klinik setelah menyebarnya infrksi klamkida.

Namun ternyata tidak hanya mahasiswa Moordale yang konsultasi ke Dr Jean, melainkan istri kepala sekolah Moordale itu sendiri juga melakukannya.

Atas masalah itu menyadarkan, bahwa orang dewasa juga belum tahu apa-apa soal seks, sisi lain menyadarkan bahwa pendidikan seks tidak hanya penting untuk remaja, tapi juga semua usia.

Di musim ke-2 kali ini bukan hanya Otis yang membuka praktik di SMA Moordale, Dr Jean juga membuka konsultasi kesehatan seksual atas permintaan kepala sekolah. Akibatnya muncul persaingan antar ibu dan anak yang punya pendekana masing-masing untuk memberikan solusi atas permaslahan ‘klien’ mereka. Uniknya, prespektif Dr. Milburn adalah praktisi profesional dan lebih mengerti sudut padang perempuan.

Di musim ke-2 ini juga penulis skenarion Lautie Nunn menunjukkan kecerdasannya. Topik-topik berat dan sensitif seperti trauma emosional yang dialami penyintas pelecehan seksual dan kesehatan alat reproduksi diberikan tanpa sikap judgemental dan juga informatif. Sesuai judulnya, sex education ternyata juga memberikan pendidikan tentang kesehatan seksual.

Fenomena seks education bagi remaja

Fenomena seks education di Indoensia sampai hari ini masih menjadi hal yang tabu, kurangnya pengetahuan perihal pelecehan seksual menjadikan korban tidak mengerti apakah tindakan-tindakan verbal maupun fisik yang dilakukan oleh oknum lawan jenis terhadap dirinya termasuk sebuah kejahatan.

Di Indonesia marak terjadi pelecehan seksual, misalnya kasus pelecehan seksual yang baru terungkap setelah orang tua korban mendapati anaknya hamil kemudian lapor polisi.
Sebagai conotoh, pertenghan Oktober 2021 kasus oknum guru voli di Jawa Tengah cabuli belasan anak didiknya yang masih di bawah umur, satu di antaranya hamil. Kasus ini baru terungkap setelah orang tua (korban hamil) mendapati anaknya hamil kemudian melapor ke polisi. Setelah polisi mendalami kasus tersebut ternyata jumlah korban pencabulan sebanyak 14 anak.

Jika ditarik benang merah, fenomena di atas cukup membuktikan bahwa minimnya pemahaman sexs education utamanya di kalangan remaja dan anak di bawah umur. Interaksi tidak menyenangkan dari lawan jenis kepada dirinya apakah termasuk tindak kriminal pelecehan seksual atau bukan, sehingga mereka memilih untuk menyimpannya sendiri dan berdampak trauma mendalam bagi korban seperti yang ada dalam film.

Minimnya pengetahuan tentang seks education, utamanya anak-anak banyak dimanfaatkan oleh para predator seks, mereka dijadikan sasaran empuk lantaran para korban dalam hal ini anak-anak kurang memahami apakah itu tindakan pelecehan seksual atau bukan. Untuk itu perlu adanya seks education bagi anak-anak yang selama ini masih dianggap tabu di Indonesia.

Pada hakikatnya anak-anak juga berhak untuk berpartisipasi serta menyatakan pendapat dan berpikir sesuai hati nurani dan agamanya. Penting juga bagi kita untuk memberi anak akses informasi yang akurat tentang orientasi seksual dan identitas gender, di lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial dan institusi sekolah.

Swasensor terhadap pendidikan seksual sejak dini bukanya memberi rasa aman dan perlindungan, tetapi berdampak negatif yang lebih menyakitkan pada sang anak. Mereka rentan dikelabui oleh orang dewasa, mereka rentan melakukan hubungan seksual beresiko, mereka juga rentan menerima kekerasan seksual.

Pada akhirnya sang anak sangat membutuhkan peran orang tua dan keluarga yang bisa memberikan pengetahuan tentang batasan seksual yang boleh dan tidak boleh. Sebagai anak mereka membutuhkan peran orang tua yang sesuai untuk menghindair terjadi pelecehan seksual. Peran orang tua yang selalu terbuka terhadap anaknya adalah sesuatu yang dibutuhkan anak dan orang tua dan orang tua sudah harus menerapkan pengetahuan-pengetahuan tentang seksualitas kepada anaknya tetapi sesuai dengan umur dan metode yang tepat.

Film serial drama-komedi produksi Negri Ratu Elizabeth ini adalah film yang sangat direkomendasikan mengingat baru-baru ini di Indonesia marak sekali kasus pencabulan anak dibawah umur. Tak sembarang kasus pencabulan, satu kasus yang terungkap korbanya berjumlah belasan dan hal itu menjadi perhatian serius para orang tua kepada putri remajanya.

Untuk itu, film Seks Education menjadi relevan apabila dipertontonkan di Indonesia. Dari film tersebut akan menyadarkan pentingnya seks education sejak dini agar mereka memahami batas-batas interaksi antar lawan jenis, serta dampak-dampak yang ditimbukan setelahnya.

 

Judul Film: Sex Education

Sutradara: Ben Taylor, Sophie Goodhart dan Alice Seabright

Penulis Naskah: Laurie Nunn, Sophie Goodhart dan Rosie Jones

Durasi: 8 Episode

Produser: Jon Jennings

Pemeran: Asa Butterfields, Gillian Anderson, Ncuti Gutawa dan Emma Mackery

Produksi: Netflix

Tanggal Tayang: 17 Januari 2020

Reesenator: Mukhammad Khasan Sumarhadi

[Resensi Film] Keluarga Imigran Bermimpi Lebih Baik di Negeri Orang
Paradigma Miring Masyarakat terhadap Penderita Mental Illness
Miracle in Cell no. 7: Potret Kedzaliman Penguasa
Dualisme Keinginan Hidup Normal
“How It Ends” Akhir Dunia dan Perjalanan yang Penuh Tanda Tanya
TAGGED:filmnetflixSex education
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Indonesia Kalah 2-0, Ini Komentar Mahasiswa Thailand UIN Walisongo

Syafiun Najib
17 Desember 2016
Dies Natalis ke-48, UIN Walisongo Kuatkan Visi Melalui Prinsip dan Nilai Matematika
Dekan FITK Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kecerdasan Sosial Lewat PPL
Turun ke Peringkat 8, LP2M: UIN Walisongo Butuh Karya Ilmiah Indeks Scopus dan SINTA
Rangkaian Acara Dies Natalis ke-49 UIN Walisongo
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Resensi Film] Dewasa Belum Tentu Paham Seks Education
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: [Resensi Film] Dewasa Belum Tentu Paham Seks Education
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?