By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Resensi Buku] Wartawan: Penyiar Kebenaran yang Terkurung dalam Tekanan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
(Sumber foto: Goodreads.com)
BukuSastra

[Resensi Buku] Wartawan: Penyiar Kebenaran yang Terkurung dalam Tekanan

Last updated: 11 Juni 2022 10:37 am
Redaksi SKM Amanat
Published: 21 Januari 2020
Share
SHARE
(Sumber foto: Goodreads.com)

Leila S. Chudori, penulis kelahiran Jakarta, 12 Desember 1962. Berprofesi sebagai wartawan majalah berita Tempo, editor buku Bahasa! Kumpulan Tulisan di Majalah Tempo (Pusat Data Analisa Tempo, 2008), dan penulis skenario beberapa drama televisi.

Buku “9 dari Nadira” merupakan kumpulan cerpennya yang telah dibukukan. Empat dari sembilan cerpen pernah diterbitkan, yaitu: “Melukis Langit” di majalah Matra Maret 1991; “Nina dan Nadira” di majalah Matra Mei 1992; “Mencari Seikat Seruni” di majalah Horison April 2009; dan “Tasbih” di majalah Horison September 2009. Kendati terdiri dari sembilan cerpen, buku ini dapat dinikmati sebagai novel karena antara cerpen satu dengan yang lain saling berkesinambungan.

Kisah dimulai ketika Nadira Suwandi, tokoh utama, menemukan ibunya tewas celentang karena menenggak pil tidur. Kematian ibunya yang mendadak dan mengejutkan, berdampak pada kehidupan Nadira sebagai seorang adik (“Nina dan Nadira”), anak (“Melukis Langit”), wartawan (“Tasbih”; “Sebilah Pisau”), kekasih (“Ciuman Terpanjang”), istri (“Kirana”), hingga garis kehidupan membawa Nadira kembali pada masa lalunya untuk mencari ketenangan dan kebenaran perasaan (“At Pedder Bay”).

Kepergian Kemala–ibu Nadira–memberi dampak yang mendalam pada kondisi psikis anak dan suaminya. Bramantyo–suaminya–menghabiskan seluruh malam dengan menyaksikan film yang sudah ia tonton ribuan kali, Nina–anak sulung–memilih menyibukkan diri dengan merampungkan pendidikannya di New York, dan Arya mengasingkan diri di hutan. Sementara Nadira, si bungsu, selama berbulan-bulan ia tidak berani pulang, tidur meringkuk di kolong meja kerja. Senyumnya hilang, hidupnya bagai matahari tanpa sinar. Redup dan perlahan pudar.

Nadira menggunakan setangkai bunga seruni putih sebagai pengganti tasbih, mencabut helai demi helai kelopaknya acap kali kalimat zikir keluar dari mulutnya. Ia mempertahankan hidup dengan menggumamkan zikir yang diajarkan ibunya ketika kecil. Hal ini sesuai dengan pengakuan Kris, ilustrator majalah Tera yang diam-diam memperhatikannya:

Nadira tersenyum. Dia membisikkan kalimat-kalimat zikir itu. Yang rupanya membuat Nadira lebih tenang. Barangkali. (hlm. 203)

Leila memilih kehidupan seorang wartawan era 90-an sebagai latar belakang kisah ini yang disajikan dalam bentuk satire. Betapa berat profesi “pembawa kabar”; dituntut menyampaikan kebenaran, tetapi–pada saat itu–terkurung dalam tekanan.

“Wartawan yang tak mungkin menulis tentang kebenaran, karena kalau kita menulis tentang bisnis anak-anak pejabat, kita akan ditelepon.” (hlm. 81)

 “… tentang bagaimana para wartawan dengan semangat menggebu-gebu meliput tentang kebanjiran di sebuah desa; tentang jatuhnya sebuah kapal terbang, tentang kudeta di Thailand dan Filipina, dan juga tentang kasus pembebasan tanah. Tapi kita tak bisa menulis borok di negeri sendiri. Kita hanya bisa menulis tragedi di negeri orang….” (hlm. 81)

Hal ini menjelaskan bahwa pada saat itu, pemerintah campur tangan dalam warta yang akan disiarkan. Tidak diperbolehkan membahas mengenai “orang atas”–baik kehidupan pribadi, kekuasaan, maupun tentang keluarganya–, serta aib negara sendiri.

Meski mengangkat persoalan yang cukup pelik, Leila mampu mengolahnya dengan bumbu asmara dan romansa. Berbagai masalah percintaan tersaji dalam buku ini, mulai dari cinta pada pandang pertama, cinta yang tak direstui orang tua, cinta bertepuk sebelah tangan, hingga cinta datang terlambat.

Di balik kelebihan dan keindahannya, setiap karya pasti memiliki kekurangan. Ditemukan beberapa kata yang ternyata tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan mesin pencarian, seperti kata blonda, dibanjurkan, mesiah, mengeritik, dan plagmatisme. Selain itu, penggunaan sudut pandang yang tidak konsisten (orang pertama dan ketiga), menyebabkan ketidaknyamanan ketika membaca. Selebihnya, karya Leila memang tidak pernah mengecewakan.

Leila mengakhiri kisah Nadira dengan cliffhanger. Setelah berhasil mengoyak emosi dengan berbagai persoalan rumit, pembaca dibuat menerka apa yang akan terjadi berikutnya. Penyampaian dengan kalimat yang ringan dan alur campuran, menjadikan buku ini cocok  sebagai teman mengisi waktu luang. Tidak hanya oleh jurnalis, tetapi semua kalangan, karena ada banyak pelajaran yang terkandung di dalamnya.

 


Identitas Buku
Judul Buku : 9 dari Nadira
Penulis : Leila S. Chudori
Halaman: xi+ 270
Penerbit: KPG
Resentator: Rizkyana Maghfiroh

Pada Dada Ibu (Kota)
Mengenal Cinta – Puisi Hasan Tarowan
Nabi Palsu
Lahirkan Hujan
Alur yang semu
TAGGED:dunia 9 nadiraleila s chudoripewarta kebenaranreview nadira
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Varia Kampus

Semarak Menyambut Genwa 2018, Dema UIN Walisongo Rilis Jingle PBAK

Diah Khalimatus Sa'diyah
10 Agustus 2018
Perlunya Self Control sebelum Berkomentar
Tangisan Pendosa Bertopeng
Wisuda November 2023 Tertib Parkir, Komandan Satpam; Kami Menyiapkan Strategi
Nizar Ali; UKT UIN Walisongo Paling Murah Sebab Mekanismenya Jelas
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Resensi Buku] Wartawan: Penyiar Kebenaran yang Terkurung dalam Tekanan
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: [Resensi Buku] Wartawan: Penyiar Kebenaran yang Terkurung dalam Tekanan
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?