By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ranjang Merdeka
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Dok. Internet
Esai

Ranjang Merdeka

Last updated: 20 Agustus 2019 10:31 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 18 Agustus 2019
Share
SHARE
Dok. Internet
(www.taufiqurokhman.com)

Ranjangku teras ini. Tempat paling sejuk untuk tidur meski hanya tiga jam semalam dalam setahun ini. Kemewahan yang tak tersaingi. Setiap subuh suara kicau kutilang dan ketukan burung patuk membangunkanku. Penggugah tidur yang disediakan oleh alam secara gratis. Kicauan kutilang itu mengingatkanku pada lagu yang selalu diminta Bu Yati, guru SD di desaku, untuk dinyanyikan salah satu murid favoritnya di depan kelas. Aku ini. Hehehe. Dan suara burung patuk yang hampir punah itu, melihat dan mendengarnya mencangkul batang meh secara live, melengkapi rasa merdekaku jelang 17 Agustus ini.

Dua jam kemudian tiga remaja datang menemani saya ngopi tanpa gula. Rafa, Ilham, dan Gani. Tiga anak manis pengganti gula di gelas itu. Ada teh kemangi, jahe panas dan serit pisang raja tersaji jadi perhatian mereka bertanya, ujung-ujungnya minta ikut dituangi.

Saya menemukan teori fisikawan Fritjof Capra pada ketiganya sebagai “Crystal’s Generation”. Gaya diplomasi anak remaja yang suka bertanya dan menyela jawaban dengan pertanyaan baru. Mereka tak butuh penjelasan tuntas apalagi yang bertele-tele. Bertanya sambil membetot pisang dan menyisakan hanya gagang. Setiap penyelaan menunjukkan ekspektasi kepahaman mereka sebelum penjelasan tuntas diberikan. Yang disebut tuntas buat kita artinya tidak fokus menurut mereka.

Penyelaaan itu kritik pedas buat saya yang suka tertukar antara contoh dan penjelasan. Membuat sebagai pembicara saya kehilangan alur dan lupa mau bicara apa tadi sebetulnya dengan banyaknya contoh-contoh tak relavan itu. Seperti saya, banyak guru sering lupa ketika sedang asyik bicara. Bahkan ada yang sampai tak memberi sedikit ruang murid-murid bertanya. Buat kita mungkin biasa, buat anak-anak adalah framing yang membekukan kemerdekaan. Terima kasih saya kepada Capra dalam memahami fenomena ini.

Sambil bertanya ketiga tangan anak itu tetap memegang kulit-kulit pisang itu dan tak membuangnya. Sebentar lagi akan dibaginya untuk teman-teman baru mereka. Sapi-sapi yang setiap pagi selepas ngopi di teras itu mereka kunjungi. Saya suka gaya mereka akhir-akhir ini. Cuek, tetapi santun. Setiap hari berjuang memahami dirinya sendiri dengan cara sangat dinamik melalui berbagai ekspresi.

Mereka tak pintar menurut guru-guru matematika dan eksakta, tetapi sangat cerdas bahkan melebihi murid pemilik nilai 8 kedua mapel itu. Kecerdasan genuine dengan gaya kecuekan yang mendekonstruksi genre kepintaran skala sekolahan. Kecuekan itu diam-diam membanggakan saya, menunjukkan mereka sudah menganggap saya bagian dari keluarganya. Menjadi “guru” dari banyak orang yang tak mau.

Tapi, pagi itu mereka melupakan kebiasaan membawa kulit pisang itu ke kandang. Tukang kayu keburu datang. Kang Yadi turun dari gunung membawa seperangkat alat ukir kayu. Ini hari kami bersepakat belajar mengukir kayu meh jadi orang-orangan. Awalnya hanya Gani. Ia punya seperangkat wayang golek kenang-kenangan dari ayahnya setiap habis pergi. Ternyata Ilham dan Rafa, yang asli Jepara dan orang tuanya pebisnis ukiran, tertarik ikut belajar dan menjadi pengalaman pertama mereka.

Dari ranjang itu awalnya. Ngopi, ngeteh, membentot pisang, lalu muncul ide genuine dari tiga anak merdeka itu. Saya dan anak-anak remaja itu hari itu belajar membuat boneka wayang golek Sunda sambil bercerita sejarahnya. Peristiwa yang akan jadi dongeng indah mereka ketika besar nanti.

Semua peristiwa itu saya proklamasikan dalam cerita pagi ini. Suatu kemewahan dan kemerdekaan yang tak saya temui setiap bangun pagi di ranjang biasa di Jakarta.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah.

Mengembalikan Fungsi Teknologi
Raja Jawa
Perlukah Curhat di Medsos?
Alegori Kehidupan yang Absurd
Apakah Kamu Termasuk Orang Baperan? Cek Ciri-Cirinya Di sini
TAGGED:17 agustushari kemerdekaanhasan aoniomah dongeng marwah
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
planetarium uin walisongo, rukyatul hilal, pengamatan hilal, uin walisongo, rukyatul hilal 2025
UIN WalisongoVaria Kampus

Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Kembali Gelar Rukyatul Hilal Jelang Bulan Ramadan

Redaksi SKM Amanat
1 Maret 2025
Mengenal Bela Diri Jepang di UKM Kempo UIN Walisongo
Mengutamakan Kesatuan Bangsa
Mahasiswi Prodi Muamalah Ini Ketagihan Jadi Pedagang Musiman
LRD UIN Walisongo Gelar Kompetisi Debat Usung Tema ‘Etika dalam Praktik Hukum’
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ranjang Merdeka
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ranjang Merdeka
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?