By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Perempuan dan Budaya Nyinyir yang Tak Bisa Ditinggalkan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
(Ilustrasi Foto: Mohammad Hasib)
Artikel

Perempuan dan Budaya Nyinyir yang Tak Bisa Ditinggalkan

Last updated: 21 April 2019 6:26 pm
Mohammad Azzam
Published: 21 April 2019
Share
SHARE
(Ilustrasi Foto: Mohammad Hasib)

Masih segar dalam ingatan, dunia maya Indonesia digegerkan oleh kasus Audrey sepanjang bulan ini. Kasus itu berawal dari pemberitaan mengenai perundungan yang dialami Audrey, siswi SMP yang dilakukan oleh beberapa siswi SMA.

Setelah diperiksa lebih lanjut oleh pihak yang berwenang, rupanya kejadian yang dilakukan sesama perempuan yang masih dibawah umur itu bermula dari saling nyinyir antara korban dan salah satu pelaku di media sosial.

Menengok kebelakang lebih jauh, kolom komentar akun instagram Brisia Jodie ramai dikomentari warganet. Brisia mengunggah foto tangkap layar direct messege (DM) dari seorang warganet yang berkata kasar kepada dirinya. Penyanyi jebolan audisi musik Indonesian Idol tersebut, dihina dengan nama binatang. Ternyata setelah ditelusuri akun nyinyir itu milik seorang perempuan.

Kebiasaan menyinyir atau menggunjing seolah-olah melekat dalam kultur masyarakat. Apalagi jika yang menyinyir perempuan, kesannya itu sudah menjadi gaya hidup. Seperti hasil penelitian Perusahaan Intelegen Social Brandwatch, sejumlah 52 persen komentar negatif kepada perempuan justru dilakukan oleh perempuan sendiri.

Dalam kasus Audrey, nyinyir yang dilakukannya, menimbulkan dampak yang cukup besar. Dilanjutkan dengan adu fisik, kemudian mampu menggegerkan satu Indonesia, bahkan ketika publik tidak tahu betul kebenarannya.

Sedang dalam kasus yang dialami Brisia, seorang public figure, komentar nyinyir dapat memicu warganet lain untuk melakukan hal yang sama. Bisa jadi nyinyiran akan menekan kondisi psikisnya hingga merasa stres.

Fenomena tersebut tentu menjadi ironi. Pasalnya, mengapa sesama perempuan justru saling merendahkan satu sama lain. Lantas, bagaimana semangat emansipasi perempuan yang diinisiasi Kartini?

Ketika kita menilik sejarah, sekitar satu abad lalu, R.A. Kartini secara sungguh-sungguh memperjuangkan hak-hak perempuan. Dia berusaha supaya perempuan bisa mendapat pendidikan dan perlakuan yang sama di tengah budaya patriarki. Dihargai dan dihormati oleh semua orang tanpa membedakan gender.

“Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baik pun karena terpaksa.”- Pesan Kartini.

Kutipan itu semestinya bisa menjadi pengingat kita dalam menghargai sesama manusia. Begitupun bagi para perempuan, agar bisa menjaga lisannya dari nyinyir.

Biasanya orang yang gemar menyinyir itu disebabkan karena iri hati. Tidak suka kelebihan orang lain, keberhasilannya bahkan capaian prestasinya. Karena sudah putus asa, mereka cenderung lebih mudah menjelek-jelekkan, menghina maupun mencaci maki.

Kadang pula, sebagian orang menyinyir untuk mencari kepuasan diri. Dalam kasus ini, lebih cenderung disebabkan karena kepribadian yang buruk.

Mengingat Kartini, membawa kita pada cita-cita luhurnya, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya, bangsa cerdas itu orang-orang yang terdidik baik secara akal maupun kepribadian. Bukan malah kemunduran karakter, dengan latahnya kebiasaan menyinyir. Mestinya, masyarakat bisa lebih mengapresiasi atau pun menghargai perbedaan yang ada.

Penulis: Azzam Ashari

Danantara, Harapan atau Ladang Korupsi Baru?
Bahaya Flexing di Media Sosial
Kenali Faktor Kerentanan Penyebab Kekerasan Seksual
Benarkah Membaca Buku Itu Jendela Dunia?
Terjebak Pertemanan Dilema Landak
TAGGED:artikel hari kartinihari kartinikartini masa kini
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Varia Kampus

Raih Akreditasi A, Majlis Dzikir Al-Hidmah beri Kejutan Tumpeng untuk UIN

Nafiatul Ulum
31 Maret 2019
Sekelompok Ibu-ibu Bagikan Makanan Kepada Para Demonstran
Lama Tak Ada Kepastian, Orsenik 2022 Digelar Tanpa Tim Rewo-Rewo
Gladi Kotor Saat Persiapan, Kunci FSH Sabet Juara 1 Lomba Debat Bahasa Inggris
Defile Kembang Sepatu jadi Maskot di Konser Sinfonia XIII UKM Musik
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Perempuan dan Budaya Nyinyir yang Tak Bisa Ditinggalkan
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Perempuan dan Budaya Nyinyir yang Tak Bisa Ditinggalkan
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?