• Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, 1 April 2023
  • Login
Amanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Rak
    • Sinema
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
No Result
View All Result
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Rak
    • Sinema
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
No Result
View All Result
Amanat.id

Perang Badar, Perang Hawa Nafsu dan Perang Ideologi

Lalu, akankah generasi muslim saat ini mampu melawan hawa nafsu yang semakin sulit dikendalikan?

Agus Salim I by Agus Salim I
4 tahun ago
in Artikel
0
Ilustrasi perang badar.

Narasi perang badar digaungkan demi kepentingan politik kelompok tertentu. Bagaimana kesalahanpahaman kita dalam memaknai peristiwa besar ini, kini?

Sejarah mencatat, pertempuran besar pertama umat Muslim melawan musuh-musuhnya terjadi di Lembah Badar. Kala itu, umat Muslim di bawah komando Nabi Muhammad SAW bertempur habis-habisan melawan kaum Quraisy yang saat itu dipimpin oleh Abu Jahal.

Kebencian Abu Jahal terhadap umat muslim memang telah memicu dan menyeret kedua belah pihak ke dalam peperangan. Peristiwa yang bertepatan pada 17 Ramadhan itu, melibatkan tak kurang dari 1000 pasukan kaum Quraisy, menghadapi kekuatan Islam yang hanya berjumlah 313 orang. Umat Islam pun berhasil menundukkan Abu Jahal beserta bala tentaranya.

Meski menjadi pemenang, namun umat Muslim tidak berlaku semena-mena terhadap kaum Quraisy. Hal itu tak lepas dari gaya kepemimpinan Rasulullah yang tidak pernah mengajarkan balas dendam dan menyimpan kebencian.

Selepas perang, Rasulullah menegaskan kepada para sahabatnya bahwa mereka baru saja pulang dari pertempuran kecil menuju pertempuran akbar. Waktu itu, para sahabat masih cenderung memaknai perang Badar sebagai perang besar. Namun, perang besar yang sesungguhnya menurut Rasulullah adalah melawan hawa nafsu.

Baca juga

Menilik Hyperloop, Transportasi Kilat Masa Depan

Pergeseran Makna Cancel Culture di Media Sosial

Ngeri-Ngeri Sedap: Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

Memasuki bulan Ramadhan ini, umat muslim masih cenderung gagal memaknai lebih dalam hakikat dalam berpuasa. Mereka belum mampu mengekang hawa nafsu keduniawian yang hingga saat ini masih menjadi tradisi yang melekat erat. Padahal, ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu cara untuk mengekang hawa nafsu.

Seseorang yang terlalu mengikuti hawa nafsu akan berakhir merugi dan celaka. Lihat saja, manakala hawa nafsu menjadi sesuatu yang harus diikuti maka, yang bersangkutan telah mengalami kekalahan. Tentu, dia tidak merasa kalah dalam peperangan. Namun, kalah dalam perang melawan hawa nafsu.

Ketidaksadaran itu juga yang akan membawa mereka ke dalam lubang hitam yang membinasakan.

Diriwayatkan dari sahabat Annas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar, Nabi Muhammad SAW bersabda “Syukhhun Mutho’un wa huwa muttabi’un wa I’jabulmar’i binafsihi” yang artinya, adapun tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri.

Lalu, akankah generasi muslim saat ini mampu melawan hawa nafsu yang semakin sulit dikendalikan?

Budaya membenci

Tak peduli meski telah memasuki bulan Ramadhan, polarisasi kebencian masih menjadi sesuatu yang digemari masyarakat. Nafsu kebencian telah beranak pinak dalam setiap generasi muslim yang bahkan, tidak disadari oleh mereka sendiri. Lalu, muncul dalam berbagai varian yang sama-sama mempunyai daya hancur luar biasa.

Hal itu terus berlanjut ketika segelintir orang yang mengatasnamakan kepentingan golongan, saling baku hantam ideologi dengan kelompok lain.

Satu kelompok beranggapan ideologi mereka paling benar. Lalu, menyerang kelompok lain yang dianggap terbawa arus garis keras. Akhirnya, budaya membenci pun tak terelakkan lagi.

Lebih parah, perang ideologi yang berujung pada budaya membenci semacam ini tetap dirawat dan dipertahankan. Entah lupa atau memang tidak tahu, bahwa kebencianlah yang mengakibatkan perang saudara antara Kurawa dan Pandhawa di padang Kurusetra dalam kisah Mahabharata.

Mengancam Pancasila

Arus ideologi yang mengancam terhadap Pancasila semakin deras akhir-akhir ini. Bahkan sudah memasuki sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Adanya perbedaan pandangan mengenai ideologi, disinyalir mampu memunculkan berbagai ideologi baru yang tidak toleran.

Hal ini diperparah dengan kemunculan kelompok-kelompok baru yang juga mengancam falsafah kenegaraan. Mereka berjalan, lalu mendoktrin masyarakat untuk meninggalkan ideologi Pancasila yang notabene sudah menjadi konsensus nasional.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh LSI Denny JA menunjukkan bahwa dalam 13 tahun terakhir jumlah masyarakat pro Pancasila mengalami penurunan. Pada tahun 2005, publik yang pro Pancasila mencapai 85,2 persen. Namun, di tahun 2010 menurun menjadi 81,7 persen. Presentase itu terus menurun kala memasuki tahun 2015 yang berada di angka 79,4 persen. Hingga akhirnya menduduki angka 73,5 persen pada tahun 2018.

Meski penurunan yang terjadi tidak terlalu signifikan, namun harus menjadi perhatian serius. Bagaimana nasib bangsa ini jika ideologi Pancasila semakin hilang pemahaman dan pemaknaannya kini?

Penulis: Agus Salim

  • 2SHARE
  • 0
  • 2
  • 0
  • 0
Tags: artikel perang badarperang badarperang hawa nafsuperang ideologis
Previous Post

Pesantren Jurnalistik Bersama Majalah Gatra, Jaring Mahasiswa Jadi Wartawan Freelance

Next Post

Ngaji Sastra Bareng Soesilo Toer: Saya Menulis Karena Terpaksa

Agus Salim I

Agus Salim I

Bukan penulis mapan

Related Posts

Ilustrasi Hyperloop
Artikel

Menilik Hyperloop, Transportasi Kilat Masa Depan

by Redaksi SKM Amanat
5 Maret 2023
0

...

Read more
cancel culture di media sosial

Pergeseran Makna Cancel Culture di Media Sosial

6 Desember 2022
ngeri-ngeri sedap komunikasi anak dan orang tua

Ngeri-Ngeri Sedap: Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga

1 Desember 2022
flexing di media sosial

Bahaya Flexing di Media Sosial

13 November 2022
perdebatan di media sosial

Saat Celetukan Ringan di Media Sosial Menjadi Perdebatan Panjang

2 November 2022

ARTIKEL

  • All
  • Kolom
  • Mimbar
  • Rak
  • Sinema
  • Opini
Arja Imroni, UIN Walisongo, Menjaga jari dan lisan

Pentingnya Menjaga Jari dan Lisan di Bulan Ramadan

26 Maret 2023
Aksi Tolak Perppu Ciptaker

Tolak Perppu Ciptaker, Mahasiswa dan Masyarakat Penuhi Halaman Gedung DPRD Jateng

14 Maret 2023
Dahliah Umar, UIN walisongo

Dahliah Umar Bagikan 3 Strategi Kesetaraan Gender dalam Berpolitik

20 Maret 2023
Nur Rohman, Integritas dan Sinergitas, UIN Walisongo

Nur Rohman: Integritas Harus Disinergikan dengan Kemampuan dan Kemauan

24 Maret 2023
Load More
Amanat.id

Copyright © 2012-2024 Amanat.id

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Ikuti Kami

  • Login
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Rak
    • Sinema
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
No Result
View All Result

Copyright © 2012-2024 Amanat.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Send this to a friend