Ojhen – Puisi Hasan Tarowan

2 Min Read
gambar: dok. internet

ada bulan di bibirmu
pada roman mukanya, dua bilah sabit berapit
memancar sinar di setiap sisinya
serupa purnama, lalu tersenyum padaku

waktu matahari terbenam
tak dibutuhkan lagi parafin dengan sumbu
ditengahnya
dan cahayamu menerangjelaskan di tiap penjuru
gelap

sungguh, aku melihatnya
: ada bulan di bibirmu.

2015

menulis tentangmu
ketika aku berpikir menulis tentangmu
dari mata telinga dan bibir
sampai utuh sekujur tubuh

agar tak ada yang mengenalinya
aku menulisnya dari timah air mata

saat kau tulis kisahku, tulis dengan darahmu
adakah yang lebih abadi dari kisahku kisahmu.

2015

ojhen
sejak burung-burung berlepasansan

dari matamu, ia tak lagi

mengirimkan pesan

sepenuh perasaan, ku kirim pada langit

tumpah di laut dadamu

demi awan yang menggumpal di atas,

aku hendak jatuhkan satu persatu puisi yang tak begitu rumit

dari sela jari-jemariku agar mudah kau pahami.

pandangilah dari balik jendela atau pintu yang kau buka separuh,

pahami lagu-lagu air yang berjatuhan

sebab itulah pesannya

demi angin yang berhembus,

aku-kau pernah melambung tinggi ke udara

meraih cinta

hingga sampai pada bagian yang paling sedih

perjalanan melukis topan dan petir

menghapus peta dan waktu

kekasih, sucikan aku dari bayang wajahmu.

sucikan aku.

2017

Catatan: Ojhen adalah bahasa madura dari kata hujan.

HASAN TAROWAN, penyair muda kelahiran Sumenep 13 pebruari 1995. Antologi puisi tunggalnya “orang mabuk di negeri mahapetry” (2016) dan antologi bersama “sajak anak negeri” (2017). Aktif di komunitas Soeket Teki dan pengelola Komunitas sastra Silang Pertemuan Semarang. Pemilik cita-cita sederhana dan sepele: bangun pagi.

Share This Article
Surat Kabar Mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Untuk mahasiswa dengan penalaran dan takwa.