By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nur Muhammadku (Dipaksa) Dipadamkan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
(Sumber gambar: Bangkitmedia.com)
Kolom

Nur Muhammadku (Dipaksa) Dipadamkan

Last updated: 5 Desember 2018 8:32 pm
Diah Khalimatus Sa'diyah
Published: 4 Desember 2018
Share
SHARE
(Sumber gambar: Bangkitmedia.com)

Selasa 4 Desember 2018, mata penulis tertuju pada salah satu unggahan di facebook. Dalam kolom komentar, saya menemukan salah satu akun yang berceloteh tentang video pengajian Prof. K.H Aqil Shiraj (Ketua PBNU) . “Aqil Shiraj dajjal, kamu sendiri bilang jangan ke arap arapan. Kau pikir orang arap gak marah kamu bilang gitu lancau lu sirad“, begitu akun tersebut menuliskan.

Ketika saya membuka profil dari dari akun yang berkomentar, ternyata dia pemuda Islam. Foto profilnya memakai peci bersama seorang wanita berkerudung hitam yang kelihatannya adalah istrinya. Beberapa unggahan fotonya pun saya amati terdapat kalimat tauhid.

Tidak cukup satu akun saja, muncul satu akun lainnya yang cepat merespon unggahan tersebut dengan berkata,”Said kebanyakan makan micin lho.” Tampilan keagamaan akun profil kedua pun tak jauh beda dengan akun pertama.

Ulama sekaliber Said Aqil yang dimaki-maki demikian di kolom komentar itu, tentu, orang-orang yang tidak terima dengan makian itu, akan pula segera mengangkat bibirnya (membalas komentar) beragam dengan konsekuensi hilangnya nilai di ruang publik.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa publik semakin ke sini semakin mudah mengolok-olok hal yang dianggapnya tidak sesuai berdasarkan presepsinya? Mungkin ada benarnya ketika pemerintahan Jokowi mencanangkan program Revolusi Mental setelah melihat yang terjadi di ruang sosial kita kini. Meskipun revolusi mental itu masih terbang tinggi di langit.

Ya, ini tentang akhlak. Ajaran Muhammad adalah ajaran akhlak manusia dan Nur Muhammad selalu menyinari umatnya karena akhlak yang dicontohkannya tetap digunakan. Namun Nur itu perlahan meredup.

Imam Tirmidzi pernah meriwayatkan begini, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakanniscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.”

Imam Bukhori juga pernah meriwayat hadist begini, “Seorang Muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

Lebih gamblang lagi tentang hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Bukan termasuk dari kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak menyayangi yang lebih muda, serta orang yang tidak memerintah pada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.”

Ketiga hadis itu berisi ajaran nabi tentang akhlak dari sekian banyak ajaran akhlak kepada umatnya. Namun ajaran itu tenggelam di umur zaman yang katanya sedang berada di puncak kemajuan melalui net media atau cyberspace.

Adakah kita pernah berpikir sebelum melakukan perbuatan meskipun hanya komentar diunggahan orang? Everything has a consequences! Nabi dan Islam yang selama ini disebut-sebut sebagai pedoman hidup hanya seperti angin surga yang lewat.

Apalagi di tahun politik dan dunia buzzer seperti sekarang. Kita akan semakin sulit dan dipaksa diajak pergi dari ajaran untuk bersimbosis mutualisme dan menyadari kita adalah hanya manusia yang hidup bersama manusia tanpa bias apa-apa kecuali kehendak kuasa. Atau kah memang kita sudah membunuh ilahiah meski sering menyebut kalimat tauhid?

 

Penulis: Khalimatus Sa’diyah 
Editor: Semoroneng Bumi

Kemajuan AI dan Sifat Kritis yang Dipertaruhkan
Glorifikasi ‘PNS Profesi Idaman’
Belenggu Pers di Tangan RUU Penyiaran
Mengapa Kebohongan-Kebohongan di Media Sosial  Bisa “Diimani”?
Gerak Politik Keluarga
TAGGED:hilangnya nilai di media sosialnur muhammadpemuda islampolitisasi agamasaid aqil shiraj
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Keadilan lingkungan, Penyebab keadilan lingkungan, Manfaat Lingkungan, Lingkungan bagi pembangunan, UIN Walisongo
UIN WalisongoVaria Kampus

Hotmauli Ingatkan Pentingnya Keadilan Lingkungan dalam Pembangunan

Redaksi SKM Amanat
25 Juli 2024
Cerita dan Sosok Inspirator Di Balik Wisudawan Terbaik FuHum
Satukan 3 Proses Akademik, LP2M UIN Walisongo Adakan Lokakarya Imsakiyah 1444 H
Penebangan di Kampus Hijau, Untuk Apa?
Perjuangan Menyelesaikan Skripsi di Balik Sosok Wisudawan Terbaik FST
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nur Muhammadku (Dipaksa) Dipadamkan
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Nur Muhammadku (Dipaksa) Dipadamkan
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?