By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nilai Kemanusian untuk Dunia yang Lebih Baik
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
(dok.internet)
Artikel

Nilai Kemanusian untuk Dunia yang Lebih Baik

Last updated: 11 Oktober 2019 10:03 pm
Sigit A.F
Published: 11 Oktober 2017
Share
SHARE
(dok.internet)

Di hari ini udara terasa sangat pengap, kebencian jauh lebih besar dari pada cinta. Dunia menjadi sesuatu yang kita prihatinkan, bukan dinikmati. Saling curiga, permusuhan, dan berbagai berita mengenai pembunuhan adalah tragedi yang kini kita lihat dan dengar sehari-hari. Konflik Azerbaijan-Armenia, perang di Suriah sampai krisis di Semenanjung Korea seolah mereprensatasikan, dunia ini bergerak menjauh dari nilai kemanusiaan.

Mustinya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang paling bertanggung jawab terhadap memanasnya politik global. Namun, jauh dari peranan; yang dapat dilakukan PBB kini hanya dapat mengecam dan moderator pertikaian yang rapuh. Resolusi PBB untuk mengakhiri konflik di berbagai negara yang terlibat itu seolah melempem.

Sehingga yang terjadi adalah, negara-negara besar dunia, seperti Amerika Serikat, China, maupun Rusia melakukan suatu semaunya untuk mengamankan kepentingannya masing-masing. Peristiwa ini seolah menegaskan bahwa, ramalan Samuel P. Huntington belum juga terjadi. Konflik masih tetap didasarkan pada politik dan ekonomi, bukan agama dan budaya.

Kondisi Indonesia, agaknya lebih beruntung ketimbang negara lainnya. Konflik yang terjadi di negara ini hanya perkutat pada epistemologis, bukan pada tataran aksi, tragedi kemanusiaan. Tidak seperti di Timur Tengah yang telah pecah perang saudara. Atau, konflik di Semenanjung Korea, yang siap ‘meledak’ kapan saja.

Meskipun begitu, rakyat Indonesia tak seharusnya apatis terhadap memanasnya keadaan global. Walupun dunia sekarang telah terdikotomi oleh batas-batas negara. Masih ada satu kesamaan dan satu identitas yang menyatukan bahwa kita adalah sama-sama manusia. bersaudara atas identitas tersebut, dari manapun negaranya dan apapun agama, suku, ras dan golongannya.

Mungkin kita sejenak harus mengingat kembali mimpi seorang aktivis era 60 an, Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran (1989). Ia yang memimpi tentang sebuah dunia tanpa perang, bebas dari kebencian, dan pembunuhan atas nama dan alasan apa pun. Memimpikan dunia tempat manusia hanya sibuk memikirkan pembangunan – pembangunan dunia yang lebih baik.

Mahatma Gandhi pernah bersemboyan “my nasionalism is humanity”. Yang juga bisa ditafsiri, jadiah manusia tanpa batas. Tidak terikat oleh wilayah atau negara. Tegakkan nilai kemanusiaan dimanapun kita berada.
Agaknya mimpi ini telah kabur dalam pandangan dunia. Cinta kemanusia telah menjadi mitos masyarakat modern yang cenderung matrealis. Bukan menjadi sebuah cita bersama yang harus digapai. Apesnya, saat kita menantikan sosok seperti Mahatma Gandhi, yang muncul malah Donal Trump. Tragis!!!

Jika negara-negara besar—yang seharusnya dapat menyelesaikan tragedi ini—tidak memiliki nilai kemanusian. Namun, bertindak sesuai kepentingannya masing-masing. Tragedi ini tidak akan pernah usai. Dan mengakar digenesai setelahnya. Yang terjadi adalah, penerus kita nanti akan hidup dalam bahaya. Ledakan dimana-mana. Lalu mereka akan mengutuk generasi hari ini, yang telah mewariskan dendam dan permusuhan. Suatu hal, yang patut menjadi pertimbangan.

*Artikel pernah dimuat di Harian Sinar Indonesia (Sindo) pada 2017.

Menelaah Kembali Tradisi Buka Puasa Bersama
Lenyapnya Identitas Kearifan Lokal dalam Arus Modernitas
Bunuh Diri Bukan Hanya Tentang Kesengajaan
Languishing: Sebuah Perasaan Kestagnanan Hidup
Semua Seolah Dikotori Politisi, Termasuk Puisi
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Cakruma 2025, Cakruma SKM Amanat, SKM Amanat, Oprec SKM Amanat, UIN Walisongo
SKM AmanatVaria Kampus

Selamat! Berikut Cakruma 2025 yang Dinyatakan Lolos Seleksi Berkas dan Berhasil Lanjut Tahap Berikutnya

Nadia Safwa Aqila
4 September 2025
Jejak Menuju Puncak
Bantu Masyarakat Getas, GenBI UIN Walisongo Adakan Program Desa Binaan
Antologi Cerpen Soeket Teki Edisi 3
Terinspirasi Kisah Nyata, Film “Ulem” Raih Juara 3 Pesona-PTKN 2022
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nilai Kemanusian untuk Dunia yang Lebih Baik
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Nilai Kemanusian untuk Dunia yang Lebih Baik
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?