By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Menyelami Dunia Batin Seorang Perempuan Lewat Budaya Ronggeng
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
(Instagram: Srintilartswara)
Features

Menyelami Dunia Batin Seorang Perempuan Lewat Budaya Ronggeng

Last updated: 18 Oktober 2019 5:22 pm
Fika Eliza
Published: 7 Juli 2019
Share
SHARE
(Instagram: Srintilartswara)

“Saya adalah ronggeng yang berdaulat atas diri saya sendiri,” seru Tri Utami.

Kemudian, ia berdiri tegap menghadap ke atas, disorot tiga buah lampu, yang semakin meredup, dan gelap. Tepukan ratusan tangan penonton bergemuruh, membuat riuh seisi Gedung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Kamis (4/7/2019). Pentas monolog musikal resmi berakhir.

Pementasan bertajuk ‘Srintil: Tembang Duka Seorag Ronggeng’ itu disadur dari novel ‘Ronggeng dukuh Paruk’ karya Ahmad Tohari. Dengan sutradara Iswadi Pratama, monolog musikal tersebut mengisahkan seorang ronggeng dengan penderitaan yang dialamainya.

Tentu, Iswadi tidak mengisahkan seluruh isi novel secara linier. Ia hanya memilih fase-fase terpenting dalam hidup Srintil, sesuai degan penafsiran dirinya.

“Di novel kan, diakhir hidupnya Srintil itu gangguan jiwa. Nah kita tidak mengonfirmasi atau mengafirmasi versi novelnya. Tapi kita menegasi, membuat alternatif lain,” katanya saat ditemui Amanat.id.

Pementasan yang berdurasi selama lebih dari dua jam itu, banyak adegan yang menunjukkan ronggeng itu direndahkan. Bahkan saat itu, Srintil yang telah menjadi ronggeng seperti barang yang diperjualbelikan. Dalam tradisi Dukuh Paruk memang seorang ronggeng harus mau melayani semua pria yang membayarnya.

Di sini, Iswadi ingin menyorot bagaimana perempuan masih tersubordinasikan, terutama di negeri ini. Padahal, perempuan harus dilihat dengan hati. Mereka harus dihormati dan dimuliakan siapapun dia.

“Bahkan seorang pelacur pun harus kita hargai, karena perempuan juga memiliki harkat. Kita tidak bisa menghakimi apapun profesinya,” kata sang sutradara dengan alunan kata yang lirih namun begitu tegas.

Melalui pementasan itu, Iswadi menyelami dunia batin seorang perempuan. Tak hanya itu, kata-kata yang diutarakan Srintil “Lebih sakit batin daripada sakit raga”, menunjukkan bahwa tidak ada satupun perempuan yang mau dihargai hanya sebatas tubuhnya saja. Jadi hal yang paling sakit bagi perempuan adalah ketika harkatnya terlukai. Dan Srintil, seorang ronggeng merasakan keduanya.

Sangkan Paraning Dumadi

Hal menarik dari pementasan tesebut, tentu pada ending cerita. Seperti yang diceritakan di awal, pentas diakhiri dengan adegan Srintil berdiri menghadap ke atas.

Dalam kisah Ronggeng Dukuh Paruk, Srintil begitu mencintai Rasus. Ia ingin menari untuk Rasus dan menyerahkan dirinya untuk Rasus. Namun sebagai ronggeng, ia tak bisa melakukan itu. Sepanjang hidupnya sejak menjadi seorang ronggeng, ia selalu megalami pergulatan batin karena hal tersebut.

Menurut Iswadi, adegan terakhir itu menunjukkan kemurnian kembali seorang roggeng. Srintil kembali menemukan jalan spiritualnya. Dalam filosofi Jawa “Sangkan Paraning Dumadi” yang artinya dari mana manusia berasal dan akan kemana ia akan kembali.

Kalimat yang ucapkan srintil, seperti di kalimat pertama tulisan ini, menggambarkan kebebasan Srintil. Tarian dan tubuhnya tak lagi untuk lelaki manapun, ataupun untuk Rasus seorang.

“Pada akhirnya, tarian itu dipersembahkan untuk sesuatu yang lebih agung,” ujar pria kelahiran Lampung itu.

Kalimat pertama itu, kata Iswadi, juga mengandung makna agung bagi kita seorang muslim. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa seorang manusia adalah khalifah fil ard, ia berkehendak atas dirinya sendiri.

Budaya Ronggeng dan stigma negatif

Iswadi menjelaskan, ronggeng merupakan salah satu bentuk dan ekspresi budaya sah yang ada di Indonesia, tepatnya di daerah Banyumas. Namun Ronggeng di stigmakan negatif dan juga di selewengkan.

“Sebenarnya, yang membuat ronggeng itu menjadi negatif bukan seni ronggengnya, tapi perilaku dan persepsi kita, ronggeng itu tradisi yang ada di Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, kesenian merupakan ekspresi estetik dari masyarakat, bahwa mungkin disitu ada hal-hal yang tak sepakat secara nilai dengan orang lain, namun hal itu sebenarnya bisa di negosiasi kultural.

“Bahwa dia (ronggeng) sebagai bentuk seni dan budaya, dia berhak ada dan hadir diantara kita, jangan dihakimi,” katanya.

Ia berhrap dengan menghadirkan kembali cerita Ronggeng Dukuh Paruk dalam Monolog Musikal ini dapat ditanggapi dan direspon dengan baik oleh masyarakat.

“Kalau kita mau membangkitkan seni ronggeng lagi, itu diluar kemampuan kita, artinya tradisi itu masih bisa tumbuh dan berkembng oleh pelakunya sendiri dan tentunya didukung oleh msayarakat dan negara. Negara itu harus perduli dengan tradisinya sendiri,” ucapnya.

Penulis: Fika Eliza
Editor: Moh. Azzam

Menyatu dengan Alam Ala NU Backpacker Ungaran
Lakon Tampoma dalam Bingkai Perlawanan
Ketika Sawah Disulap Jadi Destinasi Wisata
Akhir Kisah Penggusuran Tambakrejo Dalam Pentas Siput dan Rumahnya
Humor Gus Miftah: PSK lebih Mahal dari DPR
TAGGED:iswadi pratamamonolog musikal srintilronggeng dukuh paruksrintil art swarataman budaya jawa tengahTrie utami
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Varia Kampus

Inovasi Rainbow Ubi Hantarkan Tim FISIP Juara Plan Bisnis

Nabila
19 September 2019
Forshei UIN Walisongo Borong Piala di Temilreg 2018
Pakaian Perempuan dan Kesenangan Laki-laki dalam Tren Stecu-Stecu
Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati
Kado Dies Natalis, Kini UIN Walisongo Punya 7 Jurnal Terakreditasi Peringkat 2
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Menyelami Dunia Batin Seorang Perempuan Lewat Budaya Ronggeng
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Menyelami Dunia Batin Seorang Perempuan Lewat Budaya Ronggeng
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?