By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mengutamakan Kesatuan Bangsa
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Mengutamakan Kesatuan Bangsa

Last updated: 18 Juli 2018 3:09 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 20 Mei 2017
Share
SHARE

dok. internet

Mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Dengan populasi mayoritas, tak heran jika ada beberapa kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam atau khilafah. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) salah satunya.

HTI menganggap bahwa penetapan sesuatu harus dengan hukum Allah, beragama Islam harus totalitas dan secara menyeluruh. Lalu, Umat harus kembali ke Islam yang murni, berdasarkan Al Quran dan Hadits. Namun aneh, dengan prinsip seperti itu, yang menjadi visi utama mereka  malah merubah dasar negara Indonesia. Dengan anggapan, agama tidak akan bisa dijalankan dengan sempurna sebelum khilafah berdiri.

Memang sangat janggal. Apalagi, dalam Al Quran tidak ada satupun ayat yang secara mahkamat memerintahkan umat Islam mendirikan khilafah. Yang ada malah ayat bahwa Allah memberikan toleransi untuk beragama. Q.S Al-Baqarah 256 : “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” Jika dalam berislam Tuhan saja menegaskan tidak ada paksaan, lah kok sekarang malah HTI memaksakan negara Khilafah untuk Indonesia.

Jika menilik sejarah Indonesia di awal kemerdekaan, Sila pertama yang menjadi dasar pada awalnya memang berbunyi, Ketuhanan Yang Maha Esa  dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Akan tetapi, wakil-wakil dari non-Muslim sangat keberatan terhadap sila pertama itu. Dengan tercantumnya ketetapan seperti itu, mereka beranggapan negara akan melakukan diskriminasi terhadap kelompok  minoritas. Jika diskriminasi itu ditetapkan juga, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.

Oleh karena itu,  Moh. Hatta mengajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Mr. Teuku Mohammad Hasan untuk membicarakan hal yang serius ini. Karena mereka tidak ingin ada perpecahan dalam suatu bangsa dimana jika hal itu terjadi maka akan membahayakan keutuhan NKRI. Akhirnya, mereka bermusyawarah mufakat untuk mengubah isi sila pertama menjadi hanya Ketuhanan Yang Maha Esa.

Maksud utama Ulama Indonesia pada waktu itu menerima Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 adalah  Supaya tidak terjadi disintegrasi di Indonesia. Seperti  Rasulullah SAW menerima perjanjian damai Hudaibiyah yang seolah merugikan Islam namun kenyataanya di sanalah titik balik menyebaran Islam tanpa perang dan senjata.

Dari sejarah ini kita bisa menyimpulkan bahwa para tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia mementingkan jiwa Nasionalisme. Karna negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila dan akan menyatukan seluruh keragaman perbedaan terutama perbedaan agama.

Indonesia adalah negara heterogen yang memiliki beragam suku, bahasa, agama dan adat kebiasaan. Semboyan Indonesia adalah Bhineka Tunggal ika. Frasa ini dapat kita lihat terpampang jelas pada lambang Garuda Pancasila, yakni pada pita di bagian kaki. Semboyan ini berperan sebagai pemersatu bangsa.

Persatuan dan Kesatuan merupakan senjata yang paling ampuh bagi bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Persatuan berarti bersatunya macam-macam corak yang beranega ragam menjadi satu kesatuan yang utuh. Jadi Keutuhan bangsa dan negara Indonesia harus tetap dijaga secara utuh.

Kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh suku, agama ras dan etnis yang bermacam-macam. Mereka Semua adalah Indonesia. Jika negara Indonesia menjadi negara Islam sama halnya dengan menghianati sejarah perjuangan para pendiri Bangsa Indonesia yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan.

Dalam konteks ini berlaku kaidah, mencegah perbuatan keji itu lebih di utamakan dari mengajak kepada kebaikan. Jadi, jika perubahan indonesia menjadi negara islam hanya akan memunculkan perpecahan dan konflik, sebaiknya hal itu dihindari. Toh, Ideologi Pancasila yang lebih dari tujuh dekade telah terbukti mampu memayungi bangsa Indonesia yang penuh perbedaan dan  tetap menjaga kesatuan dan keutuhannya.

Oleh karena itu kita harus saling menghargai, menghormati dan toleransi. Dengan adanya persatuan dan kesatuan Negara akan mudah mencapai tujuan Nasionalnya sehingga kesejahteraan rakyat akan meningkat.

Talitha Fauzia Zhafirah
Mahasiswa semester 2 Prodi Pendidikan Matematika
 UIN Walisongo Semarang
Angka dan Kehidupan Nyata
Petaka Kucuran Sumber Daya Alam
Mengatasi Krisis Identitas Diri
Ita Martadinata dan Pemerkosaan Massal 1998: Fakta yang Dirabunkan dari Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Kafe Gethe Semarang, Teh Klasik Kental dengan Sejarah
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Rokok, Sejarah rokok, Budaya merokok, Rokok di Indonesia, Rokok dan budaya Indonesia, Konsumsi rokok
Esai

Rokok dalam Lakon Kebudayaan

Riska Ayu Maharani
5 Juli 2024
Diduga Sidang Hasil Pemilwa UIN Walisongo Ditunda sebab Mediasi dan Sengketa
Dilematis Ekspektasi Keadilan dan Realitas Hukum
Angkat Kesetaraan Gender, Kartunis Abdul Arif Raih Penghargaan Internasional dari Izmir Turki
Mahasiswa UIN Walisongo Jadi Korban Begal Hingga Alami Luka Bacok di Lengan Kirinya
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mengutamakan Kesatuan Bangsa
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Mengutamakan Kesatuan Bangsa
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?