By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mencari “Bintang” di Desa yang Nyaris Tenggelam
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Mencari “Bintang” di Desa yang Nyaris Tenggelam, Bonang, Demak
Suasana malam para nelayan yang telah selesai membersihkan kapal di Desa Morosari, Bonang, Demak, Kamis (12/10). (Amanat/Nur Rzkn)
FeaturesMelipirMilenial

Mencari “Bintang” di Desa yang Nyaris Tenggelam

Last updated: 15 Oktober 2023 8:17 am
Nur Rozikin
Published: 13 Oktober 2023
Share
SHARE
Mencari “Bintang” di Desa yang Nyaris Tenggelam, Bonang, Demak
Suasana malam para nelayan yang telah selesai membersihkan kapal di Desa Morodemak, Bonang, Demak, Kamis (12/10). (Amanat/Nur Rzkn)

Amanat.id- Kabar sering terjadinya Rob, sempat menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kami. Bagaimana tidak, perjalanan tak begitu dekat jika kami harus membasuh ulang motor ketika terkena air asin di desa Morodemak, Bonang, Demak.

Contents
Surga DuniaKekhawatiran

Rob sendiri merupakan naiknya air laut ke daratan, bahkan sering kali menelan daratan yang dijangkaunya. Ketika air Rob terkena mesin motor, jika tak kunjung dicuci dengan air tawar, tidak ada harapan banyak untuk motor tersebut melawan karatan yang dengan cepatnya menggerogoti mesin.

Dengan wajah penuh keyakinan, kami mencoba menepis kekhawatiran yang telah singgah di pikiran, Kamis (12/10). Tekat kami kuatkan demi mencari ‘bintang’ di sana.

“Harus ketemu bintang,” ucap kami untuk membakar semangat.

Sematang mungkin, perlengkapan kami siapkan. Saya yang menobatkan diri sendiri sebagai pemimpin kelompok terus memperhatikan keselamatan dan kondisi kendaraan yang digunakan menerjang perjalanan.

Liku Jalan Terjal

Tepat pukul 15.40 WIB, kami bertiga  (Saya, Eva, dan Erin) berangkat dari Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Jogoloyo, Demak. Kami mengambil rute Demak Kota, Kecamatan Bonang, dan masuk ke Desa Morodemak.

Sebelumnya, saya sudah dua kali ke Desa Morodemak, ambil arah Demak Kota, Karang Tengah, Bonang. Tapi, karena saya anggap rute itu terlalu jauh, akhirnya kami mengikuti arahan Erin selaku warga lokal desa.

Waktu itu kami patuh dengan arah yang diberikan, lantaran rasa percaya yang begitu tinggi, kami pun langsung melaju 70 km per jam dengan sepeda motor Supra X 125 dan Beat tahun 2012 tanpa henti, meskipun sempat terbesit keraguan akan medan yang akan kita lalui.

Hal di luar dugaan pun mengagetkan kami. Dari yang awalnya kita merasa takut akan banjir Rob yang akan menerjang kami, ternyata nihil. Begitu pula dengan jalan yang awalnya kami kira sudah hampir keseluruhan sudah dibeton dan mulus.

Mata terpana kami mulai terlihat ketika motor yang kami naiki menempel di jalan Desa Morodemak. Bagaimana tidak, ada beton yang terangkat sebelah, jalanan tanah yang terjal, jalan setapak, bahkan jalan penghubung ke jembatan dengan tinggi hampir dua sepeda motor dengan jalan utama.

Mencari “Bintang” di Desa yang Nyaris Tenggelam, Bonang, Demak
Seseorang sedang wudu di masjid Desa Morodemak, Bonang, Demak, Kamis (12/10). (Amanat/Nur Rzkn)

Surga Dunia

Lantaran tak mungkin tetap mempertahankan kecepatan yang sama dengan awal perjalanan, kami pun memutuskan untuk lebih hati-hati dan menjaga kewaspadaan.

Di tengah fokus kami pada jalanan yang begitu terjal, tak sengaja kami sempat menghiraukan beberapa sapaan warga sekitar. Entah berapa kali sapaan yang tak kami dengar. Namun, satu sapaan terakhir masih teringat jelas di pikiran sebelum kami beranjak menghilangkan jejak dari pandangan beberapa warga yang menyapa kami.

“Hati-hati mas, mbak,” sapa warga sekitar.

Tidak lama setelah itu, kami pun mulai mencoba menikmati pemandangan yang ada di sekitar. Kami pun tampak takjub pada berbagai para nelayan yang sedang membersihkan jala di atas kapal. Begitu dekat dengan kami posisi kapal tersebut, rasa-rasanya tak ada lima meter dengan jarak kami yang berada di atas motor.

Tidak lebih dari 10 menit, kami pun sampai di tempat singgah Erin selaku warga lokal asli yang ikut bersama kami menjelajah bumi yang nyaris tenggelam ini. Hembusan nafas istirahat mulai kami rasakan dengan tenang, sambil mendengarkan beberapa bakwan yang baru dimasukkan ke wajan.

Setelah 5 menit kami asyik mengobrol, berbagai hidangan tiba-tiba mengagetkan kami, yang sontak membuat kami berhenti untuk berbincang. Berbagai hidangan itu pun disajikan untuk kami selaku tamu di situ. Bakwan, mendoan, ikan goreng, dan botok ikan yang masih terlihat jelas uap panasnya dihadapkan di depan kami.

Pukul 16.48 WIB, seketika kami harus mengurungkan niat untuk mengisi penuh perut kami dengan santapan yang telah tersaji. Peralatan alat salat kami kumpulkan satu-persatu, sebelum beranjak meninggalkan tempat singgah itu.

Tak jauh dari tempat singgah itu, kami pun bergegas menuju masjid terdekat untuk melaksanakan ibadah salat. Di luar ekspektasi kami, masjid yang tampak kumuh dan kurang terawat dari luar, tampaknya begitu terawat dan memiliki banyak inovasi di dalamnya.

Seperti saat kami baru masuk ke area wudunya. Mata berkaca-kaca seraya terpana pada pemandangan tempat wudunya. Lukisan dan bangunan dengan suasana pedesaan di area pegunungan tempat wudu itu, terasa menghipnotis kami. Desain dinding yang tampak akan bebatuan dan awan-awan yang menyatu dengan masjid, serasa kami tak percaya jika itu masjid awal yang kami kira kumuh.

“Bagus banget,” ucap kami.

Berbagai bangunan kayu yang menghiasi di dalam masjid pun terasa bersih dan menenangkan menurut kami.

Kekhawatiran

Menurut cerita para warga, Rob paling tinggi sering terjadi pada malam hari. Jika tak beruntung, mungkin masyarakat yang bukan warga asli akan terjebak selama satu malam hingga Rob nya mulai turun.

Mendapati kabar itu, kami pun bergegas menyiapkan diri ketika telah selesai melaksanakan salat magrib. Karena rasa takut terjebak di tengah jalan karena air Rob yang semakin membesar, pukul 18.30 WIB kami pun bergegas pamit dan langsung mengendarai sepeda motor motor Supra X 125 dan Beat tahun 2012 tadi.

Dengan jantung yang berdetak semakin kencang di setiap perjalanan, ditambah jalanan desa berubah menjadi sepi membuat rasa takut kami mulai membesar. Para nelayan yang awal kami datang masih sibuk dengan jaringnya, ketika pulang sudah raib dan tinggal berbagai kapal kosong tanpa pengemudi.

Karena ketakutan terus menghantui pikiran kami, bahkan tak sempat menemukan pemandangan bintang yang awalnya kami cari. Bahkan, hanya sekadar foto pun kami tak menyempatkannya. Namun, berbagai keindahan yang telah kami lalui sebelum pulang, kami rasa sepadan dengan niat awal yang hanya mencari bintang di desa ini.

Penulis: Nur Rzkn

Silent Walking, Rileksasi untuk Kembali Pada Inti Diri
Bahaya Sikap Prejudice dalam Kehidupan Sehari-hari
5 Pemakaian Jam Tangan yang menunjukkan Kepribadian Seseorang
Konservasi Budaya Lawas melalui Pasar Tradisional
Fenomena LGBT di Indonesia
TAGGED:#AnugerahDewanPers2023#DewanPersBonangDemakDesa yang Nyaris Tenggelam
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Opini

Flash Sale dan Setan Konsumerisme

Ramadhani Sri Wahyuni
19 November 2020
Beberapa UKM UIN Walisongo Keluhkan Sulitnya Akses Tempat Kegiatan karena Kendala Administrasi-Adanya Tarif Peminjaman
5 Kerja Part-Time yang Bisa Dilakukan Mahasiswa
Despacito Jadi Lagu Favorit di Dance Simaphore Lomba Penegak Racana Walisongo
Cinta atau Harapan, Mana yang Sebenarnya Menyakitkan?
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mencari “Bintang” di Desa yang Nyaris Tenggelam
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Mencari “Bintang” di Desa yang Nyaris Tenggelam
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?