By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Membincang Literasi Masa Kini: Sastra Semarang Piye Kabare?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Suasana diskusi iklim literasi (sastra) di Semarang pada Semarang Literary Treinnal III (Amanat/Azzam)
RegionalSastra

Membincang Literasi Masa Kini: Sastra Semarang Piye Kabare?

Last updated: 29 Juli 2019 9:03 am
Mohammad Azzam
Published: 27 Juli 2019
Share
SHARE
Suasana diskusi iklim literasi (sastra) di Semarang pada Semarang Literary Treinnal III (Amanat/Azzam).

Amanat.id-Bagimana kabar literasi sastra di Semarang? Itulah pertanyaan yang menjadi pembahasan dari diskusi dalam forum bertajuk “Iklim Literasi di Semarang” yang diselenggarakan oleh Aliansi Literasi Semarang di Gedung Oudetrap Kota lama Semarang, Sabtu (27/07/2019).

Forum diskusi itu merupakan forum kedua dari empat forum dalam acara Semarang Literary Triennall yang mengusung tema ‘Sastra Semarang Piye Kabare?’.

Panitia menghadirkan Ketua Dewan Kesenian Kota Semarang Heri Candra Santosa, Sastrawan Senior Semarang Sulis Bambang dan Handry TM, serta sastrawan muda Semarang Ahamd Khoirudin sebagai pemantik, dan Penyair muda Semarang Himas Nur sebagai moderator.

Moderator membuka diskusi dengan mempertanyakan iklim literasi dan kabar sastra di Semarang. Di bawah lampu sorot warna biru merah, masing-masing pemantik menjelaskan sedikit pendapat mereka tentang Ikilm literasi di Semarang saat ini.

Harta Karun sastra di Semarang melimpah

Heri Candra mengatakan kondisi sastra di Semarang dari masa ke masa tidak mengalami banyak perubahan. Semarang bukan kota yang unggul di bidang sastra, namun ia tidak pernah mati.

“Saya beri bocoran, Sastra di Semarang memiliki harta karun yang dapat digunakan oleh para penulis,” tambahnya.

Harta karun yang dimaksud oleh Heri yakni, Semarang memiliki sejarah panjang yang belum disentuh oleh sastra. Hal tersebut dapat menjadi ladang ide bagi sastrawan Semarang.

Hal senada dikatakan oleh Ahmad Khoirudin. Katanya,  Semarang telah dibangun sedemikian rupa dari segi fisik. Namun, masih banyak yang belum dibangun dalam bentuk narasi.

Literasi sastra di Semarang Saat Ini

Lalu, untuk membangun literasi di Kota Semarang, Sulis mengatakan bahwa saat ini balai bahasa telah masuk ke sekolah-sekolah. Ia berharap, literasi terutama  dalam bidang sastra dapat tumbuh sejak bangku sekolah.

Sedangkan Handry berpendapat, di masa sekarang pola pengembangan literasi harus mulai berkembang.

“Jika dahulu masyarakat yang datang ke pusat baca baik perpustakaan atau sebagainya, maka sekarang kita yang mendatangi masyarakat. Misalnya kita sediakan buku-buku di warung makan agar dibaca sembari menunggu pesasan datang,” jelas pegiat sastra Komunitas Lereng Medini itu.

Suasana forum mulai memanas ketika peserta diskusi memberikan respon. Irma, seorang perempuan muda berkomentar bahwa kondisi literasi di Semarang masih tertinggal dari Yogyakarta.

Perempuan yang pernah menempuh pendidikan di kota Gudeg itu menggambarkan tentang acara sastra di Semarang yang tidak seramai Kota Yogyakarta. Ia juga mengaku kesulitan menemukan informasi tentang kesastraan,  khususnya menganai acara sastra di Semarang.

“Saya hanya mengenal beberapa sastrawan di Semarang, seperti almarhum N.H DIni,” akunya.

Selain itu, ia juga menanyakan mengapa media yang digunakan untuk publikasi sastra masih terpaku pada bentuk cetak. Menurutnya saat era digital seharusnya media sastra berkembang agar memudahkan membaca.

“Yang saya tahu di Semarang, jika membicarakan sastra, pasti berbicara mengenai produk cetak,” katanya.

Respon itu lantas memancing tanggapan dari peserta lain. Wiwid, peserta yang juga bagian dari salah satu komunitas sastra di Semarang beranggapan, informasi tentang kegiatan sastra di Semarang sebenarnya cukup melimpah.

Komunitas sastra di Semarang menurut Wiwid telah memanfaatkan media sosial dan internet sebagai publikasi sastra dan penyebaran informasi tentang kesastraan. Sehingga saat ini, fungsi dewan kesenian sudah tidak terlalu vital, karena jaringan komunitas sastra telah terbangun di ranah internet.

“Mbaknya coba cari di instagram dengan tagar komunitas sastra Semarang, pasti akan banyak muncul informasi di sana,” paparnya.

Wiwid juga menyampaikan, diskusi-diskusi sastra di Semareang masih hidup dalam forum kecil. Banyak sekali komunitas-komunitas kecil yang justru diskusinya sangat intens.

“Saya sering datang ke kedai Kang Puthu di Gunung Pati. Di sana, setiap malam tertentu pasti ada diskusi mengenai berbagai hal, salah satunya sastra. Diskusi di sana sangat hidup dan intens. Saya yakin banyak komunitas-komunitas kecil seperti itu di kota Semarang ini,” imbuh Wiwid.

Menutup jalannya diskusi itu, keempat pemantik, moderator dan segenap peserta sepakat satu hal. Meskipun dengan permasalahan-permasalahan yang ada, semua sepakat jika iklim literasi sastra di Semarang dalam keadaan baik-baik saja.

Reporter: Mohammad Azzam

Ojhen – Puisi Hasan Tarowan
[Indepth] Peletuk Asap Kericuhan Demo di Semarang
Bupati Demak Puji Produk Teh Daun Jambu Air Karya Tim KKN UIN Walisongo
38 Pesantren Jateng Unjuk Karya di Ekspo Kemandirian Pesantren UIN Walisongo 2023
Jumat di Rumah Tua
TAGGED:literasi sastraliterasi semarangsastrasastra semarang
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Sosok

Hima Bagikan Tiga Kunci Suksesnya Jadi Wisudawan Terbaik FPK

Redaksi SKM Amanat
21 November 2019
Sisa Beberapa Hari, Pendaftaran Percepatan Tes IMKA/TOEFL UIN Walisongo
Puisi Orang Mabuk
[Refleksi Isra Miraj] Momentum Penilaian Kualitas Salat Kita
Sempat Cuti, Tak Halangi Tekad Aisyah Jadi Wisudawan Terbaik FDK
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Membincang Literasi Masa Kini: Sastra Semarang Piye Kabare?
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Membincang Literasi Masa Kini: Sastra Semarang Piye Kabare?
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?