By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mediokritas dalam Gejala Popularisme-Populisme Islam
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Sumber foto: www.indoprogress.com)
Mimbar

Mediokritas dalam Gejala Popularisme-Populisme Islam

Last updated: 25 Mei 2019 3:24 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 25 Mei 2019
Share
SHARE
Sumber foto: www.indoprogress.com

“Seorang khusyu’ tapi bodoh itu bahaya.
Ibadah justru bisa melayani nafsu belaka.”

Menanjaknya gairah pengamalan ajaran Islam di Indonesia dewasa ini justru dibarengi dengan pendangkalan pengetahuan keislaman. Islam dianjurkan dengan pemahaman yang sempit dan biasa. Kompleksitas dan universilatas ajaran Islam diperas menjadi praktik-praktik keagamaan identik dengan nalar keseragaman.

Kiranya “yang biasa”, “rata-rata”, atau “tengah-tengah” itu disebut mediokritas. Ialah oposisi dari tradisi berpikir mendalam. Antropologi melabelinya sebagai kebalikan dari budaya tinggi.

Ini adalah kultur di mana kelompok-kelompok melanggangkan inferioritas pemikiran. Kelanggengan ini terus terjaga karena pemikiran di kalangan medioker dirasa nyaman untuk gaya hidup mereka.

Kompleksitas dan universalitas ajaran Islam diperas menjadi identitas khas sesuai spirit komunitas. Pandangan terhadap liyan menjadi serba hitam-putih. Pemikiran keagamaan cenderung mengeksklusi kelompok lain.

Media dan Pasar: Popularisme-Populisme

Kehadiran teknologi informasi dewasa ini, khususnya media sosial, membentuk iklim berislam dalam nuansa popularisme. Islam dikonstruksi bercitarasa rendah yang kemudian dibentuk menjadi selera massa. Suksesor terbesar dari agenda popularisme Islam adalah para “pemodal” yang menguasai kanal informasi baik di media sosial maupun media massa.

Munculnya idiom-idiom khusus seperti hijrah, kaffah, syar’i, antiriba, dsj mengindikasikan gejala mediokritas dalam memahami Islam. Idiom-idiom tersebut merupakan ilustrasi dari suatu ekspresi kalangan muslim yang semangat berislamnya menggebu.

Orang memakai jilbab menyebut dirinya hijrah. Orang istiqomah mengaji di youtube menyebut jalannya menuju kaffah. Cukup dengan begitu dia bisa melakukan bullying dan judging terhadap teman-temannya yang dipandang “belum hijrah”.

Seturut itu pemandangan atas sistem sosial menjadi berubah. Negara dan pemerintah dipandang taghut. Lembaga-lembaga negara dipandang bekerja dengan jalan penuh aniaya kepada publik. Lembaga-lembaga keuangan dipandang lumbung riba.

Pada suasana sedemikian, media pun bekerja dalam pola performatifitas yang intens. Pemahaman keagamaan yang pas-pasan dihadirkan terus-menerus kepada publik. Dai bercorak “ustadz kaleng-kaleng” dipromosikan hingga publik media akrab. Kebenaran terbentuk dari keacapan kehadiran konten-konten yang berkualitas rata-rata itu.

Bersamaan dengan itu, gejala populisme Islam muncul. Ia hadir kentara dalam idiom-idiom pembela islam, pembela agama, jihad fi sabilillah. Kolaborasi antara kepentingan politik, kapitalisme, dan idealis-militan telah menyuburkan populisme Islam yang selalu hendak mengatakan segala gerak-tindakan adalah demi Islam.

Kita patut curiga di balik gerakan popularisme dan populisme Islam itu tersulubung beragam agenda. Mulai dari agenda pasar kapital hingga kepentingan politik, juga para pembonceng yang diuntungkan: islamis militan.

Wallahu a’lam!

Penulis: Musyafak

(Staf di Balai Litbang Agama Semarang)

Menjadi Pribadi yang Sehat Jasmani dan Rohani
Belajar Kualitas, Komitmen, dan Fokus dari Perang Badar
Jarang Diketahui, Inilah 5 Tradisi Unik Saat Lebaran di Indonesia
Meneladani Toleransi Rosul
Fenomena “Hijrah” Narsistik vs Beragama secara Sederhana
TAGGED:hijrahjihadmediokrasi agamamediokritaspopularisme-populisme
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Teater Koin, Pentas Teater Koin, Studi Pentas, Teater FEBI UIN Walisongo, UIN Walisongo,
UIN WalisongoVaria Kampus

Kembali Adakan Studi Pentas, Teater Koin Bawakan Naskah “Cannibalogy”

Redaksi SKM Amanat
6 Desember 2024
Kekuasaan di Atas Kemanusiaan
Pada Dada Ibu (Kota)
Arti Saka Guru pada Masjid Demak
Dema Akan Adakan Aksi Massa Jika Birokrat Kampus Tidak Lakukan Ini
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mediokritas dalam Gejala Popularisme-Populisme Islam
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Mediokritas dalam Gejala Popularisme-Populisme Islam
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?