By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Manusia Cermin dan Keadaan yang Memilukan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
(sumber gambar: lakonhidup.com)
Kolom

Manusia Cermin dan Keadaan yang Memilukan

Last updated: 7 Desember 2018 6:02 am
Sigit A.F
Published: 7 Desember 2018
Share
SHARE
(sumber gambar: lakonhidup.com)

Alkisah, pada suatu masa terjadi perdebatan antara pelukis Cina dan Turki. Beberapa pelukis Cina mengklaim, “Kami lebih maju dan dan lebih berbakat dari pelukis-pelukis Turki.”

Pelukis-pelukis Turki merespon,”Tidak, kami lebih unggul. Keterampilan kami jauh lebih maju.” Mendengar perdebatan itu, Sultan memutuskan untuk menguji mereka. Dia berkata kepada kedua pihak: “Tidah usah bertengkar, buatlah lukisan.”

Keduanya menerima usulan tersebut. Tetapi, untuk menjaga agar lukisan mereka tidak ditiru, pelukis-pelukis Cina memasang gorden besar di tengah ruangan. Mereka meminta berbagai macam cat serta peralatan melukis lainnya dari Sultan.

Di sisi lain, pelukis-pelukis Turki tidak meminta banyak perlengkapan. Mereka hanya meminta beberapa alat untuk membersihkan dan mengkilapkan dinding. Mereka tidak menginginkan banyak warna; mereka lebih suka lukisan yang netral tidak berwarna. Mereka menyadari bahwa terlalu banyak warna akan mengacaukan penglihatan.

Bakat dan kepiawaian bukan dilihat pada ragam warna yang banyak, tetapi pada ketiadaan warna; awan di langit dan air di laut pada dasarnya tidak berwarna, mataharilah yang memberi mereka warna.
Pada saat mereka selesai melukis, Sultan memberi selamat dan memuji pelukis-pelukis Cina; dia menyukai lukisan mereka. Perpaduan warna dan keindahan formasinya benarbenar menyentuh hati Sultan. Ketika tiba giliran pelukis pelukis Turki untuk menyajikan karya mereka, mereka meminta agar gorden pembatas dibuka.

Setelah gorden terangkat, dinding yang sudah dibersihkan dan dipoles oleh seniman Turki tampak seperti sebuah karya lukisan yang sangat indah dan memikat hati. Sebenarnya yang terpantul pada dinding tersebut adalah lukisan para seniman Cina, tetapi tampak lebih indah dan berkilau. Sultan, yang terpana karena kagum, memberi selamat kepada pelukis-pelukis Turki. Tanpa melukis, hanya dengan membersihkan dan mengkilapkan dinding, bayangan lukisan seniman Cina menunjukkan kepiawaian para seniman Turki.

Cerita itu terdapat dalam buku Ratapan Kerinduan Rumi, yang ditulis oleh Osman Nuri Toplas. Salah satu karya yang menafsirkan puisi-puisi Rumi. Alegori yang digunakan begitu sufistik. Membimbing manusia supaya dapat menerima cahaya ilahiyah.

Bukankah keadaan manusia juga seperti tembok tempat melukis para pelukis Turki itu? Kerjanya memantulakan apa mendatangi diri kita, layaknya sebuah cermin.

Kemampuan manusia yang paling awal adalah menyerap dan meniru. Kala bayi, kita belum bisa berbicara. Lalu kita menirukan suara yang ada di sekitar dan belajar berkata. Terus seperti itu, sampai pada akhirnya mampu menciptakan inovasi sendiri. Dalam bahasa sosiologi, manusia dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan tempatnya mengada.

Ya, dalam posisi itu manusia diposisikan sebagai objek. Dia jadi yang diolah bukan yang mengolah. Dipengaruhi, bukan yang mempengaruhi.

Dalam konteks hubungan manusia dan Tuhan, tentu bukan menjadi soal. Masalahnya, kebanyakan dari kita adalah objek dari media sosial. Manivestasi manusia hari ini, adalah pantulan dari jagad maya. Pemahaman, tindak laku, bahasa, bahkan agama. Untuk soal terakhir, ini yang paling memilukan.

Media sosial adalah wahana bermain citra. Termasuk citra agama. Meski agama (dalam hal ini Islam) sebenarnya tidak satu wajah (baca: aliran), namun ada yang membingkainya ke arah sana. Seseorang yang tidak sesuai dengan pendapatnya dalam perdebatan di media sosial akan dicap kafir, dajjal, hisbuz syaithan, dll.

Nihil Sub Sole Novum (tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari). Kasus yanga terjadi hari ini, pernah saya alami sewaktu kecil. Saya hidup di desa yang masyarakatnya menganut dua paham keagamaan yang berbeda (NU-Muhammadiyah). Suasana bermasyarakat yang saya ingat, waktu itu orang beda aliran keagamaan seperti beda agama. Perbedaan pendapat masalah furuiyyah seolah menjadi deferensiasi keimanan. Pandangan itu menjadi dogma dan harus diikuti oleh anak-anak seperti saya. Dengan kata “pokok e Muhammadiyah salah, NU bener” begitu pula sebaliknya di lain pihak.

Kebekuan pemahaman seperti itu cair saat anak-anak tumbuh dewasa dan lebih mengenal banyak pandangan. Orang-orang NU di desa saya sudah biasa mengikuti salat Jumat di Masjid Muhammadiyah, dan orang Muhammadiyah juga mengikuti tahlihan jika diundang oleh masyarakat NU.

Pertanyaannya adalah, apakah diri (cermin) kita hari ini mau menerima objek yang lebih banyak? Atau, hanya berhenti pada satu klaim kebenaran absolut; Satu objek tunggal untuk dipantulkan.

Penulis: Sigit AF

Silent Walking, Rileksasi untuk Kembali Pada Inti Diri
Nur Muhammadku (Dipaksa) Dipadamkan
Tradisi Takjil di Lingkar Sosial
Kilas Balik Perlindungan Pers Mahasiswa
September Terakhir Yap Yun Hap, Korban Semanggi II
TAGGED:bahaya media sosialcerminmanusia cerminpaham keagamaanrataman kerinduan rumirumisaling tuduh kafir
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Kunci Sukses dengan 3T Ala KSK Wadas

Wiwid Saktia
2 Desember 2016
Tekun Berlatih Siang dan Malam Hantarkan Ganda Putra Fuhum Juara Tenis Meja
Ibu Jadi Motivasi Yudy Raih Gelar Wisudawan Terbaik FSH
Rekam Jejak 34 Tahun SKM Amanat
Husein Muhammad; Menafsirkan Al-Qur’an Tidak Bisa Hanya Secara Tekstual
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Manusia Cermin dan Keadaan yang Memilukan
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Manusia Cermin dan Keadaan yang Memilukan
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?