By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ketika Orang-Orang Perkotaan Terjangkit Penyakit Tifus”
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Ketika Orang-Orang Perkotaan Terjangkit Penyakit Tifus”

Last updated: 13 April 2017 9:43 am
Redaksi SKM Amanat
Published: 13 April 2017
Share
SHARE
Ilustrasi: Doc. Google

Sebuah kota tidak hanya merupakan permukiman khusus, tetapi merupakan suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kota menunjukkan perujwudan pribadinya masing-masing,” demikian menurut Arnold Tonybee.

Kota merupakan karya cipta manusia yang paling rumit dengan segala macam bentuk kegiatan masyarakat yang begitu kompleks, setelah mengalami interaksi dengan berbagai masyarakat yang struktur, kelas dan status sosialnya berbeda. Kota selalu identik dengan gedung-gedung yang relatif besar dan padat.

Satu hal yang sangat mencolok dari perkotaan dan masih saya kagumi hingga saat ini adalah, tiang-tiang lampu penerang jalan dan sebuah taman yang melingkar di jantung kota. Sinarnya tetap memberi ruang untuk memecah kegelapan. Oleh sebab itu, ketika seisi kepala mulai dipenuhi keriuhan-keriuhan yang membikin pusing, kepada taman dan lampu semacam itu saya seringkali menikmati keindahannya. Tapi ada beberapa hal yang sangat menjengkelkan dari gaya hidup orang-orang diperkotaan. Pertama, orang kota terbiasa menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup (hedonisme) sehingga mereka cenderung konsumtif. Kedua, mereka selalu berpikir bahwa kemajuan adalah sebuah tindakan baik, yang harus selalu digerakkan dengan semangat yang menggebu.

Hanya saja, dari dua contoh di atas, ada kesalahan yang sangat fundamental dengan adanya fenomena tersebut; kita tidak akan pernah berpikir bagaimana cara memproduksi, atau berpikir-ulang mengenai pemahaman tentang ide kemajuan, karena kita sudah merasa puas dengan pemahaman yang sekarang dan merasa berhak melakukan apa saja.

Kemajuan melulu diartikan sebagai deretan gedung-gedung mencakar langit, kampus-kampus beradu bayaran paling tinggi, tempat wisata eksotis dan banyak menghasilkan pundi-pundi uang, tiang-tiang lampu berdiri disepanjag jalan, atau cafe-cafe yang bersedia melayani 24 jam penuh, dan apa yang musti kita sebutkan? Banyak. Tapi ada berapa banyak orang yang sadar dari mana datangnya semua itu? Mari kita jeda sebentar, perlu kiranya kita melakukan perenungan kecil-kecilan sesaat. Sangat sedikit orang yang tahu bila; untuk membangun gedung kita perlu mengeruk gunung; untuk tempat duduk nyaman di cafe, berapa hektar hutan yang harus di tebang. Kita tidak pernah tahu, kerena itu semua dilakukan oleh orang lain, karena kita hanya cukup menukarnya dengan uang agar bisa menikmati.

Ibarat tupai, mereka sangatlah lihai melompat dari satu dahan ke dahan lain yang ada di depannya. Melewati sisi-sisi kotor dari kegiatan hedonisme dan konsumtif. Karenanya, mereka selalu melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri demi mendapatkan pembenaran baru untuk kebiasaan buruknya itu.  Tak ada bedanya seperti penguasa yang memakai jabatannya untuk melakukan kerja-kerja kotor. Sebab itulah banyak orang yang memilih tinggal di kota, dan tidak sedikit dari mereka terjangkit penyakit “tifus” (semacam penyakit yang cepat menular) akut. Kemudian efek dari penyakit yang dideritanya itu, mereka lebih suka merendahkan orang-orang disekitarnya karena berbeda gaya hidup dengannya. Dan bisa disimpulkan bahwa; semakin maju sebuah kota, semakin sakit pula (kejiwaan) manusianya. Sungguh mencemaskan, bukan?

Globalisasi, Teknologi dan Kapitalisme

Tak terbantahkan lagi, dalam perkembangan zaman yang sangat pesat, globalisasi dan kecanggihan teknologi berperan besar terhadap bergesernya pola hidup masyarakat di perkotaan, khususnya kota tempat sekarang saya tinggal, semarang. Hal ini terbukti dengan begitu mudahnya dapat kita jumpai tempat-tempat hiburan di kota ini, mulai dari diskotik, cafe, dan tempat-tempat wisata lainnya. Belum lagi kunjungan turis domistik dan manca negara yang  bebas keluar masuk. Hal inilah yang membawa arus pembauran budaya kita dengan budaya asing.

Paling terakhir, yang ingin dan musti saya salahkan adalah kapitalisme; sepertinya, ideologi warisan masa peralihan dari abad pertengahan ke abad modern di eropa (abad ke-14-ke-17) ini sudah mengalir deras dalam darah orang-orang di perkotaan. Mereka sepenuhnya melihat segala sesuatu dalam ukuran harga, dan ia selalu menularkan “penyakit” kepada manusia agar menjadi penanam modal. Sebab dalam sistem yang mereka imani, orang yang mengendalikan modal akan tetap bertahan, dan hidup berkelanjutan. Dan saya tidak tahu, sampai kapan harus menyaksikan orang-orang yang sebegitu mengerikan, dan cenderung hidup individual seperti itu.

Hasan Tarowan
Mahasiswa Jurusan Hukum Pidana Islam
UIN Walisongo Semarang

Kisah Bam dan Kebahagiaan Mutlak Altruisme
Tumpulnya Pemahaman Banyak Anak Banyak Rezeki
Terlalu Banyak Mengikuti Kegiatan, Apakah itu Toxic Productivity?
FoMo dan Ketakutan Kita Menghadapi Ketertinggalan Informasi
Perkara Sulitnya Menolak Pertolongan
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
push up olahraga ringan
KesehatanMilenial

5 Olahraga Ringan yang Bisa Dilakukan Hanya dalam 5 Menit

Kiki Yuli Rosita
14 Oktober 2022
Targetkan 1 Hari 1 Paragraf, Kunci Mila Raih Wisudawan Terbaik FISIP
Kepala Sub Umum FSH Keluhkan Perilaku Mahasiswa dan Dosen yang Kerap Lalai
UIN Walisongo Resmi Luluskan 1.095 Mahasiswa Pada Wisuda Februari 2025
Semua Seolah Dikotori Politisi, Termasuk Puisi
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ketika Orang-Orang Perkotaan Terjangkit Penyakit Tifus”
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ketika Orang-Orang Perkotaan Terjangkit Penyakit Tifus”
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?