By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ketika Diam Menjadi Mematikan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Ketika Diam Menjadi Mematikan

Last updated: 27 Juni 2022 4:45 pm
Lawinda Rahmawati
Published: 27 Juni 2022
Share
SHARE
Ilustrasi seseorang yang diam.
Ilustrasi seseorang yang diam dan memendam amarah. (Sumber: Pixabay)

Seringkali, orang yang diam adalah mereka yang disepelekan. Diam dianggap tidak tahu apa-apa. Bisa juga diangap terlalu takut untuk berbicara.

Akan tetapi, diam tak selamanya memiliki pemaknaan seperti itu. Terkadang, orang yang memilih diam adalah mereka yang memendam amarah. Ada alasan mengapa mereka memilih diam dan memendam amarah.

Dalam filosofi Jawa, terdapat buku yang berisi ramalan berupa perhitungan hari baik, buruk ataupun hari nahas yang disebut sebagai primbon. Buku itu menghimpun berbagai pengetahuan kejawaan. Juga berisi rumus-rumus ilmu gaib, sistem penghitungan hari kebaikan dan keburukan, hingga digunakan untuk keperluan lain.

Weton atau perhitungan hari lahir beserta pasaran (Legi, Pahing, Pon Wage, Kliwon) adalah patokan yang digunakan dalam kehidupan Jawa sebagai penanda karakter seseorang. Dalam kitab Primbon Betaljemur Adammakna menyebut terdapat karakter pendiam tapi mematikan, yaitu seseorang yang lebih memilih diam ketika dicela. Sebab, ia tahu ketika amarahnya lepas kendali, segala sesuatu di sekitarnya mengalami kerusakan lebih parah.

Yang dilakukan orang tersebut, dalam ilmu Psikologi disebut sebagai Silent Treatment. Medical News Today mendefinisikan Silent Treatment sebagai kondisi diamnya seseorang yang diakibatkan oleh perlakuan orang lain terhadap dirinya dalam jangka waktu yang lama.

Barangkali, Silent Treatment memang terdengar sepele. Namun, secara psikologis, orang yang menjadi korban Silent Treatment, lambat laun akan merasa hampa dan kosong. Ia mulai kehilangan tempat untuk berkomunikasi. Bahkan, secara tidak langsung telah mengalami apa yang disebut ahli Psikologi sebagai kekerasan emosional.

Lantas, apakah yang dilakukan oleh pelaku Silent Treatment itu salah? Tentu tidak tepat kiranya menilai salah atau benar karena melakukan Silent Treatment adalah pilihan individu. Dan setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi masing-masing.

Mendiamkan orang adalah cara terbaik bagi mereka dibanding meluapkan emosi yang justru bisa merusak hubungan pertemanan. Meski begitu, ia bukanlah orang pendendam. Ada kalanya sesuatu yang selama ini dipendam akan diutarakan di kemudian hari. Hanya perlu menunggu waktu yang tepat.

Sekali lagi, jangan remehkan orang pendiam!

Penulis: Lawinda Rahmawati

Perlunya Edukasi Sampah Sejak Dini
Makan Junk Food Sama Dengan Makan Sampah?
Toxic Parenting dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental Anak
Virus Corona Menghantui, Kemanusiaan Masyarakat Diuji
Saat Celetukan Ringan di Media Sosial Menjadi Perdebatan Panjang
TAGGED:Artikel psikologiKontrol emosiSilent treatment
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Pentas "Mesin Jemaat", Teater Beta UIN Walisongo
UIN WalisongoVaria Kampus

Pentas “Mesin Jemaat” Teater Beta UIN Walisongo; Konspirasi Agama untuk Politik 

Fitri Arifah
17 Juni 2023
Mengenalkan Organisasi Daerah Lewat Parade Budaya PBAK 2019
Berkat Unggahan 5.712 Video Moderasi Beragama, UIN Walisongo Pecahkan Rekor MURI
Ini Atraksi Menwa yang Menghebohkan Mahasiswa Baru
LP2M Tetapkan Dua Kabupaten untuk Lokasi KKN Reguler ke-73 UIN Walisongo
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ketika Diam Menjadi Mematikan
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ketika Diam Menjadi Mematikan
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?