By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ironi Pelecehan Seksual di Lingkungan Pelajar
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Sumber ilustrasi: Net
Artikel

Ironi Pelecehan Seksual di Lingkungan Pelajar

Last updated: 31 Maret 2020 12:12 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 31 Maret 2020
Share
SHARE
Sumber ilustrasi: Net

Pelecehan seksual yang terjadi bulan lalu membuat mata dan hati nurani kita dibuat terheran dengan viralnya video terhadap seorang siswi. Peristiwa tersebut terlihat dari video yang beredar terjadi dalam ruang kelas, salah satu SMK di Sulawesi Utara.

Seolah kejadian tersebut menjadi pukulan bagi dunia pendidikan kita. Sebab diketahui pula bahwa pelakunya juga seorang pelajar tidak lain adalah temannya sendiri. Pelaku berjumlah lima orang, tiga siswa dan dua siswi.

Ironi dan tak manusiawi, mungkin kata yang cocok untuk menilai kejadian itu. Sebab sebuah perilaku pelecehan seksual, meski dengan dalih apapun tidak bisa dibenarkan adanya.

KPAI menunjukkan bahwa pada tahun 2019 terdapat 21 kasus kekerasan seksual yang terjadi, di sekolah. Dengan rincian 13 kasus atau sebanyak 62 persen terjadi di jenjang SD, 5 kasus atau 24 persen di jenjang SMP/sederajat dan 3 kasus atau 14 persen di jenjang SMA.

Dari data tersebut kiranya tergambar, di lingkungan pendidikan formal masih rentan terjadi kekerasan atau pelecehan seksual. Yang kemudian menjadi lampu kuning bagi dunia pendidikan. Sebab tidak lain mereka (pelajar) adalah penerus bangsa ini. Memprihatinkan ketika pelajar harus jadi korban atau bahkan pelaku dalam kekerasan seksual.

Pekerjaan rumah pun dibebankan kepada mereka yang pihak yang mempunyai wewenang dalam ruang pendidikan. Sebab jika hal yang demikian dianggap wajar dan cenderung diabaikan maka hal yang sama akan terulang kembali di tahun-tahun berikutnya. Dengan membawa dampak baru yakni masyarakat kurang percaya lagi pada dunia pendidikan.

Pendidikan Seks

Dari beberapa kasus seksualitas yang menyeret dunia pendidikan tersebut, kiranya ada beberapa faktor yang jadi penyebabnya. Diantaranya kurangnya edukasi seks pada dunia pendidikan, minimnya kontrol dari pihak sekolah terkait perilaku menyimpang anak didiknya.

Tak hanya lingkungan pendidikan (sekolah), tetapi faktor lingkungan keluarga, pergaulan dan lainnya. Di tambah lagi dengan perkembangan teknologi yang masif. Seperti adanya akses internet pada medium gawai, di mana sang pengguna dapat melakukan akses apapun dengan fasilitas tersebut.

Bahkan merangsang sikap ketergantungan terhadap gawai pada penggunanya. Kiranya ungkapan ini sesuai dengan hal itu, “Dilahirkan manusia, tapi diasuh oleh gawai”. Ketika kembali pada seksualitas pada pelajar, tentu ungkapan itu cukup masuk. Misalnya jika dijabarkan kembali dengan menggunakan analogi yang sama. Kiranya akan seperti ini, “Jika pendidikan seks tidak pernah diberikan baik di sekolah ataupun keluarga, mereka akan mencari sendiri dengan gawai miliknya”.

Maka dengan analogi tersebut, sudah sepatutnya memang pendidikan seks bisa diberikan. Bisa melalui lingkungan terdekat yakni keluarga. Dengan memposisikan anak sebagai teman bicara, kemudian diselipkan pemahaman tentang seksualitas. Begitupun dalam dunia pendidikan formal, pihak sekolah kiranya harus dapat mengedukasi dan mengawasi sikap anak didiknya, supaya tidak terjerumus pada penyimpangan perilaku seksual.

Meski terkadang tatkala membahas seksualitas cenderung dianggap tabu. Tapi bukankah lebih tabu lagi, jika tak ada upaya untuk menumbuhkan sebuah pemahaman yang baik, dalam menyikapi sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas.

Penulis: Rudy Darmawan

6 Rekomendasi Model Sepatu Bagi Mahasiswa
Kematian
Sukses Bukan dari Lulusan Mana, Tapi Bagaimana Proses Hidupnya
Self-efficacy; Mencapai Keberhasilan dengan Keyakinan Diri
Tagar Indonesia Terserah dan Refleksi Kesadaran Diri
TAGGED:Kpaipelecehanpelecehan pelajarPelecehan seksual
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Tarian Daerah Khas Semarang Warnai Upacara Pembukaan Harlah PMI

Naili Istiqomah
4 Desember 2017
Bahaya Sikap Prejudice dalam Kehidupan Sehari-hari
KKN UIN Walisongo dan Universitas Ngudi Waluyo Meriahkan Acara HUT RI Desa Rejosari
Meskipun Mengidap Tunanetra Low Vision, Risa jadi Wisudawan Terbaik FITK
4 Sumber Makanan Wajib Saat Puasa
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ironi Pelecehan Seksual di Lingkungan Pelajar
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ironi Pelecehan Seksual di Lingkungan Pelajar
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?