By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Interpretasi NU dan Muhammadiyah dalam Sebuah Roman
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Buku Kambing dan Hujan (Dokumen Amanat)
Buku

Interpretasi NU dan Muhammadiyah dalam Sebuah Roman

Last updated: 23 Februari 2019 12:41 pm
Rima Dian Pramesti
Published: 23 Februari 2019
Share
SHARE
Buku Kambing dan Hujan (Dokumen Amanat)

Kambing dan Hujan. Dari judulnya, mungkin pembaca akan menyangka jika buku ini merupakan buku humor, lantaran mirip dengan dengan salah satu buku karya Raditya Dhika Kambing Jantan. Namun, setelah membuka lembar demi lembar, pembaca akan sadar, pembahasan tidak sebercanda itu.

Buku ini merupakan karya sastra Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2014. Mahfud Ikhwan, penulis buku ini, secara apik menarasikan peliknya pertentangan dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yaitu Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dalam sebuah cerita roman.

Buku ini bercerita mengenai kisah cinta Mif dan Fauzia. Mif tumbuh dalam tradisi islam modern sedangkan Fauzia tumbuh dalam dalam tradisi islam tradisional, mereka berdua sama-sama anak tokoh pendiri NU dan Muhammadiyah di desa bernama Tegal Centong.

Fauzia dan Mif bertemu pertama kali di dalam bus menuju Surabaya. Meski masih satu desa, mereka tidak saling mengenal. Fauzia kuliah di Surabaya, dan Mif baru saja menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta. Singkat cerita, mereka saling mencintai dan memutuskan untuk menikah. Dari sinilah, perjalanan cinta yang panjang karena melibatkan banyak pihak serta bersinggungan dengan aspek kultural maupun keagamaan di masyarakat.

Alur cerita yang dipakai dalam buku ini campuran, sehingga latar waktu digambarkan pada tahun 60-an, saat sedang hebohnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia, hingga 90-an.

Yang menarik dalam kisah ini adalah cerita panjang persahabatan masa kecil, Iskandar (ayah Mif) dan Fauzan (ayah Fauzia), perbedaan guru dan cara mereka berkembang membuat keduanya terpisah. Lewat surat-surat kuno milik ayahnya, Fauzia dan Mif menemukan sekelumit rahasia yang pernah terjadi diantara kedua orang tuanya.
Perseteruan antara Mif dan Fuad (Kakak laki-laki Fauzia) membuat kisah cinta mereka berdua makin sulit. Karenanya, rencana gila seperti kawin lari sempat melintas di benak mereka.

Tidak hanya soal cinta, buku ini bercerita sejarah berdirinya dua masjid di Desa Centong, yaitu masjid utara yang pembaharu dan masjid selatan yang tradisionalis. Perdebatan mengenai persoalan ubudiyah sudah pasti terjadi.

Narasi panjang tersebut disajikan dengan sangat renyah. Penulis berhasil menyajikan jalan kisah cinta yang rumit.

Kisah perjuangan antara dua insan yang tidak hanya terbentur karena perbedaan pemahaman keagamaan tetapi juga tentang sejarah panjang dan luka hati yang tersimpan puluhan tahun antara kedua orang tuanya. Rumitnya lika-liku perbedaan tradisi yang ada di masyarakat saat ini, terutama mengenai perbedaan paham keagamaan yang belakangan menjadi permasalahan.

Penulis mengajak pembaca untuk menyikapi suatu hal, bahwa perbedaan itu tidak membuat yang satu benar,kemudian yang lain menjadi salah. Kambing dan Hujan, merupkan dua hal yang mustahil untuk dipertemukan.Kisah yang mengajakkita menyerapi lagi arti Bhineka Tunggal Ika yang belakangan ini mulai pudar. Karena perbedaan harus disikapi secara dewasa.

Judul Buku: Kambing dan Hujan, Sebuah Roman
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Terbit: 2015
Tebal: vi + 374
Resentator: Rima Dian Pramesti

[Resensi Buku] Kerinduan para Burung Camar untuk Pulang
Cerita Dari Orang-Orang Yang Menggugat
Mereguk Sepi dalam Secangkir Kopi
[Resensi Buku] Manfaat Berdebat Dengan Orang Goblok
3 Buku Recomended yang Bisa Menemani Kamu Saat Libur Panjang
TAGGED:buku kambing dan hujanmahfud ikhwannu dan muhammadiyahresensi buku
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Mahasiswa Tunanetra, Mahasiswa UIN Walisongo, Muhammad Amin Hambali, Keterbatasan
Sosok

Tekad Kuat Belajar di Tengah Keterbatasan

Redaksi SKM Amanat
25 Januari 2024
Darurat Corona, UIN Walisongo Terapkan Aturan Baru Aktivitas Mahasiswa
Konsumerisme Gaya Baru Mahasiswa, Selamat Jalan Aktivis
Mengambil Peran di Tengah Masifnya Kerusakan Lingkungan
LTMPT Umumkan Hasil SBMPTN 2019, Cek Linknya Disini
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Interpretasi NU dan Muhammadiyah dalam Sebuah Roman
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Interpretasi NU dan Muhammadiyah dalam Sebuah Roman
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?