By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Bukan Pasarmalam; Potret Pejuang yang Dilupakan oleh Masyarakat dan Sejarah
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Bukan Pasarmalam Pramoedya Ananta Toer
Foto buku Bukan Pasarmalam di antara buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang lain. (Amanat/Rizkyana).
Buku

Bukan Pasarmalam; Potret Pejuang yang Dilupakan oleh Masyarakat dan Sejarah

Last updated: 29 September 2022 5:37 pm
Rizkyana Maghfiroh
Published: 29 September 2022
Share
SHARE
Bukan Pasarmalam Pramoedya Ananta Toer
Foto buku Bukan Pasarmalam di antara buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang lain. (Amanat/Rizkyana).

Siapa yang tak mengenal Pramoedya Ananta Toer? Sastrawan Indonesia yang sukses menyabet belasan penghargaan bertaraf internasional. Bersamaan dengan jalan kehidupan yang separuhnya dilalui dari satu penjara ke penjara lain, Pramoedya telah melahirkan karya-karya bernuansa perjuangan dan kemanusiaan.

Salah satunya buku Bukan Pasarmalam, yang pernah dilarang pada 30 November 1965 dan sekaligus pernah dialihbahasakan dalam beberapa bahasa asing: It’s not An All Night Fair (bahasa Inggris), Mensch Für Mensch (bahasa Jerman), La Vie N’Est Pas Une Foire Noctume (bahasa Perancis), dan Een Konde Kermis (bahasa Belanda).

Bukan Pasarmalam berkisah tentang seorang eks-veteran asal Blora yang tengah menunggu ajal bersama penyakit TBC yang menggerogoti paru-parunya. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengabdi; memperjuangkan kemerdekaan dan menjadi tenaga pendidik yang membukakan jalan bagi ratusan hingga ribuan putra-putri bangsa.

Dulu ia mengajar. Dan telah beribu-ribu murid dibukakan jalannya. Dulu ia giat memperjuangkan tercapainya kemerdekaan bangsanya: selama tigapuluh tahun. Dan kini, belum lagi setahun kemerdekaan tercapai, ia sudah tak digunakan lagi oleh sejarah, oleh dunia, dan oleh manusia. Dan seperti kami juga, dulu ia pun pernah mengalami ketakutan, kesengsaraan, kesenangan, dan segala perasaan lain yang ada dalam tubuh manusia. Tapi semua itu kini sudah mati baginya. [99]

Namun, nasib nahas justru menimpanya. Ia harus menelan kecewa karena situasi pasca kemerdekaan yang ia sebut ‘bobrok’. Para gerilyawan yang dahulu berjuang bersamanya, kini hanya sibuk berebut kursi menjadi petinggi negeri. Kekecewaan itu pula yang mengantarnya pada brankar rumah sakit. Agaknya, benarlah ungkapan bahwa penyakit yang datangnya dari pikiran lebih menyengsarakan dibanding penyakit medis.

“… Ayah Tuan jatuh sakit oleh kekecewaan—kecewa oleh keadaan yang terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. Rasa-rasanya tak sanggup lagi ia melihat dunia kelilingnya yang jadi bobrok itu—bobrok dengan segala akibatnya. … kala kemerdekaan telah tercapai, mereka itu sama berebutan gedung dan kursi. … Segala kekecewaannya itu direndamnya saja di dalam hatinya. Tapi akibat yang sangat besar tak diduganya akan menimpa dirinya.” [102]

*

Roman yang terbagi menjadi 16 bab ini cukup ‘ringan’ dibanding karya Pramoedya lainnya, seperti tetralogi Buru dan Arok Dedes. Namun, konflik yang sederhana  tersebut justru menjadikan alur Bukan Pasarmalam terkesan lambat dan bertele-tele.

Tiap babnya cukup singkat dan hanya berputar pada brankar rumah sakit, tokoh utama yang selalu meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja meski hati dirundung kecewa, anak-anak yang  meratap, dan rasa bersalah anak sulungnya yang pernah memaki sang ayah beberapa waktu silam.

Selain membahas tentang konflik keluarga—yang sebenarnya sederhana, tetapi menjadi pelik karena dicampuri perasaan dan hubungan darah; Bukan Pasarmalam juga membahas mengenai kepastian kematian, kefanaan hidup, demokrasi dan nasionalisme, ketamakan politikus, kemanusiaan, serta sedikit menyinggung nasib guru yang tersisihkan.

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang… seperti dunia pasarmalam… Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana….” [104]

Gaya bahasa yang digunakan terbilang ringan dan mudah dipahami. Narasi pada tiap paragrafnya tidak begitu panjang, tapi maksud penulis tetap tersampaikan. Di sisi lain, penyebutan identitas tokoh juga tidak konsisten. Seperti saat si anak sulung yang memanggil tokoh utama dengan sebutan “ayah” dan “bapak” di lain halaman. Juga memanggil ibunya sebagai “ibu” dan “bunda”.

Kendati tidak ada satu nama tokoh pun yang disebut dalam Bukan Pasarmalam, karakter tokoh digambarkan dengan apik. Sederhana, tetapi konsisten dan realistis. Ayah yang selalu tegar—meski seringkali cenderung sok kuat—serta mengajarkan kebajikan dan harapan realistis pada anak-anaknya.

Anak sulung yang merasa bertanggung jawab atas kehidupan adik-adiknya. Anak-anak yang rela meninggalkan pekerjaan demi menunggui sang ayah di hari-hari terakhirnya. Bahkan karakter tetangga yang beragam; ada yang memang peduli, ada pula yang sok tahu memberi saran tanpa diminta. Ada yang fokus pada kebaikan seseorang, ada pula yang telanjur terhasut dengki dan melupakan jasa-jasanya.

Bukan Pasarmalam dapat menjadi rekomendasi untuk penyegar daftar bacaan dan kembali menumbuhkan jiwa sosial dan kemanusiaan. Melalui Bukan Pasarmalam, Pramoedya mengajak pembacanya meraba kehidupan pasca kemerdekaan yang carut-marut. Dengan berlatar pedesaan dan menyinggung sisi kehidupan yang masih relate hingga era modern sekarang ini.


Identitas Buku:

Judul: Bukan Pasarmalam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun Terbit: Oktober 2010 (cetakan ke-9)
ISBN: 979-97312-12-6
Ukuran: 106 hlm.; 13 × 20 cm
Resentator: Rizkyana Maghfiroh

Cerita Dari Orang-Orang Yang Menggugat
Agama Teknologi: Antara Hasrat, Moral, dan Spiritual dalam Cyberspace
3 Buku Recomended yang Bisa Menemani Kamu Saat Libur Panjang
[Resensi Buku] Imajinasi Tak Selalu Lebih Indah dari Realita
Interpretasi NU dan Muhammadiyah dalam Sebuah Roman
TAGGED:Bukan Pasarmalampramoedya ananta toerresensi bukuResensi buku pramoedyaRoman sejarah
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Perangkat Desa Ngadirgo, ketua tim pengabdian Prodi PMI, dan ketua komunitas dalam acara peresmian komunitas "Omah Bambu". Selasa, (02/08/2022). (Amanat/Iklima)
UIN Walisongo

Berdayakan Masyarakat Ngadirgo, Prodi PMI Resmikan Komunitas “Omah Bambu”

Redaksi SKM Amanat
2 Agustus 2022
Menghapus Cita-cita Kemajuan
Cegah Stunting, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Adakan Kelas Ibu Balita
Zulkifli Hasan: Mahasiswa UIN Walisongo Harus Sumbang Gagasan untuk Kemajuan Indonesia
Muhammad Saifullah: FEBI dan PBAS Berselawat sebagai Rasa Syukur atas Segala Pencapaian
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Bukan Pasarmalam; Potret Pejuang yang Dilupakan oleh Masyarakat dan Sejarah
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Bukan Pasarmalam; Potret Pejuang yang Dilupakan oleh Masyarakat dan Sejarah
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?