By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Black Death, Pemusnah Manusia di Masa Lalu
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
black death pandemic
Sumber Ilustrasi: Historic UK
Artikel

Black Death, Pemusnah Manusia di Masa Lalu

Last updated: 25 Maret 2020 10:15 am
Shokhiful Fikri
Published: 25 Maret 2020
Share
SHARE

 

black death pandemic
Sumber Ilustrasi: Historic UK

Jauh sebelum kita mengenal Covid-19 atau Virus Corona, dunia khususnya Eropa pernah dilanda pandemic penyakit yang luar biasa mematikan pada pertengahan abad 14. Bahkan Covid-19 masih kalah mengerikan daripada penyakit satu ini. Karena saat itu perkembangan dunia kedokteran masih belum maju seperti saat ini, penyakit ini tidak bisa dibendung penyebarannya dan hampir tidak bisa diobati.

Penyakit ini dinamakan Black Death karena pada penderitanya terdapat benjolan hitam yang berasal dari pembengakakan darah. Benjolan ini ada yang seukuran telur hingga sebesar buah apel. Penderitanya akan merasakan sakit yang luar biasa, dan jika tidak ditangani selama jangka waktu seminggu, maka penderitanya sangat besar kemungkinannya untuk mati.

Angka kematian Black Death ini di antara 75-200 juta jiwa atau sepertiga hingga dua pertiga populasi punduduk eropa. Angka itu lebih besar daripada korban perang terbesar sepanjang sejarah yaitu PD II yang korbannya hanya sekitar 62 juta jiwa. Oleh karenanya, benua Eropa menjadi daratan paling menyedihkan pada jamannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa benua Eropa seperti tanah tak bertuan karena ditinggal mati penduduknya.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama Yersinia Pestis yang dibawa oleh lalat dan kemudian disebarkan oleh tikus. Buruknya saluran sanitasi menjadi penyebab utama mudahnya penyebaran penyakit ini.

Cara penanganannya saat itu pun juga terbilang aneh. Dokter akan memberikan topeng khusus yang memiliki moncong dihidung yang berbentuk semacam paruh burung untuk mencegah penyebarannya. Fungsi moncong pada topeng itu adalah untuk menaruh lavender untuk bebauan. Pastinya hal semacam itu tidaklah berfungsi untuk mengatasi Black Death.

Maklum, pada saat itu daratan yang kini dijuluki Benua biru tersebut, masih mengalami masa kegelapan. Sarana dan prasarana disana masih tertinggal jauh dari negara-negara lain. sama halnya dengan perkembangan ilmu dan teknolgi kedokteran, Benua Eropa tidak bisa melakukan lebih selain berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi Black Death.

Sebenarnya, penyakit ini tidak hanya mewabah di benua eropa, akan tetapi hampir di seluruh dunia juga mengalaminya. Black Death ini tersebar sampai Afrika, Asia, dan bahkan hingga kawasan asia tenggara termasuk Indonesia. Mesir bahkan kehilangan hingga 40 persen dari penduduknya karena dampak penyakit ini.

Walaupun status pandeminya hanya berlangsung sekitar 4 tahun, akan tetapi Black Death ini masih menjadi penyakit yang mematikan sampai sekarang. Pada akhir tahun 2019 sebelum merebaknya Virus corona, China mencatatkan dua kasus pandemi tersebut.

Penulis: Muhamad Shokhiful Fikri

Agus Sulistiyono Bagikan Kunci Jadi Mahasiswa Berprestasi
Mahasiswa dan Penyewa Oultet Keluhkan Banyaknya Fasilitas Rusak di Kantin Kampus 3
Baca ini Sebelum Cintamu Menjadi Sampah di Hidupmu [Bagian 2]
Semarak Harlah KSK Wadas ke-45 dengan Berbagai Penampilan Seni dan Drama
Nizar Ali Sambut Maba UIN Walisongo, Tekankan Pentingnya Adaptasi di Lingkungan Kuliah
TAGGED:black deathCovid-19uin walisongowabah dunia
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
uin walisongo, pembayaran ukt, informasi ukt, perpanjangan ukt, ukt uin walisongo
UIN WalisongoVaria Kampus

1 Hari Lagi! UIN Walisongo Perpanjang Batas Bayar UKT hingga 10 Agustus

Redaksi SKM Amanat
9 Agustus 2025
Gus Muh Ceritakan Sejarah Koran Indonesia Zaman Dahulu
Krusak Krusuk
Merintis Bisnis Sejak SMA Hingga Dapatkan Rp 15 Juta Dari Kemenpora RI
Pertama Datang ke UIN Walisongo Bersholawat, Yan Lucky Apresiasi Antusiasme Jamaah
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Black Death, Pemusnah Manusia di Masa Lalu
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Black Death, Pemusnah Manusia di Masa Lalu
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?