By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Akhir Kisah Penggusuran Tambakrejo Dalam Pentas Siput dan Rumahnya
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Features

Akhir Kisah Penggusuran Tambakrejo Dalam Pentas Siput dan Rumahnya

Last updated: 27 Desember 2019 12:24 pm
Nafiatul Ulum
Published: 26 Desember 2019
Share
SHARE
Pementasan Tetater “Siput dan Rumahnya” oleh KSK Wadas di Auditorium I UIN Walisongo, Selasa (23/12/2019) (Amanat/Rima).

Di sebuah perkampungan, tepatnya di bawah jembatan kota, para warga sedang melakukan aktivitasya di depan rumah. Siput sedang memperbaiki jaringnya yang rusak. Sedang Jono santai di depan rumah sambil bermain ukulele. Topan baru selesai dari kerjanya sebagai supir, sedangkan Lek Pardi asyik dipijat oleh Sumi istrinya.

Begitulah awal kisah pementasan teater berjudul “Siput dan Rumahnya” oleh Komunitas Seni Kampus Wahana Aspirasi Dakwah dan Seni (KSK Wadas) yang diselenggarakan di Auditorium I Kampus 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Selasa (23/12/2019).

Mengangkat tema kemanusiaan, naskah garapan Pepih Nurlelis ini disutradarai oleh Usma Amaliyach atau yang akrab disapa Tayo. Ratusan penonton yang hadir berasal dari komunitas teater dari Kudus, Semarang, dan Salatiga, alumni KSK Wadas, hingga mahasiswa umum pun hadir dan menyaksikan pementasan yang diselenggarakan dalam rangka studi pentas, perdana warga baru 2019.

“Astaga, monyet ngangkrem!” ucap Siput. Mereka sangat terkejut melihat segerombolan satpol PP datang mengepung, sehingga mereka berhenti melakukan aktivitasnya.

Sorot lampu yang mulanya terang tiba-tiba mati, suara rumah-rumah roboh serta atap yang berjatuhan memenuhi satu ruangan. Rintihan ibu-ibu menangis dan suara langkah kaki petugas yang membongkar paksa rumah membuat suasana makin pilu.

Satu menit kemudian, sorot lampu menyala, setting telah berubah. Tinggalah puing-puing rumah yang berantakan. Penggusuran telah terjadi, warga terluka, bukan cuma badannya, tapi juga hatinya. Bahkan Lek Pardi mulai gila, menghadapi kenyataan rumahnya yang telah digusur dan tidak memiliki apa-apa lagi.

Pementasan Tetater “Siput dan Rumahnya” oleh KSK Wadas di Auditorium I UIN Walisongo, Selasa (23/12/2019) (Amanat/Rima).

Ki Demang sebagai petinggi desa menyarankan warganya agar mau berpindah ke rumah susun.

“Andai saja kalian mengikuti perintah saya dari awal, penggusuran ini tak akan terjadi,” ucap Ki Demang.

Siput bersikokoh tidak mau meninggalkan rumahnya karena rumah tersebut telah dihuninya selama belasan tahun dan telah menemaninya dalam suka maupun duka.

Jono, Kang Topan, dan beberapa warga mulanya sama seperti Siput, memilih menetap dan mengumpulkan puing-puing rumahnya yang telah hancur. Namun itu semua sia-sia. Mereka akhirnya mau mengikuti pemerintah untuk tinggal di rumah susun.

“Tinggalah kamu disini hingga menjadi bangkai.” kata Topan kepada Siput.

Pada akhir pementasan, Siput akhirnya benar-benar sendiri karena ditinggal semua warga. Seperti Tambakrejo yang akhirnya ditinggalkan penghuninya berpindah ke rusun di daerah Kalimati.

Dalam pentas tersebut dikisahkan bahwa penggusuran dilakukan pemerintah karena ingin menyelamatkan warganya dari dampak yang terjadi karena banjir, meskipun dampak tersebut belum melanda daerah yang dihuni Siput dan tetangga-tengganya tersebut.

Saat bincang naskah usai pentas, Tayo mengaku mengambil tema kemanusiaan karena melihat polemik penggusuran di Tambakrejo Semarang pada bulan Mei lalu.

“Terinspirasi dari penggusuran Tambakrejo yang sampai sekarang belum selesai, dan melihat ada beberapa warganya yang sampai sekarang masih memilih untuk tidak meninggalkan rumahnya,” ucap Tayo.

Pentas teater garapan KSK Wadas tersebut digarap dalam waktu satu bulan, meskipun digarap dalam waktu singkat, pentas tersebut telah berhasil membuat penonton melek sejak awal pementasan hingga akhir pementasan.

“Kami tidak memihak pada pemerintah maupun warga, kami hanya memperlihatkan sisi kemanusiaan pada korban saat mengalami penggusuran,” tandas Tayo.

Reporter: Nafiatul Ulum
Editor: Rima Dian P

Kepala PPM UIN Walisongo Himbau Mahasiswa Harus Bangun Integritas
Humor Gus Miftah: PSK lebih Mahal dari DPR
Bahas Isu Media Sosial, KSK Wadas Adakan Studi Pentas Bertajuk ‘Pada Suatu Hari’
Gulai Legenda di Pojok Kota Lama
Ketika Sawah Disulap Jadi Destinasi Wisata
TAGGED:ksk wadaspementasan siput dan rumahnya ksk wadaspenggusuran tambakrejoteater ksk wadas
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Ahmad Nuryanto, Investor Gathering
UIN WalisongoVaria Kampus

Ahmad Nuryanto Ungkap Tips Agar Bisa Berinvestasi di Saat Resesi

Redaksi SKM Amanat
13 Maret 2023
Nizar Ali Sambut Maba UIN Walisongo, Tekankan Pentingnya Adaptasi di Lingkungan Kuliah
Founder Brociz Entertainment Ivan Valentinus Jelaskan Tahapan Produksi Film di COMFEST KPI
Lorong Wisata Kuliner Semawis, Surganya Penikmat Jajanan
Ahmad Luthfi Beberkan Kunci Melamar Kerja bagi Fresh Graduate
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Akhir Kisah Penggusuran Tambakrejo Dalam Pentas Siput dan Rumahnya
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Akhir Kisah Penggusuran Tambakrejo Dalam Pentas Siput dan Rumahnya
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?